Pengikut

Kamis, 08 April 2010

Catatan Coass Obsgyn



Semoga bermanfaat salam kesejawatan FK UPN Veteran JAKARTA


ANTENATAL CARE (ANC)
• Observasi, evaluasi, & edukasi yg dilakukan pada ibu hamil oleh tenaga yg terlatih (dokter / bidan) yg meliputi pmx. umum & pmx. obstetri
•Tujuan :
1. Deteksi dini adanya kehamilan resiko tinggi
2. Mempersiapkan ibu agar berada dalam keadaan yg optimal untuk menghadapi persalinan
3. Mempersiapkan ibu dlm cara merawat bayi & menyusui
4. Menurunkan angka morbiditas & mortalitas ibu & janin
•Pemeriksaan :
• Waktu :
◦ TM I → min 1 bulan 1x
◦ TM II → min 1 bulan 2x
◦ TM III → min 1 minggu 1x
• Yg dievaluasi : 5T
1. Timbang berat badan & ukur tinggi badan :
◦ Normal BB naik ± 0,5 kg/mggu (maks 1 kg/bulan)
◦ Normal hamil 9 bulan naik 10-12 kg
2. Tensi / Tekanan Darah
3. Tinggi Fundus Uteri (TFU)
4. Tablet Besi (Sulfas Ferosus)
5. Tetanus Toksoid :
◦ Dosis 0,5 cc i.m. / s.c. (M. Deltoid / lengan atas)
◦ Diberikan sebanyak 2x dengan jarak waktu 1 bulan
◦ Diberikan saat sebelum menikah / UK 3-8 bulan
•4 pilar penyangga Gerakan Sayang Ibu (GSI) :
1. Keluarga Berencana (KB)
2. ANC yg baik
3. APN yg bersih & aman
4. Pelayanan obstetri esensial

DIAGNOSA KEHAMILAN
•Gejala & tanda tidak pasti kehamilan :
1. Amenore
2. Mual-muntah (emesis gravidarum, morning sickness)
3. Anoreksia
4. Mengidam
5. Pingsan (terutama di tempat ramai)
6. Pembesaran Gld. Mammae
7. Poliuria (inkontinensia urin)
8. Obstipasi-konstipasi
9. Epulis
10. Varises
11. Pigmentasi kulit (kloasma gravidarum, linea grissea)
12. Perut membesar (uterus membesar)
13. Tanda Hegar : isthmus memanjang & teraba lunak
14. Tanda Chadwick : vulva-vagina-serviks berwarna livid karena pelebaran pembuluh darah
15. Tanda Piscascek : uterus membesar ke salah satu jurusan
16. Tanda Braxton Hicks : uterus berkontraksi jika dirangsang
•Gejala & tanda pasti kehamilan :
1. Terasa gerak janin (primigravida : 18 mggu; multigravida : 16 mggu)
2. Balotemen (+) pada kehamilan muda
3. Teraba bagian janin (kepala, bokong, punggung, & bagian kecil) pada kehamilan lanjut
4. DJJ (USG : 12 mggu; Laenec : 16-20 mggu)
5. Ro : gambaran (kerangka) janin → tdk boleh pada TM I
6. USG : gambaran janin, gerak janin, DJJ, plasenta, dll
7. Tes kehamilan (+) / HCG Urin (+) → Gravindex (6 mggu)
•DD Kehamilan :
1. Pseudosiesis : kumpulan gejala kehamilan pada wanita yang tidak hamil (uterus tidak membesar, tidak ada tanda pasti kehamilan)
2. Mioma Uteri
3. Kistoma Ovari
4. Asites
5. Retensio Urin


•Menentukan umur kehamilan :
1. Rumus Naegele
HPHT → Hari +7; Bulan -3; Tahun +1
Syarat : • Siklus menstruasi teratur
• 1 bulan 1 x ( ± 28 hari)
• Jumlah darah ± sama setiap haid
2. Bartholinen
TFU → 12 mggu : 3 jari ↑ simfisis
16 mggu : pertengahan pusat-simfisis
20 mggu : 1 jari ↓ pusat
24 mggu : 1 jari ↑ pusat
28 mggu : 3 jari ↑ pusat
32 mggu : pertengahan pusat-xiphoid
36 mggu : 3 jari ↓ xiphoid
40 mggu : 4 jari ↓ xiphoid
3. Rumus Mc Donalad
TFU → TFU x 2/7 = …..bulan
TFU x 8/7 = …..mggu
4. Ukuran besar uterus
• Normal : telur ayam
• 8 mggu : telur bebek
• 12 mggu : telur angsa
• 16 mggu : tinju / kepalan tangan orang dewasa
• 20 mggu : kepala bayi
•Mengukur Taksiran Berat janin / TBJ (rumus Johnson) :
Rumus : (TFU – n) x 155 gr → n = 12 (belum masuk PAP)
n = 11 (sudah masuk PAP)

PEMERIKSAAN UNTUK MENGETAHUI MATURITAS
1. Non Stress Test (NST)
•Pemeriksaan untuk mengevaluasi DJJ terhadap pengaruh gerak janin
•Indikasi :
• Serotinus
• Insufisiensi utero-plasenter
• Gerak janin melemah
• Preeklampsia
• E3 (Estriol) urin & HPL serum rendah
•Tekhnik :
• Pasien berbaring terlentang lalu dipasang CTG & Tokodinamometer
• Dicatat tiap 10-15 menit & ditandai tiap gerak janin
• Penilaian :
1) Gerak Janin :
◦ Multiple (M)
Gerak seluruh tubuh janin dengan interval <> 12 detik
2) Akselerasi DJJ :
◦ Omega
Akselerasi DJJ > 15x/menit karena rangsangan suara & mekanik
◦ Lambda
Akselerasi DJJ > 15x/menit selama 40 detik karena regangan plasenta
◦ Elliptic
Akselerasi DJJ > 20x/menit selama 90 detik karena hipoksia singkat
◦ Periodic
Akselerasi DJJ > 15x/menit karena gerak multiple janin
• Interpretasi :
1) Reaktif
◦ DJJ basal 100-160 x/menit
◦ Akselerasi DJJ Omega terhadap gerak janin
◦ Variabilitas DJJ > 10 x/menit
◦ Gerak janin multiple > 5x/20 menit dengan ratio M/I > 1
◦ Penanganan : Ditunggu 1 minggu lalu di periksa ulang

2) Non-Reaktif
◦ DJJ basal <> 160 x/menit
◦ Akselerasi DJJ (-) meskipun ada rangsangan dari luar
◦ Variabilitas DJJ <> 36 minggu
2) Kadar Kreatinin
Bila kadar kreatinin cairan amnion mencapai 2 mg/100 ml → janin sudah cukup tua
3) Kadar enzim Alkali Fosfatase Total & Alkali Fosfatase Tahan Panas (HSAP = Heat Stable Alkaline Phospatase)
• Kehamilan 26-42 minggu kadar Alkali Fosfatase Total & HSAP → naik terus menerus setiap minggunya
• Pada Postmaturias → kadar HSAP lebih rendah dari kehamilan aterm
4) Ratio Lesitin/Sfingomielin (L/S)
• Lesitin & Sfingomielin → bahan pembentuk surfaktan paru
• Pada awal kehamilan ratio L/S adalah sama → setelah UK 35 minggu ratio L/S meningkat → menunjukkan maturitas paru
5) Sitologi Air Ketuban
• Ditemukan sejumlah sel yg dapat dipulas dengan pewarnaan khusus lemak → dari Gld. Sebasea
• Jika kadar <> 20% dari seluruh sel → aterm
6) Tes Kocok Paru
½ cc cairan amnion + ½ cc NaCl + 1 cc alcohol 95% → kocok 15 detik biarkan selama 15 menit → jika busanya banyak → surfaktan (+)
4. Pmx Radiologi :
• Ro Abdomen → pusat-pusat penulangan
1) Distal Femur → mulai UK > 36 minggu
2) Proksimal Tibia → mulai UK > 38 minggu
• USG Abdomen
1) Crown Rump Length (CRL) → jarak kepala bokong
2) Biparietal Diameter (BPD)
3) Lingkar Kepala (LK)
4) Lingkar Dada (LD)
5) Ratio LK/LD :
• UK <> 1
• UK 36-37 mggu LK/LD = 1
• UK > 37 mggu LK/LD < pod =" Point" pod =" UUK" pod =" UUB" pod =" Glabella" pod =" Dagu" pod =" Sakrum"> 40”, kontraksinya kuat
• Relaksasi tiap 2-4 menit
2. Bloody Show (keluar lendir-darah dari jalan lahir)
3. Serviks mulai membuka & mendatar (primigravida : 1,8 cm; multigravida : 2,2 cm)

Cat : istilah inpartu hanya dipakai jika hamil aterm / postterm (serotinus), jika UK <> 2 minggu
◦ L. Purulenta : terjadi infeksi (cairan nanah berbau busuk) → curiga endometritis
◦ Lochiostasis : lochia yang tidak lancar keluarnya (tertahan di dalam uterus)
• Mobilisasi :
◦ Partus-8 jam postpartum : istirahat, tidur terlentang → miring kanan-kiri
◦ Hari 2 postpartum : duduk
◦ Hari 3 postpartum : berjalan
◦ Hari 4-5 postpartum : boleh pulang
• Diet :
◦ Gizi tingi & seimbang
◦ TKTP
◦ Buah & sayuran >>
◦ Intake cairan >>
• Miksi :
◦ Minimal 8 jam postpartum harus sudah BAK → > 8 jam belum BAK → retensio urin


◦ Et. retensio urin :
- Spasme M. Shincter Urethrae Interna oleh desakan kepala janin pada partus lama / persalinan dengan tindakan (Vakum / Forceps)
- Sensitifitas M. Detrusor yg berkurang selama kehamilan
- Pengaruh hormone progesteron yg mengakibatkan relaksasi M. Detrusor
◦ Th :
• Bladder Training
- Pasang kateter urin + urin bag → biarkan 24 jam
- Minum air yg cukup
- 24 jam kemudian selang kateter diikat → dan dibuka tiap 2 jam
- H+3 kateter dilepas
• Medikamentosa :
- Neurotropik : Vit. B kompleks (Bioneuron®) 1x1 tab
- Kortikosteroid : Deksametason 0,5 mg 3x1 tab
• Defekasi :
◦ Minimal 3-4 hari postpartum harus sudah BAB → > 3-4 hari belum bisa BAB → obstipasi
◦ Th :
- Diet sayur & buah >>
- Intake cairan >>
- Medikamentosa :Laksatif → Dulcolax® 10 mg 2x1 tab
- Tidak bisa → klisma
• Perawatan Gld. Mammae (Breast Care) :
◦ Dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak keras, dan kering → persiapan laktasi
◦ Bila bayi meninggal / laktasi tidak dapat dilakukan (penyakit, pekerjaan) → penghentian laktasi :
- Alami : pembalutan mammae
- Medikamentosa :
• Etinil Estradiol (Lynoral®) 3x1 tab
• Bromokriptine 2,5 mg 2x1 tab

