Pengikut

Sabtu, 03 April 2010

Presentasi Kasus Primigravida dgn Presbo+KPD+SC


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian maternal di Indonesia masih tinggi, data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa angka kematian ibu melahirkan mencapai 307 per-100.000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian ibu dan bayi salah satunya diakibatkan oleh adanya komplikasi dalam kehamilan. Makalah ini berisi ringkasan perjalanan klinis pasien dengan komplikasi pada kehamilan berupa kelainan presentasi dan ketuban pecah dini.
Presentasi janin adalah bagian tubuh janin terendah yang menghadap ke vagina sedangkan posisi janin adalah arah yang dihadapi oleh janin di dalam rahim. Presentasi dan posisi normal adalah janin menghadap ke punggung ibu dengan presentasi belakang kepala, dimana leher tertekuk ke depan, dagu menempel di dada dan kedua lengan melipat di dada. Jika janin tidak berada dalam posisi atau presentasi tersebut, maka terdapat penyulit dalam persalinan.
Kematian perinatal langsung yang disebabkan karena persalinan presentasi bokong sebesar 4-5 kali dibanding presentasi kepala. Sebab kematian perinatal pada persalinan presentasi bokong yang terpenting adalah prematuritas dan penanganan persalinan yang kurang sempurna, dengan akibat hipoksia atau perdarahan di dalam tengkorak. Trauma lahir pada presentasi bokong banyak dihubungkan dengan usaha untuk mempercepat persalinan dengan tindakan-tindakan untuk mengatasi macetnya persalinan.
Deteksi dini terhadap kemungkinan kemungkinan adanya komplikasi persalinan penting dilakukan. Hal ini ditujukan agar ibu dapat didiagnosis lebih awal dan mendapatkan penanganan semestinya sehingga angka kesakitan dan kematian ibu serta kematian perinatal dapat diturunkan.



B. Tujuan Penulisan
1. Mampu menganalisa kasus kehamilan dan persalinan serta menentukan ada tidaknya komplikasi kelainan presentasi dan oligohidramnion sehingga diharapkan mampu mendiagnosis secara dini baik gejala atau tanda yang ada pada pasien.
2. Mampu mengetahui bagaimana managemen pada kehamilan dan persalinan dengan kelainan presentasi dan oligohidramnion.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. PRESENTASI BOKONG
A. Definisi :
Presentasi bokong merupakan keadaan dimana janin terpresentasi memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.1,2

B. Epidemologi :
Kejadian persentasi bokong ditemukan sekiar 3-4% dari seluruh persalianan tunggal. Beberapa peneliti lain seperti Greenhill melaporkan kejadian persalianan persentasi bokong sebanyak 4-4,5%. Sedangkan data di Indonesia, Agoestina (1997) di RS Hasan Sadikin Bnadung menemukan 16,6%, Utoro (1980) di RSCM menemukan 18,24%. Siswosudarmo (1985) di RSUP Sardjito menemukan 16,79%; Sumariyadi (1988) di RSUP Sardjito dari tahun 982-1986 menemukan 8,46%. Indri HS menemukan 16,0%, sedangkan Sutrisno (1994) di RSUP Sardjito menemukan 11,9%.3,4

C. Etiologi
Presentasi janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan di dalam uterus. 1
1. Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air ketuban masih banyak dan kepala anak relatif besar.
2. Hydramnion karena anak mudah bergerak.
3. Plasenta Previa karena menghalangi turunnya kepada ke dalam pintu atas panggul.
4. Panggul sempit, dimana tidak ada fiksasi kepala anak oleh pintu atas panggul, jadi perbandingan antara besarnya kepala anak dan luasnya pintu atas panggul tidak seperti biasa.
5. Kelainan bentuk kepala : hydrocephalus, anencephalus, karena kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.
6. Kelainan uterus, seperti uterus arkuatus, bikornis, mioma uteri.
7. Pergerakan anak kurang atau tidak ada sama sekali, umpanya pada anak mati.
8. Gemelli (kehamilan ganda).
9. Sebab yang tidak diketahui.

D. Klasifikasi
1. Presentasi bokong (Frank Breech)
Presentasi bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas yang disebabkan karena ekstensi lutut. Ujung kaki dapat mencapai bahu atau kepala janin.
2. Presentasi bokong sempurna (Complete Breech)
Presentasi bokong di mana kedua kaki dan di samping bokong (presentasi bokong kaki sempurna (lipat kejang).
3. Presentasi bokong tidak sempurna (Incomplete Breech)
Ada presentasi sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut terdiri dari. 1,5

E. Diagnosis
A. Periksa luar
1. Palpasi
Di bagian bawah uterus tidak dapat diraba bagian yang keras dan bulat, yakni kepala, dan kepala teraba di fundus uteri. Bagian bawah bokong, dan punggung di kiri atau kanan. 6
2. Auskultasi
Denyut jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi daripada umbilikus. 5


B. Periksa dalam
Untuk mengetahui bokong dengan pasti, kita harus meraba os sacrum, tuber ossis ischii, anus. 6
C. Pemeriksaan dengan ultrasonografik
Apabila masih ada keraguan harus dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik atau MRI (Magnetic Resonance Imaging).6

F. Penanganan
Sikap sewaktu hamil
1. Usahakan merubah presentasi janin dengan versi luar
Tujuannya untuk merubah presentasi menjadi presentasi kepala. Pada primi pada saat umur kehamilan 34 minggu dan pada multiparitas umur kehamilan 36 minggu. Versi luar dilakukannya apabila tidak ada panggul sempit, gemelli atau plasenta previa. 4
Syarat :
- Pembukaan kurang dari 5 cm
- Ketuban masih ada
- Bokong belum turun atau masuk pintu atas panggul
2. Persalinan presentasi sungsang dapat berlangsung secara :
• Pervaginam
o Spontan : Bayi dilahirkan dengan kekuatan ibu sendiri (spontan penuh dan cara Bracht)
o Persalinan yang dibantu (Assisted breech delivery/Partial breech extraction)
o Ekstraksi sungsang (Total breech extraction)




• Perabdominam (bedah caesar)
Sebelum melakukan pertolongan persalinan sebaiknya dilakukan keberhasilan persalinan sungsang. Metode penilaian dari Zazchi dan Andros.
0 1 2
Paritas Primi Multi -
Umur kehamilan
Taksiran berat janin
Pernah presbo
Pembukaan serviks
Station > 39 mgg
> 3630 gr
Tidak
<> 2 kali
> 4 cm
–1 atau lebih rendah
Bila skor
 3 = Persalinan dianjurkan dengan bedah caesar
4 = Dilakukan reevaluasi. Pengawasan persalinan yang ketat.
Dapat lahir pervaginam tetapi masih mungkin tindakan operatif.
 5 = Persalinan diharapkan dapat pervaginam. 2

II. OLIGOHIDRAMNION
A. Definisi
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal, yaitu kurang dari 500 cc
B. Etiologi
Etiologi belum jelas, tetapi disangka ada kaitannya dengan renal agenosis janin. Etiologi primer lainnya mungkin oleh karena amnion kurang baik pertumbuhannya dan etiologi sekunder lainnya, misalnya pada ketuban pecah dini.


C. Patogenesis
Pada kehamilan awal, cairan amnion adalah merupakan ultrafiltrasi plasma maternal (ibu). Pada awal trimester kedua, cairan amnion terdiri dari cairan ekstraseluler yang berdifusi melalui kulit janin dan oleh karena itu merefleksikan komposisi dari plasma janin. Akan tetapi, setelah 20 minggu oleh karena adanya kornifikasi kulit fetal akan menghambat difusi ini, sehingga cairan amnion sebagian besar terdiri dari urine fetal. Ginjal fetus mulai produksi urine pada umur kehamilan 12 minggu, dan pada umur 18 minggu produksinya sekitar 7-14 ml per hari. Cairan amnion berperan untuk menutupi janin, memungkinkan perkembangan musculoskeletal, serta proteksi terhadap trauma. Juga mengatur temperature dan berfungsi nutritive minimal. Penelanan cairan amnion ke dalam traktus gastrointestinal dan inhalasi ke dalam paru-paru dapat memacu pertumbuhan dan diferensiasi jaringan tersebut.
Sindroma Potter dan Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan dengan gagal ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion (cairan ketuban yang sedikit).
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru lahir, dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter). Selain itu, karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru (paru-paru hipoplastik), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi.
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air kemih) dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari sindroma Potter.
Gejala Sindroma Potter berupa :
- Wajah Potter (kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan epikantus, pangkal hidung yang lebar, telinga yang rendah dan dagu yang tertarik ke belakang).
- Tidak terbentuk air kemih
- Gawat pernafasan,