•Kelainan Nifas :
1. Infeksi Nifas
•Et :
• Tindakan asepsis & antispesis yg kurang (saat persalinan)
• Infeksi : Streptococcus, Staphylococcus, E. coli, C. welchii
• Kuman dapat bersifat eksogen (dari luar), autogen (infeksi pada organ lain), endogen (dari alat genital sendiri)
•FR :
• Antepartum :
◦ Anemia
◦ Malnutrisi
◦ Penyakit ibu
◦ Sexual intercourse
• Intrapartum :
◦ Infeksi nosokomial
◦ Infeksi intrapartum (partus lama / KPD)
◦ Tindakan obstetri operatif
◦ Tertinggalnya sisa uri, selaput ketuban, dan bekuan darah (stolsel) dalam cavum uteri
◦ Daya tahan tubuh yg kurang
•Th :
• Antibiotik :
◦ inj. Ampisilin 1 gr 3x1 vial i.v.
◦ Amoksisilin 500 mg 3x1 tab
• Analgetik : As. Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Roboransia : Vit B. Kompleks / Vit C / SF 1x1 tab
2. Subinvolusi Uterus
•Gangguan involusi uterus
•Et : kontraksi uterus yg tidak sempurna =
• Infeksi (endometritis)
• Tertinggalnya sisa uri, selaput ketuban, dan bekuan darah (stolsel) dalam cavum uteri
• Adanya mioma uteri

•Dx :
• Uterus teraba masih besar dari postpartum normal
• TFU masih tinggi
• Lokia banyak dan berbau (L. Purulenta) / Lochiostasis
• Perdarahan postpartum
•Th :
• Eksplorasi cavum uteri → bersihkan sisa uri, selaput ketuban, dan bekuan darah (stolsel)
• Medikamentosa :
◦ Antibiotik :
- inj. Ampisilin 1 gr 3x1 vial i.v.
- Amoksisilin 500 mg 3x1 tab
◦ Analgetik : As. Mefenamat 500 mg 3x1 tab
◦ Roboransia : Vit B. Kompleks / Vit C / SF 1x1 tab
◦ Uterotonik : Inj. Metil Ergometrin 0,2 mg 1x1 amp i.m.
3. Perdarahan Postpartum Sekunder (Late Postpartum Haemorrhage)
•Perdarahan yg terjadi > 24 jam postpartum
•Th : sesuai dengan penanganan perdarahan postpartum

HIPEREMESIS GRAVIDARUM
•Mual & muntah berlebihan pada wanita hamil TM I yg mengganggu pekerjaan sehari-hari dan KU menjadi buruk
•Patof :
TM I → Kadar estrogen & HCG >> → peristaltik usus << → waktu pengosongan lambung lebih lama → mual & muntah-muntah → gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, & asam-basa (dehidrasi, hipokloremik, alkalosis metabolik) → gangguan multiorgan •Derajat : • Tingkat I (Ringan) Lemah, apatis, BB <<, tanda-tanda dehidrasi ringan • Tingkat II (Sedang) Apatis, BB <<, ikterik, oliguria, tanda-tanda syok & dehidrasi sedang • Tingkat III (Berat) Somnolen-koma, oliguria-anuria, tanda-tanda syok & dehidrasi berat •Th : • Edukasi : psikis • KU buruk → rawat inap, isolasi di ruang yg tenang • Syok → infus RL (mengganti elektrolit) • Diet : cair-lunak, TKTP, makan sedikit tapi sering • Medikamentosa : ◦ Sedativa : - Fenobarbital 30 mg 3x1 tab - Diazepam 10 mg 3 x1 tab ◦ Antiemetik : - Metoklopramid 10 mg 3x1 tab - Chlorpromazin 12,5 mg 3-4 x ½ tab ◦ Roborantia : Vit B kompleks (B1, B6, B12) 1x1 tab ◦ Antigastritis : Antasid • KU makin memburuk → rujuk (pertimbangan abortus provokatus medicinalis) KEHAMILAN RESIKO TINGGI •Kehamilan dengan satu / beberapa FR yg mengancam morbiditas dan mortalitas ibu dan janin pada kehamilan, persalinan, dan nifas •Et : 1. Keadaan ibu secara umum • Usia ibu (<> 35 th)
• Tinggi badan <> 5 th)
• Riwayat abortus habitualis
• Riwayat partus prematurus
• Riwayat bayi lahir mati
• Riwayat bayi dengan kelainan kongenital
• Riwayat persalinan dengan tindakan (Vakum / Forceps / SC)
3. Penyakit / penyulit pada kehamilan
• Panggul sempit & CPD
• Kehamilan kembar (Gemelli)
• KPD
• Serotinus
• Grande Multipara (Paritas > 5)
• Kelainan letak janin (lintang / sungsang)
• Perdarahan ante partum (Plasenta Praevia & Solutio Plasenta)
• Preeklampsia-Eklampsia
4. Penyakit yg menyertai kehamilan
• Penyakit jantung & kardiovaskular (Decomp. Cordis, Hipertensi)
• Penyakit paru (TBC, Asma Bronkial)
• Penyakit ginjal (Gagal Ginjal, Sindrom Nefrotik)
• Penyakit hepar (Hepatitis)
• Penyakit sistemik (DM)
• Anemia
•4T sebagai faktor penyulit dalam kehamilan & persalinan :
1. Too many : Multiparitas / Grande Multipara
2. Too close : jarak kehamilan <> 35 th (primigravida tua)

KELAINAN DALAM LAMANYA KEHAMILAN
•Aterm : UK 37-42 minggu, BB janin 2500-3500 gr

1. Imaturitas / Prematuritas
•Imaturitas : Umur kehamilan 20-28 minggu dengan BB janin 500-1000 gr
•Prematuritas : Umur kehamilan 28-37 minggu dengan BB janin 1000-2500 gr
•Et :
• Anemia
• Malnutrisi
• Pekerjaan fisik yg berat
• Penyakit Ibu : DM, Hipertensi
• Preeklamsia-eklampsia
• Hidramnion
• KPD
• Gemelli
• Perdarahan antepartum (Solutio Plasenta, Plasenta Praevia)
• Serviks inkompeten
•Th :
• Pertahankan janin sampai viable (seaterm mungkin) → mencegah berlangsungnya partus imaturus / partus prematurus iminens :
◦ Bed Rest → Posisi Trendelenburg
◦ Medikamentosa :
- Tokolitik : - Nifedipin 10 mg 3x1 tab
- Papaverin 40 mg 3x1 tab
- Sedativa : Fenobarbital 30 mg 3x1 tab
- Hormon : Progesteron (Gestanon 10 mg/hr)
• Bila partus imaturus / partus prematurus iminens tidak dapat dicegah :
◦ Ibu diberi Inj. Deksametason 5 mg 2x1 amp i.v. / i.m. perhari selama 2 hari (UK 32-34 mggu) → untuk pematangan paru janin
◦ Persiapan bayi prematur (alat resusitasi, inkubator)
◦ Episiotomi untuk menghindari trauma kepala
◦ Potong tali pusat sesegera mungkin
◦ Peringan kala II dengan ekstraksi Forceps (atas indikasi)
◦ Injeksi Vit. K 1 mg i.m. setelah bayi lahir
◦ Persalinan perabdominam : SC (atas indikasi)

2. Postmaturitas (Serotinus)
•Umur kehamilan > 42 minggu dgn BB janin > 3500 gr (jika berat janin > 4000 gr disebut janin besar / Makrosomia)
•Et :
• Oligohidramnion
• Kadar progesteron yg tetap tinggi pada kehamilan cukup bulan
• Kepekaan uterus terhadap PG dan Oksitosin yg rendah
•Dx :
• UK > 42 minggu (Rumus Naegele / Bartholinen)
• Pemeriksaan air ketuban (Amniosentesis) :
◦ Air ketuban keruh → mekoneum
◦ Air ketuban sedikit
◦ Pmx sitologi air ketuban
◦ Ratio Lesitin/Sfingomielin (L/S)
• Ro : pusat-pusat penulangan (distal femur / proksimal tibia)
• USG :
◦ BPD >> normal
◦ Gerakan janin sedikit
◦ Air ketuban sedikit
◦ Kalsifikasi plasenta
• Tanda-tanda bayi postmatur :
◦ BB >> dari bayi matur
◦ Tulang kepala lebih keras & sutura mulai menutup
◦ Rambut lanugo sedikit
◦ Verniks kaseosa sedikit
◦ Kuku-kuku panjang
◦ Rambut kepala tebal
◦ Kulit agak pucat dgn deskuamasi epitel
• Pemeriksaan kadar Estriol (E3)
• Non stress test (NST)
•Th : Penanganan Obstetri → persalinan :
• Pervaginam
◦ BS > 5 : induksi dengan infus Oksitosin
◦ BS <>>
• Perdarahan postpartum
• Ruptur uteri
• Fetal Distress
• IUFD
• Bayi lahir mati



PENYAKIT PADA KEHAMILAN
1. Hipertensi Dalam Kehamilan
•Klasifikasi :
• Hipertensi Gestasional
HT pada kehamilan yg tidak disertai proteinuria hingga 12 mggu postpartum
• Hipertensi Kronik
HT yg didapatkan sebelum kehamilan atau pada UK <>20 mggu
•Batasan :
• Hipertensi :
◦ TD Sistole > 140 mmHg
◦ TD Diastole > 90 mmHg
• Proteinuria :
◦ Protein > 30 mg/L dari urin sewaktu cara Esbach
◦ Protein > 300 mg/L dari urin 24 jam
◦ Dipstick :
- (+1) : 0,3-0,45 gr/L
- (+2) : 0,45-1 gr/L
- (+3) : 1-3 gr/L
- (+4) : > 3 gr/L
• Edema : tidak dipakai lagi (kecuali edema anasarka)

2. DM Dalam Kehamilan (DM Gestasional)
•DMG : Intoleransi KH baik yg ringan (TGT) maupun yg berat (DM) yg terjadi / pertama kali diketahui saat kehamilan berlangsung. Jika sudah diketahui sebelum kehamilan berlangsung → DM Progestasional
•FR :
• Riwayat ibu yg mencurigakan :
◦ Usia > 30 th
◦ Riwayat DM dalam keluarga
◦ Riwayat DMG pada kehamilan sebelumnya
◦ Obesitas
◦ BB ibu waktu lahir > 5000 gr
◦ ISK berulang-ulang selama kehamilan
• Riwayat obstetri yg mencurigakan
◦ Riwayat abortus habitualis
◦ Riwayat melahirkan anak mati tanpa sebab jelas
◦ Riwayat melahirkan bayi > 4000 gr (Makrosomia)
◦ Riwayat preeklampsia-eklampsia
◦ Polihidramnion
•Dx :
• FR (+)
• Gejala & tanda kehamilan
• 3P (Polifagia, Poliuria, Polidipsia)
• Pmx lab (kadar gula darah) :
◦ Cara O’Sullivan Mahan (penyaringan 2 tahap)
◦ Cara WHO
•Th :
• Pengaturan diet sesuai kebutuhan
• Pemantauan diabetes terkendali
• Olahraga
• Pemberian insulin → jika dgn pengaturan diet selama 2 mggu belum berhasil mencapai kadar normoglikemi
• Pemberian ADO → tidak dianjurkan karena efek teratogenik dan menyebabkan hipoglikemia pada bayi karena dapat dikeluarkan melalui ASI
• Penatalaksanaan Obstetri :
◦ Pervaginam :
- Janin sehat (FDJP > 9)
- Genap bulan (aterm)
- Penyakitnya tidak berat
- Kadar gula darah terkendali
- Tidak ada penyulit / komplikasi
◦ Perabdominam (SC) :
- Primigravida tua
- Panggul sempit
- CPD
- Kelainan letak janin
- Janin besar (makrosomia)
- Fetal distress
- DM yg tidak terkendali
• Pentalaksanaan pada bayi :
◦ Cegah hipoglikemia postpartum
◦ Pmx dgn Dextrostick pada jam ke-1, 2, 4 & 8 postpartum
◦ Beri minum susu tiap 2 jam / pemberian infus D5
•Komplikasi :
• Pengaruh kehamilan pada DM
◦ Hiperglikemia : insulin ibu semakin berkurang karena enzim insulinase plasenta dan resistensi insulin karena adanya hormon estrogen-progesteron (pre-DM → DM → lebih berat)
◦ Hipoglikemia :
- Hiperemesis gravidarum → asupan KH << - Kebutuhan glukosa untuk pertumbuhan janin >>
- Kontraksi miometrium / meneran saat persalinan → konsumsi glukosa >>
- Laktasi → keluarnya glukosa dari ASI
• Pengaruh DM pada kehamilan, persalinan, & nifas
◦ Kehamilan :
- Abortus
- Partus prematurus
- Preeklampsia-eklampsia
- Hidramnion
- Kelainan letak janin
- Insufisiensi plasenta
◦ Persalinan
- Inersia uteri
- Perdarahan antepartum
- Perdarahan postpartum
- Distosia bahu akibat janin besar (Makrosomia)
- Bayi lahir mati
- Akhiri persalinan dengan SC >>
- Infeksi >>
◦ Nifas
- Infeksi nifas >>
- Sepsis
- Luka jalan lahir sulit sembuh
• Pengaruh DM pada bayi
◦ Abortus
◦ Imaturitas-Prematuritas
◦ Dismaturitas (IUGR)
◦ Mikrosomia-Makrosomia
◦ IUFD
◦ Bayi lahir mati
◦ Kelainan neurologik & psikologik di kemudian hari → karena hipoglikemia