D. Diagnosis :
Gambaran Klinis
1. Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.
2. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan janin.
3. Sering berakhir dengan partus prematurus.
4. Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.
5. Persalinan lebih lama dari biasanya.
6. Sewaktu his akan sakit sekali.
7. Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
- USG ibu (menunjukkan oligohidramnion serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang sangat abnormal)
- Rontgen perut bayi
- Rontgen paru-paru bayi
- Analisa gas darah.
E. Akibat Oligohidramnion

1. Bila terjadi pada permulaan kehamilan maka janin akan menderita cacat bawaan dan pertumbuhan janin dapat terganggu bahkan bisa terjadi partus prematurus yaitu picak seperti kertas kusut karena janin mengalami tekanan dinding rahim.
2. Bila terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut akan terjadi cacat bawaan seperti club-foot, cacat bawaan karena tekanan atau kulit jadi tenal dan kering (lethery appereance).

III. SEKSIO SESAREA
Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin di lahirkan melalui suatu insisi pada dinding abdomen dan dinding uterus dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gr. (2, 4)
Dewasa ini cara ini jauh lebih aman daripada dahulu berhubung dengan adanya antibiotik, transfusi darah, teknik operasi yang lebih sempurna, dan anestesi yang lebih baik.

A. Indikasi Seksio Sesaria (SC) (4, 5) :
1. Indikasi Ibu
a. Placenta previa totalis dan marginalis (Posterior)
Dalam kepustakaan, kejadian perdarahan antepartum yang dilaporkan oleh peneliti dari negara berkembang berkisar antara 0,3%-4,3%. Sebab utama perdarahan antepartum umumnya adalah plasenta previa. (1)
b. Panggul sempit
Di tahun 80-an operasi pada bekas operasi sesar menyumbang 25%-30% atas kenaikan angka persalinan sesar di Amerika Serikat. Bila kita melihat presentase bekas operasi sesar sebagai indikasi operasi di beberapa negara, maka kita dapat mengumpulkannya dari beberapa kepustakaan tahun 80-an sebagai berikut : Amerika Serikat 35%, Skotlandia 43%, Australia 37%, Perancis 28%, Norwegia 23%, Selandia Baru 11% dan Hongaria 8%. (1)
Holmen mengambil batas terendah untuk melahirkan janin vras naturalis ialah Conjugata Vera (CV) : 8 cm, panggul dengan CV : 8 cm dapat dipastikan tidak dapat melahirkan janin normal, tapi harus diselesaikan denga SC. CV antara 8-10 cm boleh dicoba partus percobaan, baru setelah gagal dilakukan SC sekunder.
c. Cefalopelvic disproportion (CPD) ialah ketidak seimbangan antara ukuran kepala dengan panggul.
d. Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi.
e. Stenosis servix/vagina.
f. Ruptur uteri imminens.
g. Partus lama.
h. Partus tak maju.
i. Pre-eklampsi dan Hipertensi.
2. Indikasi Janin
a. Kelainan letak, presentasi, sikap dan posisi janin
Presentasi bokong pada kehamilan cukup bulan hanya 3%-4% saja, teteapi di Amerika serikat pada tahun 1985 dilaporkan, 79% dari seluruh presentasi bokong dilahirkan dengan operasi sesar. (1)
b. Gawat janin.
Gawat janin dinyatakan sebagai kontributor kenaikan angka operasi sesar sebesar 10%-15% atau sama dengan 10% dari seluruh indikasi operasi sesar. (1)
c. Syok, Anemia berat.
d. Kelainan kongenital.

B. Jenis-jenis Seksio Sesaria. (6)
1. Sectio sesarea klasik atau korporal : Insisi memanjang pada segeman atas uterus.
Indikasi SC klasik (3).
• Bila terjadi kerusakan dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah Rahim, misalnya karena ada perlekatan-perlekatan akibat pembedahan seksio sesarea yang lalu, atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah Rahim.
• Janin besar dalam letak lintang, khususnya jika selaput ketuban sudah pecah dan bahu terjepit dalam jalan lahir.
• Plasenta previa dengan implantasi placenta di sebelah anterior.
• Pada beberapa kasus bayi dengan berat badan lahir rendah dan segmen bawah uterus tidak mengalami penipisan.
2. Sectio Sesarea Transperitonealis profunda : Incisi pada segmen bawah rahim merupakan teknik paling sering dilakukan, ada 2 macam yaitu melintang (secara Kerr) dan memanjang (secara Kernig).
Keunggulan pembedahan ini adalah :
a. Perdarahan luka incisi tidak seberapa banyak.
b. Bahaya peritonitis tidak sering terjadi.
c. Parut pada uterus umumnya kuat, sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri, sehingga luka dapat sembuh.
3. Sectio sesarea ekstra peritonealis : rongga peritoneum tidak dibuka dulu dilakukan pada pasien dengan infeksi intra uterin yang berat, sekarang jarang dilakukan.
4. Caesarean section Hysterectomy : setelah seksio sesarea dikerjakan histerektomi dengan indikasi yaitu atonia uteri, placenta acreta, mioma uteri dan infeksi intra uterin yang berat.

C. Komplikasi Seksio Sesaria (7) :
1. Pada Ibu
a. Infeksi puerpuralis
b. Perdarahan
c. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru, dan sebagainya yang sangat jarang terjadi.
d. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri.

2. Pada Bayi
Nasib anak yang dilahirkan dengan seksio sesaria banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan seksio sesaria. Menurut statistik di negara-negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik, kematian perinatal pasca seksio sesaria berkisar antara 4 dan 7%.


























BAB III
LAPORAN KASUS

I. Identitas
Nama : Ny. L
Umur : 22 tahun
Alamat : Gantarwuni 2/II kembaran
No. CM : 102635
Datang/Tanggal : 23.39 WIB/ 2 Februari 2010

II. Anamnesis
A. Keluhan Utama : Kenceng-kenceng teratur dari Pk.16.00
(tgl 2 Februari 2010)
B. Keluhan Tambahan : Perut terasa nyeri
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke VK IGD pada tanggal 2 Februari 2010 jam 22.39 WIB dengan membawa surat pengantar bidan, dengan keluhan kenceng-kenceng teratur dan nyeri dari pukul 16.00 (tgl 2 Februari 2010), Lendir darah (-), nyeri saat pergerakan janin.
D. Riwayat Haid
HPHT : 3-5-2009, HPL : 10-2-2010
Pasien menarche umur 12 tahun. Haid pasien teratur (siklus ± 28 hari), lama haid 6 hari.
E. Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1x dengan suami sekarang selama 1 tahun.
F. Riwayat Obstetri
Anak pertama: Hamil ini.
G. Riwayat ANC :
Trimester I periksa 1 kali di bidan, trimester II periksa 1 kali di bidan,
trimester III > 2 kali periksa di bidan, suntik TT 2 kali.

H. Riwayat KB
Pasien tidak menggunakan KB.
I. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat Penyakit tekanan darah tinggi sebelum hamil disangkal
 Riwayat Penyakit kencing manis disangkal
 Riwayat Penyakit asma disangkal
 Riwayat penyakit jantung disangkal
 Riwayat penyakit DM disangkal
 Riwayat Operasi disangkal

III. Pemeriksaan Fisik
A. Pemeriksaan Fisik Umum
Keadaan Umum : Tampak kesakitan
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : TD : 110/70 mmHg, N : 82x/ menit
RR : 22x/ mnt, S : 36,8 °C
Tinggi Badan : 145 cm
Berat Badan : 50 kg
Status Generalis
Mata : Conjuntiva Anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)
Thorak
Paru-paru : Suara dasar : Vesikuler kanan dan kiri
Suara tambahan : Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : S1 > S2, regular, murmur (-), gallop (-)
Genetalia Eksterna : Lendir darah (-), Edeme Vulva (-)
Ektremitas
Superior : Edema (-/-)
Inferior : Edema (-/-)