3. Anemia Dalam Kehamilan
•Kadar Hb wanita hamil <> peningkatan eritrosit → hemodilusi)


•Dx :
Pucat, lemah, letih, lesu, pusing, mengantuk, sukar konsentrasi, conjungtiva anemis, kadar Hb <> 20 minggu (preeklampsia) dan dapat disertai konvulsi / koma (eklampsia)
•Et :
• Kerusakan sel endotel
• Reaktivitas penempelan vaskuler
• Ketidakseimbangan prostasiklin & tromboksan
• Penurunan filtrasi golemerolus dan retensi air & garam
• Penurunan volume intravaskular
• DIC
• Iskemia plasenta
• Compromised placental perfusion
• FR :
• Primigravida muda / tua
• Gemelli
• Hidramnion
• Hipertensi kronik
• Penyakit ginjal
• DM
• Obesitas
• Patofisiologi :
Spasme pembuluh darah disertai retensi air dan garam :
• Pada otak : edema otak → konvulsi, koma
• Pada mata : gangg visus → diplopia, ablasio retina, penurunan visus
• Pada paru-paru : edema paru, efusi pleura
• Pada jantung & PD : hipertensi, decomp cordis, edema
• Pada ginjal : penurunan GFR → oliguria, anuria, gagal ginjal
• Pada uterus :
◦ Insufisiensi uteroplasenter→Fetal Distress, IUGR, IUFD
◦ Iskhemik PD retroplasenter → solutio plasenta
◦ Kenaikan tonus otot rahim → partus prematurus

1. Preeklampsia Ringan (PER)
• Dx :
• TD > 140/90 mmHg, <> 0,3 gr/L/urin 24 jam atau dipstick > +1)
• Edema (biasanya pada ekstremitas inferior)
• Th :
• Bed Rest
• Diet tinggi protein, rendah kalori & garam
• Medikamentosa :
◦ Diazepam 5 mg 3x1 tab
◦ Fenobarbital 30 mg 3x1 tab



• Pengelolaan obstetri :
◦ Janin Non-Viable (UK <> 160/110 mmHg
• Proteinuria (> 5 gr/L/urin 24 jam atau dipstick > +4)
• Edema (anasarka) + edema paru
• Gangguan organik : gangg. kesadaran, sakit kepala, gangg. visus, nyeri epigastrium, nyeri kuadran kanan atas, mual-muntah → Impending Eklampsia
• Oliguria (<> 180/110)
◦ Nifedipin 10 mg 3x1 tab per os
◦ Metil Dopa 250 mg 3x2 tab per os
◦ Diuretik → edema anasarka, edema pulmo, CHF
Inj. Furosemid (Lasix®) 20 mg 1x1 amp i.v.
• Pengelolaan obstetri :
◦ Janin Non-Viable (UK <> 16x/menit
• Diuresis > 100 ml/4 jam atau > 0,5 cc/kgBB/jam
• Refleks Fisiologis (KPR) (+)
• Antidotum : Ca Glukonas 10%
3. Eklampsia
• Stadium :
• Stadium Aurora
• Stadium Kejang Tonik
• Stadium Kejang Klonik
• Stadium Koma
• Dx : = PEB + konvulsi / koma
• Th :
• = PEB
• Penanganan khusus (konvulsi)
◦ Rawat di ruang isolasi / ruang khusus dgn lampu terang
◦ Posisi Trendelenburg
◦ Pasang sudip lidah / gudel
◦ Bebaskan jalan napas (hisap lendir)
◦ Pakaian dikendorkan
◦ Beri O2 4-5 L
◦ Infus RL
◦ Pasang DC
◦ Medikamentosa
- MgSO4 = PEB
- Diazepam → bila syarat tidak terpenuhi / SM tidak ada
• Loading Dose : Inj. 20 mg 1x2 amp i.m. / i.v.
• Maintenance : Inj. 10 mg 1x1 amp + 500 ml RL drip 20 tpm
• Pengelolaan obstetri :
◦ Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri (di terminasi) tanpa memandang umur kehamilan & keadaan janin.
◦ Akhiri kehamilan bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamika & metabolisme ibu
◦ Stabilisasi harus tercapai minimal dalam 4-8 jam setelah :
• Kejang terakhir
• Pemberian obat antikonvulsi terakhir
• Pemberian obat antihipertensi terakhir
• Penderita mulai sadar (pantau GCS)
◦ Cara persalinan sesuai yg memenuhi syarat pada saat tersebut

•Komplikasi (preeklampsia) :
• Eklampsia
• Sindrom HELLP
• Perdarahan otak (Stroke)
• Gangguan fungsi sistem kardiovaskuler
• Gangguan fungsi hepar
• Gangguan fungsi ginjal
• Solutio plasenta
• DIC
• IUGR
•. IUFD

KELAINAN AIR KETUBAN
•Normal air ketuban :
• Asal dari urin janin / epitel amnion
• Volume 1-1,5 L
• Warna putih jernih → keruh / hijau : mekoneum / infeksi
• Bau khas
• pH basa → merubah lakmus menjadi biru

1. Oligohidramnion
• Volume air ketuban <> 2 L
•Patof isiologi :
• Akut
• Kronis
• FR :
• Gemelli
• DM
• Penyakit jantung & kardiovaskuler
• Penyakit ginjal
• Preeklampsia-eklampsia
• Dx :
• Perut lebih besar, tegang, dan mengkilat (TFU lebih besar dari usia kehamilan)
• Sesak napas (+/-)
• Edema tungkai (+/-)
• Bagian janin & DJJ sulit dinilai
• USG : Ukuran diameter terbesar dari air ketuban yg berada di antara bagian badan & dinding uterus > 5 cm
• DD :
• Kehamilan / kehamilan dengan janin besar
• Gemelli
• Mola hidatidosa
• Kistoma ovari (permagna)
• Mioma uteri
• Asites
• Obesitas
• Th :
• Kehamilan :
◦ Tidak ada keluhan → konservatif
◦ Sesak napas :
- Bed Rest
- Sedativ : Fenobarbital 30 mg 3x1 tab
- Amniosentesis
• Persalinan :
◦ Jika ada inersia uteri / sesak nafas → amniosentesis → awasi komplikasi
◦ Jika terjadi perdarahan post partum → uterotonika
- Oksitosin 10-20 IU (1-2 amp) + 500 cc RL drip 20 tpm
- Inj Metil Ergometrin 0,2 mg 1x1 amp i.m.
• Komplikasi :
• Ibu :
◦ Preklampsia-eklampsia
◦ Inertia uteri
◦ Partus lama
◦ KPD
◦ Solutio plasenta
◦ Tali pusat menumbung / terkemuka
◦ Perdarahan postpartum
• Janin :
◦ Kelainan letak (lintang / sungsang)
◦ Prematuritas

KETUBAN PECAH DINI (KPD) / PREMATURE RUPTUR OF THE MEMBRANE (PROM)
•KPD : Ketuban pecah sebelum inpartu
•Ketuban Pecah Awal (KPA) / Early Rupture Of the Membrane : ketuban pecah saat inpartu pada pembukaan yg masih kecil (primigravida <> 5, tanda-tanda infeksi (-) → partus pervaginam
- BS <> 10 denyut/menit)
• Ro : terlihat gambaran 2 (kerangka) janin
• USG : terlihat gambaran 2 janin, 2 DJJ
•Th :
- Pengawasan preeklampsia-eklampsia dan perdarahan postpartum → pasang infus RL
- Persalinan :
• Pervaginam : sesuai letak janin
◦ Anak I :
- Preskep : sesuai janin tunggal preskep
- Presbo : sesuai janin tunggal presbo
- Lintang : SC
◦ Anak II
- Klem tali pusat jangan dilepas dulu & tali pusat jangan dikeluarkan dulu
- Preskep : sesuai janin tunggal preskep
- Presbo : sesuai janin tunggal presbo
- Lintang : versi luar / versi ekstraksi → gagal : SC
• Perabdominam : SC, indikasi :
◦ Janin I letak lintang
◦ Interlocking
◦ Plasenta praevia
◦ Prolaps funikuli
•Komplikasi :
• Ibu :
◦ Hidramnion
◦ Preklampsia-eklampsia
◦ Inertia uteri
◦ Partus lama
◦ KPD
◦ Solutio plasenta
◦ Perdarahan postpartum
◦ Anemia
• Janin :
◦ Kelainan letak
◦ Abortus
◦ Prematuritas
◦ Double Monstrum
◦ Dismaturitas (IUGR)
◦ IUFD

FETAL DISTRESS
•Et :
• Tetania uteri
• Solusio plasenta
• Hipertensi
• Preeklampsia-eklampsia
• Insufisiensi plasenta
• Lilitan tali pusat
• After Coming Head
•Dx :
• DJJ <> 160 x/menit
• DJJ irreguler (selisish >2)
• Keluar mekonium pada janin presentasi kepala
• pH darah janin <> 20 minggu
•Et :
• Infeksi : TORCH, sifilis, pneumonia, tifoid
• Kelainan kongenital : anensefali
• Perdarahan antepartum (Solutio Plasenta, Plasenta Praevia)
• Kelainan darah : inkompatibilitas Rh, ABO
• Preeklampsia-eklampsia
• Lilitan tali pusat
• After Coming Head
• Trauma
• Hipoksia kronik
• Malnutrisi
•Dx :
• Perut tidak bertambah besar (TFU <<) • Tidak ada gerakan janin • Tidak terdengar DJJ • Ro : tanda Spalding (overlapping sutura janin) • USG : tidak ada DJJ / gerakan janin • Post partum : derajat maserasi janin ◦ I : kulit belum rusak tetapi mudah terkelupas ◦ II : bula (hemoragik) pada kulit ◦ III : kulit kisut & kendor, jaringan & sendi kendor •Th : • Preventif : ANC yg baik • Observasi 2-3 minggu • Persalinan ◦ Pervaginam → priming dengan Misoprostol & induksi dengan infuse Oksitosin → embriotomi (atas indikasi) ◦ Perabdominam → SC (atas indikasi) RUPTURA UTERI • Laserasi pada dinding uterus • Lokasi / Et : • Korpus Uteri / SAR : bekas SC klasik, miomektomi • SBR : bekas SCTP, partus lama, partus tak maju • Serviks : persalinan dengan tindakan (Vakum / Forceps) • Kolpoporeksis-Kolporeksis (robekan antara serviks-vagina) : persalinan dengan tindakan (Vakum / Forceps) •Et : • Overdistensi uterus (hidramnion, gemelli, janin besar) • Parut pada uterus (riwayat SC, miomektomi) • Kelainan letak janin • Grande multipara • Partus lama / partus tak maju • Tindakan induksi-augmentasi • Panggul sempit • Manual plasenta • Persalinan dengan tindakan (Vakum / Forceps) • Trauma tumpul / tajam •Dx : • Ruptura Uteri Iminens : ◦ Gejala dan tanda partus lama ◦ Ibu gelisah & kesakitan ◦ Takipnea dan takikardi ◦ His lebih sering, lebih lama, lebih kuat ◦ Nyeri perut saat his / tidak ◦ Ligamentum rotundum teraba tegang seperti kawat listrik ◦ Terbentuk Bandl Ring diantara Korpus Uteri dan SBR ◦ Tanda fetal distress ◦ Perasaan mau kencing karena kandung kemih teregang & tertarik ke atas ◦ Hematuria • Ruptura Uteri : ◦ Ibu gelisah, keringat dingin ◦ Ibu kesakitan seolah-olah perutnya sedang dirobek ◦ His menghilang ◦ Perdarahan pervaginam ◦ Syok → hipotensi, takikardi, takipnea ◦ Gejala & tanda rangsang peritoneum (muntah, nyeri perut, defence muscular) ◦ Tanda fetal distress ◦ Hematuria ◦ Bagian janin keluar dari kavum uteri dan mudah diraba ◦ Kepala janin mudah didorong ke atas pada VT •Th : • Preventif (pada persalinan pervaginam) ◦ APN yg baik pada persalinan yg beresiko ruptur uteri (pengawasan 10) ◦ Kala II tidak boleh terlalu lama ◦ Dilarang induksi dengan Oksitosin pada riwayat SC • Perbaiki KU : syok → infus RL • Operatif : laparotomi ◦ SC (untuk mengeluarkan janin) ◦ Histerorafia ◦ Histerektomi PERDARAHAN ANTE PARTUM •Perdarahan yg terjadi pd usia kehamilan > 28 minggu (TM III) sampai sebelum bayi lahir
•Et :
1. Plasenter
• Solutio plasenta
• Plasenta Praevia
• Vasa Praevia
2. Non-Plasenter
• Laserasi jalan lahir
• Polip servix
• Kelainan pembekuan darah

1. Solutio Plasenta
• Lepasnya plasenta dari insersinya sebelum anak lahir pada kehamilan > 28 minggu
• Patofisiologi :
terjadi vasospasme mendadak pada arteri interviler → anoksia & nekrosis → perdarahan dalam desidua basalis → hematoma retroplasenter → plasenta terlepas dari insersinya
• Et :
• Overdistensi uterus (hidramnion, gemelli, janin besar)
• Tali pusat pendek
• Hipertensi
• Preeklampsia-eklampsia
• Peningkatan tekanan V. Cava Inferior
• Defisiensi Vit. C / As. Folat
• Trauma
• Multiparitas
• Klasifikasi (klinis) :
1. SP Ringan
• Perdarahan ringan
• Dinding uterus tidak terlalu tegang
• Bagian janin masih teraba
• Janin hidup
2. SP Sedang
• Perdarahan sedang
• Dinding uterus tegang
• Nyeri tekan
• Fetal distress
• Kelainan pembekuan darah & ginjal
3. SP Berat
• Perdarahan berat → syok
• Dinding uterus keras seperti papan
• Janin mati (IUFD)
• Dx :
• Perdarahan tiba-tiba → ada pencetus (et causa)
• Perdarahan yang terus menerus tidak berulang (non-rekuren)
• Warna darah gelap / tua / agak kehitaman
• Jumlah darah sedikit-banyak
• Syok (+/-)
• Nyeri perut (painfull)
• Uterus teraba keras seperti papan
• Tanda-tanda fetal distress
• In spekulo : fluksus +
• VT : OUE terbuka, KK menonjol
• Lab : Hb ↓, hipofibrinogenemia
•Th :
• SP Ringan-Sedang :
◦ Janin Non-Viable (UK <> 500 ml
•Klasifikasi :
1. Early Post Partum Haemorrhage (Primer)
<> 24 jam - 2 mggu stlh janin lahir

•Et :
• Retensio Plasenta
• Atonia uteri → >> (60%)
• Retensio sisa plasenta (Plasenta Restan)
• Laserasi jalan lahir
• Kelainan darah : hipofibrinogenemia / hemofili

1. HPP Kala III (Retensio Plasenta)
• Keadaan dimana plasenta belum lahir secara spontan 30 menit setelah janin lahir
• Et :
1. Plasenta melekat >>
a. Plasenta Adhesiva
Melekat pada endometrium >>
b. Plasenta Inkreta
Menembus desidua sampai ke miometrium
c. Plasenta Perkreta
Menembus miometrium >>, belum sampai serosa
d. Plasenta Akreta
Menembus sampai serosa / peritoneum
2. Plasenta sudah lepas tapi belum keluar :
a. Kontraksi uterus yg tidak adekuat (Atonia Uteri)
b. Adanya Bandle Ring / stenosis serviks yg menghalangi plasenta keluar (Plasenta Inkarserata)
• Th :
• Perbaiki KU : syok → infus RL
• Cek DL : Hb < vagina =" jahitan"> 8 mggu : keluar sebagian karena vili korialis telah menembus desidua secara dalam
• Klasifikasi
• Abortus Provokatus :
◦ Medicinalis
◦ Kriminalis
• Abortus Spontaneus :
1. Abortus Iminens
Abortus mengancam yang masih bisa dicegah sehingga hasil konsepsi masih bisa dipertahankan
Dx : ◦ PPV warna merah segar pada kehamilan muda
◦ Nyeri perut (mules)
◦ Inspekulo : • Fluksus (+)
• OUE tertutup
Th : ◦ Bed Rest
◦ Hormon : Progesteron = Gestanon 10 mg/hr
◦ Antispasmodik : Papaverin 40 mg 3x1 tab
◦ Sedativa : Fenobarbital 30 mg 3x1 tab
◦ Roborantia : Vit C 500 mg 1x1 tab
2. Abortus Insipiens
Abortus yg sedang berlangsung sehingga hasil konsepsi tidak bisa dipertahankan lagi
Dx : ◦ PPV warna merah segar pada kehamilan muda
◦ Nyeri perut (mules)
◦ TFU = umur kehamilan
◦ Inspekulo : • Fluksus (+)
• OUE terbuka
Th : ◦ UK < mggu =" kuret"> 12 mggu = Uterotonik (Oksitosin 10 IU + 500 cc RL drip 20 tpm)
3. Abortus Inkompletus
Abortus yg tidak lengkap dimana sebagian hasil konsepsi telah dikeluarkan dari uterus
Dx : ◦ Tanda syok (+/-)
◦ PPV (darah merah segar + stolsel) pada kehamilan muda
◦ Nyeri perut (mules)
◦ Keluar jar. konsepsi dari uterus
◦ TFU lebih rendah dari umur kehamilan
◦ Inspekulo : • Fluksus (+)
• OUE terbuka
◦ USG : sisa konsepsi dalam uterus
Th : ◦ Syok → Infus RL
◦ Cek DL → Hb < uterotonik =" Metil" antibiotik =" inj." uterotonik =" Metil" antibiotik =" inj"> 3x berturut-turut
• Abortus Infeksious
Abortus yg disertai infeksi genital
• Abosrtus Septik
Abortus dengan penyebaran toksin ke peritoneum / darah
• Missed Abortion
Abortus yg tertunda dimana janin tertahan dalam rahim selama > 2 bulan setelah janin mati
•Nasib janin pada abortus :
• Keluar spontan
• Direabsorbsi (Fetus Compressus)
• Kering & tipis (Fetus Papiraceus & Litopedion)
• Blighted Ovum
• Molla Cruenta (ovum dibungkus darah segar)
•Tekhnik Aborsi (Abortus Provokatus) :
• Tindakan :
◦ Dilatasi dan kuretase
◦ Suction Kuretase
◦ Dilatasi bertahap
◦ Histerotomi
• Obat-obatan :
◦ Prostaglandin : Misoprostol
◦ Larutan hipertonik : Urea / Salin Hipertonik
◦ Metotreksat + Misoprostol

2. Kehamilan Ektopik (Terganggu)
• Kehamilan Ektopik : Kehamilan abnormal dengan hasil konsepsi berimplantasi di luar endometrium uterus
•Kehamilan Ektopik Terganggu : Kehamilan ektopik yg terhenti perkembangan janinnya dengan terjadinya abortus / ruptur pada tempat implantasi tersebut
•Pred :
• Tuba >> (Ampula >>, Isthmus)
• Serviks uteri
• Cavum abdomen
•Et :
• Faktor Uterus : Hipoplasia endometrium
• Faktor Tuba :
◦ Salpingitis
◦ Striktur tuba
◦ Endometriosis tuba
◦ Tuba yg panjang
◦ Kontraktilitas tuba << (progesteron) • Faktor Ovum : migrasi interna / eksterna • Faktor Sperma : motilitas sperma >>
• Dx :
• Gejala & tanda kehamilan (amenore, gravindex +)
• Nyeri perut kiri / kanan bawah → pingsan
• PPV warna kehitaman / perdarahan perabdominam → syok / anemia
• Tanda akut abdomen (NT, defence muscular)
• In spekulo : Fluksus (+)
• VT : - Nyeri goyang porsio (Slinger Sign +)
- Nyeri kiri-kanan porsio / uterus
- Nyeri pada Cavum Douglasi (Douglass Crise +)
- Cavum Douglassi menonjol
• RT : masa pada Cavum Douglasi
• USG : masa di kiri / kanan uterus
• Kuret → PA : penebalan endometrium (reaksi Arias-Stella = endometrium → desidua)
• Kuldosentesis (Douglass Pungsi) → darah coklat tua-hitam, tidak membeku

•DD :
• App. akut
• Adneksitis
• Torsi kista ovary
• Abortus iminens
• Ureteritis
• Th :
• Bed Rest
• Syok → Infus RL
• Cek Hb serial → Hb < antibiotik =" inj." operatif =" Laparotomi">> (lap pseudokapsular) → perdarahan dalam lumen tuba → darah mengalir ke cavum uteri-vagina (fluksus) / cavum abdomen melalui ostium tuba (hematokel retrouterina) : >> pada ampula
• Ruptur Tuba
Trofoblast & vili korialis menembus lap muskularis & peritoneum tuba → rupture dinding tuba → darah mengalir ke cavum uteri-vagina (fluksus) / cavum abdomen melalui ostium tuba (hematokel retrouterina) : >> pada isthmus
• Kehamilan Abdominal
Hasil konsepsi terlepas dari tuba → berimplantasi di cavum abdomen → mendapat vaskularisasi dari peritoneum, omentum, usus (umumnya meninggal sebelum aterm)