B. Pemeriksaan Obstetri
1. Pemeriksaan Luar :
Inspeksi : cembung gravid
Palpasi : TFU 27 cm TBJ : 2325 g
• Pemeriksaan Leopold I: teraba bulat keras
• Pemeriksaan Leopold II: tahanan memanjang dikiri
• Pemeriksaan Leopold III: teraba bulat lunak
• Pemeriksaan Leopold IV: bokong belum masuk panggul.
Perkusi : Pekak
Auskultasi : DJJ : (+) 11- 11- 12
2. Pemeriksaan Dalam :
Vaginal Toucher
• Diameter 3 cm
• Kulit ketuban (+)
• Lendir (-)
• Darah (-)
• Bokong turun H1
• Os sacrum belum jelas

C. Pemeriksaan Penunjang
USG cito (pukul 00.15 WIB, 03/02/10): Tampak satu janin hidup intrauterine, letak presentasi bokong, punggung kiri, plasenta di korpus belakang, air ketuban sedikit.
Kesan: Oligohidramnion

IV. Diagnosis
G1P0A0, usia 22 tahun, hamil 39 minggu, Janin tunggal hidup intrauterine, Presentasi Bokong, punggung kiri, persalinan kala I fase laten dengan Oligohidramnion.




Lampiran
Hasil laboratorium darah lengkap
2/02/10
cito
Pukul 23.45 Nilai Normal
Hb 12,3 12-16 gr/dl
Leukosit 13.180 /ul 4800-10800 /ul
Hematokrit 35 % 37-47 %
Eritrosit 4,4 juta/ul 4,2-5,4 juta/ul
Trombosit 386000 /L 150000-450000 /L
Basofil 0,1 % 0,0-1,0 %
Eosinofil 0,3 % 2,0-4,0 %
Batang 0,00 % 2,00-5,00 %
Segmen 86,5 % 40,0-70,0 %
Limfosit 7,9 % 25,0-40,0 %
Monosit 5,2 % 2,0-8,0 %
PT 10,8-14,4
APTT 24-36

V. Sikap
• Persalinan perabdominam dengan SCTP atas indikasi oligohidramnion
• Pengawasan 10
• Cek darah lengkap
• Injeksi Ampicillin 3x1 gr

VI. Hasil
• Jam 00.40 (03/01/10) : Mulai Anastesi
• Jam 00.45 : Mulai Pembedahan
• Jam 01.00 : Bayi lahir laki-laki, A/S 8-9-10
• Berat Badan : 2100 gram
• Panjang Badan : 48 cm
• Lingkar Kepala : 35 cm
• Lingkar Dada : 33 cm
• Anus : (+)
• Kelainan : (-)
• Jam 02.00 : Operasi selesai.

VII. Diagnosis Pasca Persalinan
P1A0 U22TH post SCTP atas indikasi oligohidramnion, presentasi bokong.
PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam
Laporan Operasi
Tanggal pembedahan 3 Februari 2010
• Diagnosa pra bedah : G1P0A0, usia 22 tahun, hamil 39 minggu, Janin tunggal hidup intrauterine, Presentasi Bokong, punggung kiri, persalinan kala I fase laten dengan oligohidramnion.
• Mulai Anastesi : pukul 00.40 WIB
• Pembedahan dimulai: pukul 00.45 WIB
• Jam 01.00 : Bayi lahir laki-laki, A/S 8-9-10
• Berat Badan : 2100 gram
• Panjang Badan : 48 cm
• Lingkar Kepala : 35 cm
• Lingkar Dada : 33 cm
• Anus : (+)
• Kelainan : (-)
• Operasi selesai: pukul 02.00 WIB
• Diagnosis pasca bedah : P1A0 U22TH post SCTP atas indikasi oligohidramnion, presentasi bokong
• Jenis pembedahan : Mayor besar
• Jenis Operasi : Sectio secaria transperitoneal profunda

Laporan Operasi
1. Pasien tidur di atas meja operasi dalam keadaan spinal anestesi
2. Sepsis dan antisepsis daerah tindakan, pasang duk steril kecuali daerah tindakan.
3. Incisi dinding abdomen secara semiluner, pecahkan kulit ketuban dengan pelan
4. Dengan meluksir bokong, lahirkan bagian punggung, lahir bayi dengan berat badan 2100 gram dan A/S 8-9-10
5. Tali pusat dipotong, plasenta lahir dengan tarikan ringan, kotiledon lengkap, infark (-), hematom (-)
6. Jahit dinding uterus dengan benang PGA no.2 secara jelujur
7. Eksplorasi perdarahan (-), kontraksi uterus baik, adneksa kanan – kiri dalam batas normal
8. Jahit dinding abdomen, lapis demi lapis
9. Operasi selesai.