3. Mola Hidatidosa
• Kehamilan abnormal dimana terjadi degenerasi hidrofik pada vili korialis sehingga menyerupai buah anggur
• Klasifikasi :
1. Mola Komplet (Total/Klasik) = Janin (-)
2. Mola Inkomplet (Parsial) = Janin (+)
• Dx :
• Gejala & tanda kehamilan (amenore, gravindex +, hiperemesis gravidarum)
• Uterus lebih besar dari usia kehamilan
• PPV warna coklat
• Keluar gelembung mola
• Kadar HCG urin > 1/400
• Sondase uterus : tidak ada tahanan (Acosta Sison -)
• USG = Gambaran badai salju (Snow Flake Pattern)
• Th :
• Syok → Infus RL
• Cek DL → Hb < 8 =" Transfusi" uterotonik =" Oksitosin" kuret =" I." kuret =" 1." i =" 1x/mggu" ii =" 1x/2" berikut =" 1x/bulan" total =" ±" berikut =" 1x/2" berikut =" 1x/3"> 40 th, anak > 3 org, mola berulang)
• Komplikasi :
• Perdarahan → syok (irreversible)
• Infeksi
• Perforasi
• Tirotoksikosis
• Emboli sel trophoblas
• Keganasan → Koriokarsinoma

KORIOKARSINOMA
• Penyakit Trofoblas Jinak = Mola Hidatidosa
• Penyakit Trofoblas Ganas =
• Mola Destruens / Mola Invasif (PTG Vilosum)
• Koriokarsinoma (PTG Non-Vilosum)
• Koriokarsinoma
Tumor ganas yg berasal dari vili korialis → >> post mola hidatidosa
• Dx :
• Pernah menderita mola, abortus, atau hamil biasa
• PPV yang terus menerus
• Uterus subinvolusi postpartum / postabortum / post mola (kuret)
• Gejala metastase (Paru, Hepar, Otak, Sumsusm Tulang)
• Kadar HCG urin > 1/100 selama 3 bulan
• USG : kista lutein
•Th :
• Resiko Rendah :
◦ Metastasis hanya di panggul / paru-paru saja
◦ Titer HCG <> 100.000 IU dalam 24 jam
◦ Pengobatan dimulai > 4 bulan setelah didiagnosis
◦ Th : - Kemoterapi : MTX + Vinristin + Cisplatin
- Radioterapi

LEUKORE / FLUOR ALBUS
• Cairan yang keluar dari alat genital secara berlebihan dan bukan darah (sekret, transudasi, eksudasi)
• Asal Fluor :
1. Vulva
Dihasilkan oleh kel. Bartholini & Skene.
2. Vagina
• Berasal dari transudat & lendir serviks (infeksi → cairan seperti susu).
• pH ± 5 (Bacteri Doderlein mengubah glikogen menjadi asam laktat)
3. Servix
• Bersifat serous, liat, dan alkalis (infeksi → cairan yg liat & mukopurulen).
• Dipengaruhi hormone estrogen & progesterone.
4. Corpus Uteri
Sekret >> pada fase post ovulatoar (sekresi) & kelainan organis (endometritis, myoma, plasenta restan, hyperplasia endometrium, dll)
5. Tuba
Pada hidrosalpinx profluens
• Leukore Fisiologik :
• Bayi baru lahir – 10 hari (pengaruh estrogen)
• Pramenarche (pengaruh estrogen)
• Waktu disekitar ovulasi (pengaruh estrogen)
• Wanita dewasa yg dirangsang sebelum & pada waktu koitus
• Penyakit menahun (DM)
• Leukore Patologik : Infeksi >>
• Bakteri non-spesifik : Staphylococcus sp, Streptococcus sp, Haemophilus vaginalis
• Bakteri spesifik : Neissheria gonorrheae, Mycobacterium tuberculosis
• Protozoa : Trichomonas vaginalis
• Jamur : Candida albicans
• Virus : HSV, HPV, CMV

1. Gonorrheae
• Et : Neissheria gonorrheae
• Dx :
• Disuria
• Pyuria
• Leukore (warna kekuningan/purulen, kental, sangat banyak)
• Gatal & panas pada vagina
• In speculo : Eritema vagina
• VT : NT vulva-vagina
• PP : Sediaan dari secret vagina (Swap Vaginal) :
◦ Pewarnaan Gram = diplococcus, Gram (-)
◦ Biakan pada medium agar darah
• Th :
• Puasa senggama (suami juga diobati)
• Antibiotik :
◦ Prokain Penisilin inj. 4,8 juta IU i.m + Probenesid 1 gr
◦ Kanamisin inj. 15 mg/kg/hr i.m. dalam 3 dosis
◦ Doksisiklin 100 mg 2x1 tab
◦ Eritromisin 500 mg 4x1 tab
• Analgetik : As Mefenamat 500 mg 3x1 tab

2. Trichomoniasis vagina
• Et : Trichomonas vaginalis
• Dx :
• Leukore (warna kekuningan/purulen, encer-kental, berbuih / berbusa, bau busuk)
• Gatal, panas, & perih pada vagina
• In speculo : Eritema vagina + petekhiae
• VT : NT vulva-vagina
• PP : Sediaan dari secret vagina (Swap Vaginal) → NaCl 0,9% = protozoa, buah pir, berflagel
• Th :
• Puasa senggama
• Antiamuba :
◦ Metronidazole 500 mg 2x1 tab
◦ Metronidazole (Flagyl®) vaginal supp 1
• Analgetik : As Mefenamat 500 mg 3x1 tab

3. Candidiasis vagina
• Et : Candida albicans
• FR :
• Wanita hamil
• Akseptor pil KB
• Pemakaian antibiotik lama
• DM
• Imunodefisiensi
• Dx :
• Leukore (warna keputihan, encer, berbusa, bau apek)
• Gatal & panas pada vulva-vagina
• In speculo :
◦ Eritema vagina
◦ Membran putih pada vagina → jika diangkat mudah berdarah
• PP : Sediaan dari secret vagina (Swap Vaginal) :
◦ KOH 10% = hifa, miselium
◦ Biakan pada medium agar Saboroud
• Th :
• Puasa senggama
• Antimikotik :
◦ Nistatin oral 3x1 tab (500rb IU)
◦ Nistatin vaginal 1 tab ovula (100rb IU)
◦ Ketokonazol oral 200 mg 2x1 tab
◦ Ketokonazol vaginal 1 tube ovula
• Analgetik : As Mefenamat 500 mg 3x1 tab

►Triple Drug :
• Ampicillin inj 1 gr 3x1amp i.v. → Gram (+)
• Gentamisin inj 40 mg 2x1 amp i.v. → Gram (-)
• Metronidazol 500 mg 2x1 tab → Kuman anaerob

INFEKSI RENDAH ALAT KANDUNGAN
1. Vulvitis
• Radang pada vulva
• Et :
Infeksi = Staphylococcus, Streptococcus, Gonorrheae, Trichomonas, Candida
• Dx :
• Gatal, panas, perih pada labia
• NT vulva
• Introitus vagina & vulva eritema & bengkak (Bartolinitis → radang kel. Bartholini → kronik → Kista Bartholini → berupa benjolan yang kistik di labium majus, mobile, & nyeri)
• Th :
• Infeksi : Sesuai penyebab
◦ Amoksisilin 500 mg 3x1 tab
◦ Metronidazol 500 mg 2x1 tab
◦ Ketokonazol 200 mg 2x1 tab
• Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Bartholinitis / Kista Bartholini → ekstirpasi

2. Vaginitis / Kolpitis
• Radang pada vagina
• Et :
• Coitus >> → infeksi = Staphylococcus, Streptococcus, Haemophilus vaginalis Gonorrheae, Trichomonas, Candida
• Corpus alienum (tampon, pessarium)
• Hygiene << • Atrofi epitel pada masa senilis / menopause (estrogen <<) → Vaginitis Senilis / Vaginitis Atroficans • Dx : • Leukore (sifat sesuai penyebab) • Gatal, panas, perih pada vagina • In speculo : Eritema vagina • VT : NT Vagina • PP : Swap Vaginal • Th : • Puasa senggama • Infeksi : Sesuai penyebab ◦ Ampisilin 500 mg 4x1 tab → H. vaginalis ◦ Amoksisilin 500 mg 3x1 tab ◦ Metronidazol 500 mg 2x1 tab ◦ Ketokonazol 200 mg 2x1 tab • Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab • Vaginitis Senilis → Estrogen tab (Premarin 1,25 mg 1x1 tab) & krim pervaginam 3. Servisitis • Radang pada serviks uteri • Et : • Coitus >> → infeksi (Gonorrheae >> / sekunder dari vaginitis)
• Tindakan dilatasi serviks (laminaria, businasi)
• Alat / obat kontrasepsi (hormonal)
• Trauma (laserasi serviks)
• Dx :
• Leukore (sifat sesuai penyebab)
• In speculo :
◦ Erotio Portionis (epitel tatah endoserviks dengan stroma vaskular dibawahnya yg tumbuh sampai di luar OUE → eritema portio & mudah berdarah)
◦ Ovula Nabothi (bintik putih diatas daerah yg eritema karena tersumbatnya sekresi kel. serviks) → Servisitis Kronis
◦ Fluksus (+/-)
• VT : NT portio (-)
• Th :
• Puasa senggama
• Infeksi : Antibiotik = Siprofloksasin 500 mg 2x1 tab
• Rendam dalam AgNO3 10% / Albothyl
• Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Operatif :
◦ Konisasi (mengangkat sebagian besar endoservik)
◦ Kauterisasi / Krioterapi

INFEKSI TINGGI ALAT KANDUNGAN (PELVIC INFLAMATORY DISEASE / PID)
1. Endometritis-Myometritis
• Radang pada endometrium-myometrium uterus
• Et :
• Infeksi :
◦ Ascendens
◦ Postpartum (infeksi nifas) atau postabortum
• Komplikasi tindakan pada uterus (sondasi, kuret, pemasangan IUD)
• Dx :
• Nyeri perut bawah
• Demam
• Keluar lochia yg lama dan berbau (Lochia Purulenta)
• Leukore
• Meno-metroragia
• Th :
• Bed rest (posisi Fowler)
• Infeksi : Sesuai penyebab (Triple Drug / Broad Spectrum)
• Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Uterotonik : inj Metil Ergometrin 0,2 mg 1x1 amp i.m.

2. Salpingo-Oophoritis (Adneksitis)
• Radang pada tuba-ovarium
• Et :
• Infeksi ascendens (Gonorrheae >>, Staphylococcus, Streptococcus) → Abses Tubo-Ovarial / Kista Tubo-Ovarial
• Perkontinuitatum : apendisitis perforata
• Limfogen : servisitis → lnn. paraservikal → parametrium → adneksa
• Hematogen : infeksi pada organ lain
• Dx :
• Nyeri perut kiri / kanan bawah
• Demam & menggigil
• Menoragia
• Dismenore
• Gejala & tanda rangsang peritoneal (NT, Defence Muscular)
• VT : ◦ Nyeri goyang portio
◦ Nyeri kiri-kanan portio / uterus
• DD :
• KET
• Appendisitis
• Urethritis
• Th :
• Bed rest
• Infeksi : Sesuai penyebab (Triple Drug / Broad Spectrum)
• Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Kortikosteroid : Deksametason 0,5 mg 2x1 tab
• Abses / Kista Tubo-Ovarial → punksi
• Operatif : Salpingo-Ooforektomi
•Komplikasi : Infertilitas =
• Gangguan oogenesis-ovulasi
• Oklusi tuba (perlekatan / sikatriks)
• Gangguan motilitas cilia pada tuba

3. Parametritis
• Radang pada jaringan ikat parametrium ( jar. longgar lig. latum
• Et :
• Kelanjutan endometritis-myometritis
• Laserasi serviks
• Dx :
• Nyeri perut kiri / kanan bawah
• Demam & menggigil
• Gejala & tanda rangsang peritoneal (NT, Defence Muscular)
• VT : ◦ Uterus terdesak ke sisi yg sehat
◦ Infiltrat pada dinding panggul
• Th :
• Bed rest
• Infeksi : Sesuai penyebab (Triple Drug / Broad Spectrum)
• Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Kortikosteroid : Deksametason 0,5 mg 2x1 tab



4. Pelveoperitonitis (Perimetritis)
• Radang pada peritoneum pelvik
• Et :
• Infeksi (Gonorrheae >>)
• Komplikasi parametritis, salpingo-ooforitis, apendisitis
• Dx :
• Nyeri perut bawah
• Demam & menggigil
• Tenesmus anus
• Gejala & tanda rangsang peritoneal (NT, Defence Muscular)
• VT : ◦ Nyeri goyang portio
◦ Nyeri pada Cavum Douglasi
◦ Infiltrat pada Cavum Douglassi → Douglass Abses
• Kuldosentesis (Douglass Pungsi)
• DD :
• KET
• Hematocele retrouterina
• Tumor retrouterina
• Th :
• Bed rest (posisi Fowler)
• Infeksi : Sesuai penyebab (Triple Drug / Broad Spectrum)
• Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Kortikosteroid : Deksametason 0,5 mg 2x1 tab
• Douglass Abses → Kolpotomia posterior

FISIOLOGI HORMONAL PADA HAID-KEHAMILAN-LAKTASI
• Fase Folikel & Luteal Ovarium
GnRH (Hipotalamus) → FSH (Adenihipofisis) → perkembangan folikel ovarium menjadi Folikel De Graff → Estrogen >> → FSH <<, LH >> (LH Surge) → Ovulasi → Folikel menjadi Korpus Luteum → Progesteron >> (sel Granulosa), Estrogen >> (sel Teka) → tidak ada fertilisasi → Korpus Luteum degenerasi menjadi Korpus Albikans → Progesteron <<, Estrogen << (efek Withdrawal Bleeding) → rupture endometrium → Haid → GnRH… • Fase Proliferasi & Sekretorik Uterus Estrogen >> → proliferasi endometrium → Progesteron >> (sel Granulosa), Estrogen >> (sel Teka) → perubahan vascular dan sekretorik endometrium (persiapan untuk nidasi) → tidak ada fertilisasi → Korpus Luteum Ovarium degenerasi menjadi Korpus Albikans → Progesteron <<, Estrogen << (efek Withdrawal Bleeding) → rupture endometrium → Haid → GnRH… Jika ada fertilisasi & nidasi (terjadi kehamilan) …Korpus Luteum dipertahankan → Korpus Luteum Gravidarum → Progesteron >>, Estrogen >> → sampai terbentuk plasenta → Plasenta mengeluarkan hormone HCG, Estrogen, Progesteron → akhir kehamilan (9 bulan) → Progesteron <<, Estrogen <<, Oksitosin >> (Neurohipofisis) → Kontraksi uterus → partus

•Haid / Menstruasi
• Panjang siklus haid :
◦ Ovulatoir : 18-42 hari (± 28 hari)
◦ Unovulatoir : <> 42 hari (ovulasi (-), estrogen >, progesterone <, korpus luteum (-), endometrium proliferasi) • Lama siklus haid normal : ± 3-8 hari (± 5 hari) • Banyaknya darah : ± 50 cc (ganti pembalut ± 2x sehari) • Menarche pada umur 10-16 th (< e3 =" 10:5:1">> → produksi as. laktat oleh bakteri Doderlein >> → pH << • Kel. mammae : Proliferasi jar. ikat mammae • Pertumbuhan seks sekunder •Penggunaan dalam pengobatan : • Hipoplasia genitalis • Disgenesis ovarii (Sindrom Turner) • Mencegah laktasi (Estrogen per os 1 mggu) • Kombinasi Estrogen-Progesteron : ◦ Dismenore ◦ Gangguan haid ◦ PUD ◦ Sindrom klimakterium ◦ Kontrasepsi hormonal 2. Progesteron (Gestagen) • Preparat : • Medroksi Progesteron Asetat (MPA) • Noretisteron & Noretisteron Asetat • Norgestrel • Noretinodrel • Progesteron •Efek : • Ovarium : Mencegah pertumbuhan folikel & ovulasi • Uterus : ◦ Perubahan sekretorik endometrium ◦ Menekan kontraksi miometrium • Serviks : Mengentalkan mucus serviks • Kel. mammae : Pertumbuhan duktuli, lobuli,alveoli •Penggunaan dalam pengobatan : • Endometriosis • Mastitis • Infertilitas • Menunda haid • Kombinasi Estrogen-Progesteron : ◦ Dismenore ◦ Gangguan haid ◦ PUD ◦ Sindrom klimakterium ◦ Kontrasepsi hormonal 3. Androgen • Preparat : • Dehidrotestosteron (DHT) • Dehidroepiandrosteron Asetat (DHEAS) • Metil Testosteron • Testosteron •Penggunaan dalam pengobatan : • Sindrom klimakterium • Endometriosis • Ca Mammae •Efek samping : • Akne • Hirsutisme 4. Estrogen Sintetik Non-Steroid • Preparat : • Klomifen Sitrat • Siklofenil •Penggunaan dalam pengobatan : Infertilitas → memicu ovulasi 5. Antiestrogen, Antigestagen, Antiandrogen • Antiestrogen : Gestagen, Tamoxifen • Antigestagen : Siklofenil • Antiandrogen : Siprosteron Asetat GANGGUAN SIKLUS HAID & PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL (PUD) • PUD = Perdarahan uterus abnormal baik dari segi jumlah, frekwensi, maupun lamanya, yang terjadi di dalam / diluar siklus haid akibat gangguan fungsional poros hipotalamus-hipofisis-ovarium-uterus tanpa kelainan organik • Et : • Estrogen Breakthrough Bleeding = Estrogen >>, Progesteron << → proliferasi endometrium oleh estrogen • Estrogen Withdrawal Bleeding = Estrogen << • Progesteron Breakthrough Bleeding = Progesteron >> → endometrium atrofi & ulserasi
• Progesteron Withdrawal Bleeding = Progesteron << • Dapat terjadi pada : • Siklus Ovulatorik = Estrogen << ◦ Perdarahan pada pertengahan siklus ◦ Perdarahan akibat gangguan lepasnya endometrium ◦ Perdarahan berupa flek / bercak prahaid / pascahaid • Siklus Anovulatorik = Estrogen >>, Progesteron << • Folikel Persistens = Estrogen >>
• Klasifikasi :
1. Kelainan dlm banyaknya / lamanya perdarahan saat haid
• Hipermenore / Menoragia
Perdarahan yang lebih lama / lebih banyak dari normal (> 8 hari, ganti pembalut 5-6 x/hari)
• Hipomenorea
Perdarahan yang lebih pendek / sedikit dari normal (<> 35 hari)
• Amenore
◦ Tidak adanya haid sedikitnya 3 bulan berturut-turut :
- Primer : belum pernah haid sampai umur 18 th
- Sekunder : sudah pernah haid → tidak haid
◦ Fisiologik :
- Pramenarche
- Kehamilan & laktasi
- Postmenopause
◦ Patologik :
a. Gangguan Organik Pusat
• Radang
• Trauma
• Tumor
b. Gangguan Psikologis
• Psikosis-Depresi
• Anorexia Nervosa
• Pseudosiesis
c. Gangguan Poros Hipotalamus-Hipofisis
• Sindrom Amenore-Galaktore
• Sindrom Stein-Leventhal
• Amenore Hipotalamik
d. Gangguan Hipofisis
• Sindrom Sheehan & Penyakit Simmonds
• Tumor :
◦ Adenoma Basofil (Peny. Cushing)
◦ Adenoma Eosinofil (Gigantisme / Akromegali)
◦ Adenoma Kromofob (Sindrom Forbes-Albright)
e. Gangguan Gonad
• Kelainan Kongenital
• Disgenesis / Agenesis Ovario (Sindrom Turner)
• Sindrom Feminisasi Testikuler
• Menopause Praecox
• Sindrom Ovarium yg tidak peka
• Penghentian fungsi ovarium akibat operasi, radiasi, atau radang
• Tumor
f. Gangguan Uterus-Vagina
• Pasca Histerektomi
• Aplasia / Hipoplasia Utero-Vagina
• Sindrom Asherman
g. Gangguan Gld. Tiroid
• Hipertiroid
• Hipotiroid
h. Gangguan Gld. Suprarenalis
• Sindrom Adrenogenital
• Sindrom Cushing
• Peny. Addison
i. Peyakit Umum
• Malnutrisi
• Obesitas
j. Obat-Obatan / Hormon
• Fenotiazin
• Pasca penggunaan kontrasepsi hormonal (pil, suntik, susuk) → Post Kontrasepsi Amenore
◦ Pseudoamenore / Kryptomenore
Darah haid tidak dapat keluar karena tertutupnya jalan lahir (atresia himenalis, stenosis vagina, stenosis serviks). Komplikasi → hematokolpos, hematometra, hematosalpinx

3. Kelainan perdarahan diluar siklus haid (Metroragia)
• Perdarahan diantara 2 siklus haid / pada pertengahan siklus haid
• Et :
◦ Kelainan organik (Myoma, Ca Corpus Uteri, Endometriosis, Adenomyosis)
◦ Kelainan nonorganik (disfungsional)

►Th (1-2-3)
• Estrogen : Etinil Estradiol
• Progesteron : : ◦ Noretisteron
◦ MPA
• Androgen : Metiltestosteron
• Amenorea → kausatif

4. Gangguan lain dalam hubungannya dengan haid
• Premenstrual Tension / Premenstrual Sindrom
◦ Et :
- Gangguan keseimbangan estrogen-progesteron
- Retensi air
- Psikologi
◦ Gejala :
- Iritabilitas
- Gelisah
- Insomnia
- Mual-muntah
- Pusing
- Mastalgia
◦ Th :
- Diuretik : HCT 50 mg/hr
- Progesteron : Noretisteron
- Androgen : Metiltestosteron
- Simptomatik
• Mittelschmerz
Nyeri antara 2 siklus haid / pertengahan siklus haid (saat ovulasi)
• Dismenore
◦ Nyeri pada saat haid :
- Primer : tanpa kelainan organik
- Sekunder : ada kelainan organik
◦ Th :
- Progesteron : Noretisteron
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tab
• Mastalgia
◦ Nyeri akibat pembesaran mammae prahaid
◦ Th :
- Androgen : Metiltestosteron 5 mg
- Bromokriptine 2,5 mg