Instruksi post operasi :
1. Infus D5 % /RL / NaCl 20 tetes/menit
2. Inj. Ampicillin 4 x 1 gram
3. Inj. Kalnex 3 x 500 mg
4. Inj. Tramadol 3x1000 gram
5. Pasang DC
6. Pengawasan
7. Cek HB post sc






Lampiran
Pemantauan 2 jam post partum
Pukul Tekanan Darah Nadi TFU Kontraksi Uterus PPV
02.15 110/70mmHg 92 X/menit setinggi pusat kuat (+) Normal
02.30 110/80mmHg 92 X/menit setinggi pusat kuat (+) Normal
02.45 120/80mmHg 80 X/menit setinggi pusat kuat (+) Normal
03.00 110/70mmHg 84 X/menit setinggi pusat kuat (+) Normal
03.30 110/70mmHg 82 X/menit setinggi pusat kuat (+) Normal
04.00 120/80mmHg 84 X/menit setinggi pusat kuat (+) Normal

Follow up di Bangsal Flamboyan
Tanggal S O A P
3/2/10
Pegal pada luka bekas operasi
Flatus: (-)
BAK : (+)
BAB : (-)
ASI : (-)
KU: Sedang, CM
VS : T : 110/70 mmHg
N : 72 x /Mnt
S : 36,5 0C
R : 18 x/mnt
St Generalis
Mata: CA -/-, SI -/-
Thorax: C/P dbn
Ekstemitas :dbn
St. Obstetrik
TFU: 1 Jari↓ pusat
I : Datar, luka op tertutup kasa, rembes (-)
A : Bising Usus (+) N Per : Tympani
Pal : Nyeri tekan (+) pada luka bekas op
PPV : (+)
UC : Baik P1A0, U22 th, post SCTP a.i oligohidramnion, Presentasi Bokong, hari I

- IVFD RL/D5/NaCl 20 tpm
- Ampicilin 4 x 1gr
- Tramadol 3 x 500gr
- Kalnex 2 x 500gr
- Diet cair
- Mobilisasi mika-miki

4/2/10 Tidak ada keluhan
Flatus :(+)
BAK :(+)
BAB :(+)
ASI :(+)
KU: Sedang, Compos Mentis.
VS : T : 120/80 mmHg
N : 80 x /Mnt
S : 36,60C
R : 20 x/mnt
St Generalis
Mata: CA -/-, SI -/-
Thorax: C/P dbn
Ekstemitas :dbn
St. Obstetrik
TFU : 2 Jari↓ pusat
I : Datar, luka op tertutup kasa, rembes (-)
A : Bising Usus (+) N Per : Tympani
Pal : Nyeri tekan (+) pada luka bekas op
UC: Baik
PPV :(+) P1A0, U22 th, post SCTP a.i oligohidramnion, Presentasi Bokong, hari II
- Amoxcillin 3 x 500gr
- As.Mefenamat 3 x 500 gr
- Vit C 2 x 1
5/2/10 Tidak ada keluhan
Flatus :(+)
BAK :(+)
BAB :(-)
ASI :(+)
KU: Sedang, Compos Mentis.
VS : T : 120/80mmHg
N : 78 x /Mnt
S : 36,4°C
R : 20 x/mnt
St Generalis
Mata: CA -/-, SI -/-
Thorax: C/P dbn
Ekstemitas :dbn
St. Obstetrik
TFU : 3 jari↓ pusat
I : Datar, luka op tertutup kasa, rembes (-)
A : Bising Usus (+) N
Per : Tympani
Pal : Nyeri tekan (-) pada luka bekas op
UC : Baik
PPV :(+) sedikit P1A0, U22 th, post SCTP a.i oligohidramnion, Presentasi Bokong, hari III

- Amoxcillin 3 x 500gr
- As.Mefenamat 3 x 500 gr
- Vit C 2 x 1








BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis:
G1P0A0, usia 22 tahun, hamil 39 minggu, Janin tunggal hidup intrauterine, Presentasi Bokong, punggung kiri, persalinan kala I fase laten dengan Oligohidramnion
Dasar diagnosis ini adalah :
• G1P0A0, usia 22 tahun, hamil 39 minggu: pasien hamil untuk pertama kalinya dengan usia 22 tahun, usia kehamilan 39 minggu, yang dihitung dari HPHT pada tanggal 3 Mei 2009.
• Janin I hidup intra uterine: DJJ (+) 11.11.12 dengan 1 pungtum maximum 1 jari bawah pusat di sebelah kiri, gerakan janin masih dapat dirasakan.
• Presentasi bokong, punggung kiri, bagian terbawah janin adalah bokong dan belum memasuki pintu atas panggul, dengan punggung di sebelah kiri.
• Oligohidramnion:
Dari anamnesis didapatkan pasien merasa kenceng-kenceng teratur sejak pk.16.00 tanggal 2 Februari 2010 dan dirasakan nyeri. Kemudian nyeri juga dirasakan saat pergerakan janin.
Kemudian dari pemeriksaan fisik status obstetrikus regio abdomen didapatkan tinggi fundus uteri 27 cm. Hal ini tidak sesuai dengan usia kehamilan 39 minggu, yaitu tinggi fundus uteri lebih rendah dari usia kehamilan.
Dari hasil USG didapatkan adanya gambaran oligohidramnion, dimana ukuran diameter terbesar dari air ketuban yang berada di antara bagian badan janin dan dinding uterus < 2 cm. Dimana normalnya volume cairan amnion pada tiap-tiap minggu umur kehamilan sedikit bervariasi. Umumnya, volume akan meningkat tiap 10ml/minggu pada usia kehamilan 8 minggu, serta meningkat sampai 60ml/minggu pada usia 21 minggu, kemudian akan menurun secara bertahap kembali ke steady state pada usia 33 minggu.
- Diagnosis setelah persalinan menjadi P1A0 U22TH post SCTP atas indikasi oligohidramnion, persentasi bokong.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Diagnosa:
- Diagnosis waktu masuk:
G1P0A0, usia 22 tahun, hamil 39 minggu, Janin tunggal hidup intrauterine, Presentasi Bokong, punggung kiri, persalinan kala I fase laten dengan Oligohidramnion.
- Diagnosis waktu keluar : P1A0 U22TH post SCTP atas indikasi oligohidramnion, persentasi bokong.
2. Pengelolaan kasus dengan oligohidramnion sebaiknya membatasi sedikit mungkin pemeriksaan dalam agar tidak menambah terjadinya infeksi.
3. Edukasi kepada pasien agar selama nifas dan masa menyusui mengkonsumsi makanan yang bergizi serta tinggi kalori. Diberikan juga keterangan tentang kontrasepsi kepada pasien serta agar pasien untuk kehamilan berikutnya direncanakan sebaik-baiknya.












DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham, F. G. et al. 2005. Breech Persentation and Delivery in: William Obstetric 22st edition. New York: Mc Graw Hill Medical Pblishing Division, 107, 283,307,503-509.
2. Winkjosastro, Sarwono. H. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
3. Gabbe SG, et al. 2000. Malpresentation in: Obstetric Normal and Problem Pregnancies. 3rd . New York. 478
4. Available at http://medisdankomputer.co.cc/?p=389 (acceced at oktober 2009)
5. Giuliani A, School, et al. 2002. Mode of Delivery and Outcome of 699 term Singleton breech deliveries at a single center. Am J Obstetry and Ginecology.187: 1694
6. Kampono, Nugroho, dkk. 2008. Persalinan Sungsang. Available from http://geocoties.com/abudims/cklobpt.html. (acceced at Oktober 2008)
7. Moore, J.G., Hacker, N.F., 2001. Esensial Obstetri & Ginekologi. Jakarta : Hipokrates.

3 komentar:

  1. Mas, ada laporan kasus kepaniteraan anestesi umum secara inhalasi yang lasin ga??

    BalasHapus
  2. Ada laporan kasus kepaniteraan klinik anestesi umum dengan inhalasi yang lain ga??

    BalasHapus
  3. coba cari di file blogku

    BalasHapus