MENOPAUSE & KLIMAKTERIUM
• Klimakterium : Masa yang bermula dari akhir masa reproduksi – awal masa senium yaitu sekitar umur 40-65 th (± 45-55 th) → <<>>, estrogen << • Klasifikasi : 1. Pramenopause (4-5 th sblm menopause) 2. Menopause 3. Pascamenopause (3-5 th stlh menopause) • Dx → Sindrom Klimakterium : • Gangguan psikologik : iritabilitas, depresi, insomnia • Gangguan haid : oligo-polimenorea, hipo-hipermenorea • Gangg. neurovegetatif : hot flush, keringat dingin, pusing, berdebar-debar, mual-muntah • Gangguan somatik : osteoporosis, aterosklerosis, adipositas, vaginitis, kulit keriput, prolaps genital • Th : • Psikoterapi • Hipnotik-Sedatif : ◦ Diazepam 10 mg 3x1 tab ◦ Fenobarbital 30 mg 3x1 tab • Kalsium 1000-1500 mg/hr • Hormonal : ada 2 kelompok 1. Haid tidak teratur / masih teratur tetapi telah ada keluhan (uterus masih responsive terhadap pemberian estrogen / progesterone → haid) : • Estrogen hari ke-5-30 siklus haid & progesterone hari 20-30 siklus haid • Pil KB kombinasi 2. Sudah tidak haid / sudah di histerektomi (Uterus tidak responsive terhadap pemberian estrogen / progesterone → tidak ada haid) : Estrogen lemah (Estriol) + progesterone lemah KELAINAN UTERUS 1. Kelainan Kongenital 1. Uterus Septus Pada fundus terdapat septum tetapi korpus uteri tetap 1 (1 korpus, 1 serviks, & 1 vagina) 2. Uterus Bicornis Septum di fundus melebar sampai korpus uteri sehingga menjadi 2 kornu (2 korpus, 1 serviks & 1 vagina) 3. Uterus Didelphis Terdapat 2 korpus, 2 serviks, & 2 vagina 4. Uterus Arcuatus Fundus uteri melengkung membentuk busur / arkus 2. Retrofleksio Uteri • Uterus yang menekuk ke belakang (normal uterus dalam posisi anteversiofleksio / antefleksio) •Klasifikasi : 1. Retrofleksio Uteri Mobilis • Et : ◦ Kongenital ◦ VU penuh ◦ Asthenia ◦ Multiparitas • Dx : ◦ Sering tidak menimbulkan gejala, jika ada berupa sakit pinggang, tenesmus anus, menoragia ◦ In speculo = portio mendekati dinding anterior vagina ◦ Bimanual palpasi = Corpus uteri teraba di belakang melalui forniks posterior ◦ Sondase uterus • Th : Tidak perlu, jika ada infertilitas atau abortus habitualis perlu dipertimbangkan koreksi 2. Retrofleksio Uteri Fiksata • Et : Karena perlekatan pada dinding belakang uterus (komplikasi salpingo-ooforitis, perimetritis) • Th : Reposisi operatif 3. Retrofleksio Uteri Gravidi Inkarserata • Et : Kehamilan → karena perlekatan pada dinding belakang uterus / karena promontorium yg sangat menonjol • Dx : ◦ Disuria & retentio urin ◦ Nyeri, tenesmus anus, & obstipasi ◦ Dapat menimbulkan abortus • Th : ◦ VU dikosongkan ◦ Reposisi manual / operatif 3. Prolaps Uteri • Keluar/turunnya uterus ke dalam vagina/introitus vagina • Et : • Kelemahan otot dasar panggul • Kelemahan lig. uterus • Asthenia • TIA >>
• Partus yg sulit & lama (Distosia)
• Meneran sebelum pembukaan lengkap
• Tarikan tali pusat >> pada kala III / Perasat Crede
• Multiparitas
• Menopause
• Klasifikasi :
1. Grade I
Uterus turun sampai introitus vagina
2. Grade II
Sebagian uterus (serviks / portio) keluar dari introitus vagina
3. Grade III
Seluruh uterus keluar dari introitus vagina (Procidentia Uteri)
• Dx :
• Perasaan berat / ada yg mengganjal di vagina
• Nyeri pinggang (LBP)
• DD :
• Sistocele → akibat kelemahan diafraghma urogenitalis (fascia puboservikalis) → gejala disfungsi miksi
• Rectocele → akibat kelemahan fascia rektovaginalis → gejala gangguan defekasi (obstipasi-konstipasi)
• Inversio uteri
• Myoma Geburt
• Polip Serviks

• Komplikasi :
• Infeksi
• Luka – lecet – dekubitus
• Infertilitas
• Th :
• Latihan otot dasar panggul → seperti menahan BAB/BAK
• Reposisi → Pasang Pessarium (sementara sebelum operasi)
• Operatif :
◦ Kolpokleisis → menjahit dinding depan & belakang vagina
◦ Histerektomi Vaginal
◦ Sistocele → Kolporaphia Anterior
◦ Rectocele → Kolporaphia Posterior

4. Inversio Uteri
• Suatu keadaan dimana fundus uteri terbalik, sebagian atau seluruhnya masuk ke cavum uteri / vagina
• Et :
• Atonia Uteri
• Tarikan tali pusat >> pada kala III / Perasat Crede
• Tindakan manual plasenta
• TIA >>
• Ekspressi Kristeller yg berlebihan
• Klasifikasi :
1. Grade I
Belum keluar dari cavum uteri
2. Grade II
Masuk ke vagina
3. Grade III
Keluar dari introitus vagina (Komplit)
• Dx :
• Perdarahan post partum (Kala IV) → Syok
• Perasaan berat / ada yg mengganjal di vagina
• TFU tidak teraba
• Adanya masa dalam vagina
• DD :
• Sistokel
• Rektokel
• Prolaps Uteri
• Myoma Geburt
• Polip Serviks
• Th :
• Syok → Infus RL
• Cek DL → Hb < 8 =" Transfusi">> (jarang pada wanita pramenarche / menopause)
• Klasifikasi :
1. Myoma Submukosa
• Tumbuh di bawah endometrium (submukosa)
• Sering mempunyai tangkai yg panjang → dilahirkan melalui vagina (Myoma Geburt) → pengaruh gravitasi
2. Myoma Intramural
Terletak di dalam myometrium
3. Myoma Subserosa
• Terletak di bawah tunica serosa
• Sering tumbuh diantara dua lig. Latum (Myoma Intraligamenter)
• Sering lepas dan mendapat vaskularisasi dari omentum dan tumbuh di dalam cavum abdomen (Parasitic Myoma / Parasitic Fibroid)
• Dx :
• Riwayat Infertilitas / abortus habitualis
• PPV & gangguan siklus haid = polimenorea & meno-metroragia → anemia
• Nyeri perut bawah (dismenore / akut abdomen akibat torsi tangkai)
• Gejala obstruksi (retensio urin, obstipasi, edema tungkai)
• Pembesaran uterus → teraba masa di perut bawah, konsistensi keras, berbenjol-benjol
• PP : ◦ USG
◦ Sondase uterus > 8 cm
◦ PA : “Whorled Like Pattern”
• DD :
• Tumor Padat Ovari (TPO)
• Carcinoma Corpus Uteri
• Endometriosis Interna (Adenomyosis)
• Uterus Myomatosus → Sondase uterus <>>
◦ Degenerasi myoma (deg. merah)
• Perubahan sekunder myoma :
◦ Atrofi
◦ Deg. Hyalin
◦ Deg. Kistik
◦ Deg. Membatu
◦ Deg. Merah
◦ Deg. Lemak
◦ Deg. Ganas → Leiomiosarkoma
•Th :
• Pre/Menopause → konservatif
• Operatif =
◦ Myomektomi → ukuran <<, usia muda, belum punya anak, keluhan << ◦ Histerektomi → ukuran >>, usia lanjut, sudah punya anak, keluhan >>
◦ Myoma Geburt → ekstirpasi + kuretase

ENDOMETRIOSIS (EKSTERNA)
• Pertumbuhan jar. endometrium fungsional di luar cav. uteri
• Pred :
• Ovarium >> → Kista Endometrium / Kista Coklat
• Tuba
• Ligamentum uteri
• Peritoneum
• Rektosigmoid
• Et :
Regurgitasi transtubal (Sampson) → darah haid yg mengandung endometrium masuk ke cavum peritoneum melalui tuba dan tumbuh akibat rangsangan estrogen
• FR :
• Menikah usia tua (primigravida tua) → haid >>
• Mempunyai anak sedikit
• Sosio-ekonomi tinggi → wanita karir yg sering duduk lama
• Dx :
• Riwayat infertilitas
• PPV & gangguan siklus haid = polimenore & meno-metroragia
• Nyeri perut bawah (dismenore)
• Dispareunia
• Gangguan defekasi & tenesmus anus
• PP : Laparoskopi / Kuldoskopi → Gold Standard
•Komplikasi : Infertilitas =
• Perlekatan tuba
• Ganguan ovulasi

•Th :
• Preventif : tidak menunda kehamilan (hamil usia 20-30 th)
• Hormon :
◦ GnRH Agonis : Buserilin Asetat
◦ Progesteron : MPA
◦ Androgen : Metiltestosteron / Danazol
• Operatif :
◦ Kauterisasi → ukuran << ◦ Salpingo-Ooforektomi uni / bilateral ◦ Histerektomi subtotal / total ADENOMYOSIS (ENDOMETRIOSIS INTERNA) • Invasi jaringan endometrium ke dalam myometrium • FR : • Usia > 40 th
• Telah mempunyai anak
• Kuretase berulang
• Dx :
• PPV & gangguan siklus haid = meno-metroragia
• Nyeri perut bawah (dismenore)
• Dispareunia
• Pembesaran uterus difus → teraba masa di perut bawah, permukaan rata / tidak berbenjol
• PP : Laparoskopi / Kuldoskopi
•Th :
• Pre/Menopause → konservatif
• Operatif =
◦ Salpingo-Ooforektomi unilateral / bilateral
◦ Histerektomi subtotal / total

TUMOR ALAT GENITAL
1. Kondiloma Akuminata
• Et : Virus HPV tipe 2 & 6 → PMS
• Dx : Pertumbuhan masa (papil) seperti jengger ayam & multipel
•Th : • Tinctur Podofilin 25%
• Kauterisasi

2. Polip Serviks
• Polip yg berasal dari mukosa endoserviks
• Dx :
• Leukorrhea
• PPV : pasca senggama
• Gangguan siklus haid : meno-metroragia
• In Speculo : polip tunggal / multiple, bertangkai, permukaan rata, warna kemerahan
• Th : • Ekstirpasi
• Kauterisasi

3. Karsinoma Serviks
• FR :
• Umur 30-60 th (± 45-50 th)
• >> sudah menikah
• Hub seks / menikah usia muda
• Sering berganti pasangan
• Suami belum di sirkumsisi (pengaruh smegma)
• Multiparitas
• Virus HPV tipe 16, 18, & 32
• Sosio-ekonomi rendah
• Kebiasaan merokok
• PA :
• Batas Skuamo-Kolumnar Junction
◦ Epitel berlapis gepeng dari portio (ektoserviks)
◦ Epitel kuboid / silindris dari OUE (endoserviks)
• Pertumbuhan tumor bisa eksofitik, endofitik (invasive), ulseratif
• Histopatologi : Ca Epidermoid & Ca Sel Skuamosa
• Penyebaran :
• Perkontinuitatum : OUI, SBR, korpus uteri, Vagina, VU, Rektum
• Limfogen : lnn. para servikalis, lnn. hipogastrika, lnn. iliaka eksterna
• Hematogen : paru-paru, hati, sumsum tulang belakang
• Stadium / Staging :
• Stage T0 : Ca insitu / Ca intraepitel
• Stage T I : Ca terbatas pada serviks
Ia : Mikroinvasif
Ib : Klinik invasif
• Stage T II : Keluar dari serviks → 2/3 proksimal vagina, dan atau parametrium, tidak sampai dinding panggul
IIa : 2/3 proksimal vagina, Parametrium (-)
IIb : Parametrium (+), tidak sampai dinding panggul
• Stage T III : Keluar dari serviks → 1/3 distal vagina, atau ke parametrium, sampai dinding panggul
IIIa : 1/3 distal vagina, belum sampai dinding panggul
IIIb : Sampai dinding panggul, Hidronefrosis (+)
• Stage T IV : Keluar dari panggul
IVa : Rectum, VU
IVb : Metastasis jauh
• Dx :
• Leukore berbau busuk → infeksi & nekrosis
• PPV spontan / pasca senggama (contact bleeding) → anemia
• Dispareunia
• Gejala penyebaran / metastasis : VU (ret. Urin), ureter (hidronefrosis), rectum (konstipasi-obstipasi)
• In Speculo : masa pada servik / portio, eritema, permukaan tidak rata, rapuh, mudah berdarah, ulserasi
• PP :
◦ Pap Smear → Std awal
◦ Biopsi → std lanjut : dengan menggunakan tang biopsy lalu direndam dalam lar. Formalin
• Th :
• Std T 0-IIa :
◦ Operatif : Radikal Histerektomi
◦ Radioterapi
a. Internal / Brachiterapi (2x) : pada titik A (2 cm lateral uterus & 2 cm superior forniks) dan titik B (3 cm lateral titik A)
b. Eksternal (25x) : limfonodus & jaringan eksternal
• Std > T IIb :
◦ Radioterapi
◦ Kemoterapi : Bleomisin / Cisplatin / Mitomisin
• Ca Serviks pada kehamilan :
• UK <> 24 minggu
◦ Ditunggu sampai janin viable
◦ SC → Radikal histerektomi

► PAP SMEAR
• Alat & Bahan :
• Spatula Ayre
• Objek glass 2 buah (yg telah diberi label)
• Spekulum cocor bebek
• Tabung berisi lar. Alcohol 95% untuk fiksasi
• Tekhnik :
• Inform consent
• Persiapan alat-bahan, pasien, & pemeriksa
• Pasien dalam posisi litotomi
• Pemeriksa duduk menghadap vulva
• Asepsis & antisepsis daerah vulva & sekitarnya
• Pasang speculum cocor bebek sampai terlihat porsio
• Spatula dengan ujung pendek diusap pada permukaan forniks posterior (ektoserviks)
• Geserkan spatula pada objek glass sepanjang setengah panjang objek glass
• Spatula dengan ujung panjang diusap 360° pada permukaan kanalis servikalis (endoserviks)
• Geserkan spatula pada objek glass yg lain sepanjang setengah panjang objek glass
• Masukan segera ke dalam lar. Alcohol 95% untuk difiksasi selama 15-30 menit
• Keringkan di udara, beri label
• Kirim ke lab untuk diperiksa → masukan sediaan dalam amplop / pembungkus agar tidak pecah
•Hasil :
• Klas 0 : Sediaan tidak representative
• Klas I : Sediaan normal
• Klas II : Sel abnormal (+), tidak tersangka keganasan
• Klas III : Sel abnormal (+), meragukan keganasan
• Klas IV : Sel abnormal (+), mencurigakan keganasan
• Klas V : Pasti keganasan

4. Hiperplasia Endometrium
• Et : Estrogen >>, Progesteron << (berhubungan dengan PUD siklus anovulatorik) • Dx : PPV & gangguan siklus haid : meno-metroragia • Th : • Hormonal : Progeseteron (MPA) • Kuretase • Operatif : Histerektomi (wanita usia tua) → karena cenderung menjadi ganas 5. Karsinoma / Adenokarsinoma Korpus Uteri • FR : • Menikah usia tua • Nulipara • Genetik • Menopause • Grading (Histopatologi) : • Grade I : Berdiferensiasi baik • Grade II : Berdiferensiasi sedang • Grade III : Berdiferensiasi buruk • Grade IV : Tidak berdiferensiasi • Staging : • Stage T0 : Ca insitu • Stage T I : Terbatas pada korpus uteri Ia : Sonde Length <> 8 cm
• Stage T II : Meluas ke serviks, blm keluar dari uterus
• Stage T III : Keluar dari uterus, tidak keluar dari pelvis major
• Stage T IV : Meluas ke pelvis major (VU & Rectum) / Metastasis jauh
• Dx :
• Leukore yg berbau
• PPV & gangguan siklus haid : meno-metroragia → anemia
• Nyeri perut bawah (Dismenore)
• Pembesaran uterus → teraba masa di perut bawah, berbenjol-benjol
• Gejala metastasis
• Sondase : Sonde Length < / > 8 cm
• PP : Kuretase → histopatologi
• Th :
• Std T I – T II :
◦ Operatif : Radikal Histerektomi
◦ Radioterapi
• Std T III – T IV :
◦ Radioterapi
◦ Kemoterapi
◦ Hormonal : Progesteron (MPA)

6. Sarkoma Korpus Uteri
• PA : • Leiomiosarkoma
• Sarkoma endometrium
• Karsinoma-Sarkoma (Malignant Mixed Mesodermal Tumours / MMTs)
• Th : • Operatif : Radikal Histerektomi
• Radioterapi
• Kemoterapi adjuvant
7. Tumor Non-Neoplastik Ovarium
• Klasifikasi :
1. Tumor Radang
• Hidrosalpinx
• Pyosalpinx
• Hematosalpinx
• Kista Tubo-Ovarial (Hidrosalpinx + Kista Folikel)
• Abses Tubo-Ovarial (Pyosalpinx + Abses Ovarial)
2. Kista Retensi
• Kista Folikel
Berasal dari Folikel De Graff yg tdk berovulasi
• Kista Korpus Luteum
Berasal dari Korpus Luteum persistens
• Kista Teka Lutein
Berasal dari sel teka lutein akibat rangsangan HCG → >> pada mola hidatidosa / koriokarsinoma
• Kista Inklusi Germinal
Berasal dari isolasi epitel germinativum
• Kista Endometrium (Kista Coklat)
Berasal dari endometriosis pada ovarium
• Kista Stein Leventhal (Policystic Ovarian Syndrome) :
◦ infertilitas
◦ amenore
◦ hirsutisme tanpa maskulinisasi
◦ pembesaran ovarium
◦ obesitas
• Dx :
• Gangguan haid = meno-metroragia
• Akut abdomen → torsi tangkai
• Pseudomiksoma peritoneum → perlekatan jaringan / organ akibat ruptur dinding kista
• Teraba masa di perut bagian kiri / kanan bawah :
◦ Diameter <>> dapat melebihi 100 pound & mengisi seluruh cavum abdomen (Kistoma Ovarii Permagna)
◦ Kista berisi cairan kental seperti gelatin, warna kuning-coklat
◦ Potensi ganas (Kistadeno-Ca Musinosum)
• Kistadenoma Serosum Ovarium
◦ Unilateral / bilateral, bertangkai, multilokuler, permukaan licin
◦ Kista berisi cairan serous, warna kuning-coklat
◦ Potensi ganas >> (Kistadeno-Ca Serosum)
• Kista Dermoid
◦ Berdinding tipis, warna putih keabu-abuan, bertangkai
◦ Kista berisi elemen ektodermal, mesodermal, & endodermal


◘ Solid
• Fibroma
◦ Unilateral, permukaan tidak rata, konsistensi lunak (F. Molle) / keras (F. Durum)
◦ Berasal dari jar. ikat
• Papiloma
• Angioma
• Tumor Brenner
• Tumor sisa adrenal (Masculinovoblastoma)
• Dx :
• Gangguan haid = meno-metroragia
• Akut abdomen → torsi tangkai
• Pseudomiksoma peritoneum → perlekatan akibat ruptur dinding kista
• Gejala metastasis (ganas)
• Gejala penekanan / obstruksi → konstipasi, retensio urin, edema tungkai
• Meigs Sindrom : fibroma + asites + hidrotoraks
• Teraba masa di perut bagian bawah :
◦ Diameter > 15 cm
◦ Kistik / Solid
◦ Potensi ganas
• Th : Operatif
• Jinak :
◦ Tumorektomi (Kistektomi)
◦ Ooforektomi unilateral / bilateral
◦ Salpingo-Ooforektomi unilateral / bilateral
• Ganas :
◦ Bilateral Salpingo-Ooforektomi
◦ Panhisterektomi

9. Karsinoma Ovarium
• Stadium / Staging :
• Stage T 0 : Ca insitu / Ca intraepitel
• Stage T I : Ca terbatas pada ovarium
Ia : 1 ovarium, asites (-)
Ib : 2 ovarium, asites (-)
Ic : 1/2 ovarium, asites (+)
• Stage T II : 1/2 ovarium,penyebaran ke panggul kecil
IIa : uterus / tuba, asites (-)
IIb : panggul lain, asites (-)
IIc : IIa / IIb, asites (+)
• Stage T III : 1/2 ovarium, penyebaran keluar panggul kecil
IIIa : Penyebaran ke retroperitoneum / peritoneum di luar panggul kecil
IIIb : Penyebaran ke mesenterium, usus, omentum
• Stage T IV : Metastasis jauh & efusi pleura (+)
• Dx :
• Anoreksia, BB menurun, malaise
• Gangguan haid = meno-metroragia
• Gejala penekanan / obstruksi → konstipasi, retensio urin, edema tungkai
• Gejala metastasis / efusi pleura (+/-)
• Asites (+/-)
• Teraba masa di perut bagian bawah :
◦ Ukuran > 15 cm
◦ Progresifitas cepat
◦ Konsistensi padat (TPO)
◦ Permukaan tidak rata, berbenjol-benjol
◦ Imobil
• VT :
◦ Tumor pada parametrium
◦ Tidak bergerak pada goyangan serviks
• PP :
◦ USG
◦ Aspirasi cairan peritoneum → Sitologi
◦ Biopsi → histopatologi (PA)
• Th :
• Operatif :
◦ Std T Ia : Unilateral Ooforektomi (Korro)
◦ Std T I – T II : Panhisterektomi
◦ Std T III – T IV : Operasi Sitoreduksi
• Radioterapi
• Kemoterapi : Kombinasi
◦ CAP (Cyclophospamid + Adriamisin + Cisplatin)
◦ VAC (Vinkristin + Adriamisin + Cyclophospamid)

INFERTILITAS
• • Sterilitas : Wanita / pria yg tidak mungkin lagi mendapat keturunan
• Infertilitas : Kesuburan yg berkurang dimana suami-istri setelah bersenggama secara teratur tanpa memakai metode pencegahan belum hamil selama 1 th
• Klasifikasi
• Primer : belum pernah hamil/punya keturunan sama sekali
• Sekunder : sudah pernah hamil/punya keturunan
• Et :
• Suami :
◦ Gangguan spermatogenesis (agenesis testis, orchitis, gangguan endokrin, defisiensi vit E, oligospermia)
◦ Gangguan mekanik (impotensi, ejakulasi dini, fimosis)
• Istri :
◦ Gangguan oogenesis-ovulasi (agenesis ovari, gangguan endokrin, defisiensi vit E)
◦ Gangguan mekanik (kelainan tuba, kelainan uterus, stenosis serviks, gangguan organik)
•Pemeriksaan infertilitas :
1. Analisis Sperma
• Cara : tidak koitus selama 3 hari → periksa 1 jam setelah dikeluarkan
• Analisis :
• Volume semen (2-5 cc)
• Bau khas (bunga akasia)
• pH alkalis
• Jumlah spermatozoa (100-120 juta/cc)
• Bentuk normal (75%)
• Motilitas (60% masih bergerak setelah 4 jam)
• Hasil :
• Subfertil (20-60 juta/cc)
• Steril (<>> saat ovulasi karena pengaruh hormon progesteron)
• Vaginal Smear → sitologi
• Lendir Serviks :
◦ Spinbarkeit Tes :
- Cair (membenang) → pengaruh estrogen → mudah dilewati sperma
- Kental → pengaruh progesteron → sukar dilewati sperma
◦ Fern Tes :
- Gambaran daun pakis → pengaruh estrogen
- Gambaran daun pakis menghilang → pengaruh progesteron
◦ Sims Hubner Tes :
Post coital waktu terjadi ovulasi → normal ada 5 sperma motil per lapang pandang besar
◦ Kurzrock Miler Tes :
1 tetes lendir serviks + 1 tetes sperma → dilihat penetrasinya
◦ pH : alkalis (±9) karena pengaruh estrogen → sperma dapat hidup
• Endometrium : saat premenstrual → kuret → gambaran histologi yg khas pada stadium sekresi
• Th :
• Umum :
◦ Perbaikan gizi
◦ Pemberian Vit E
◦ <> 30 th → mengakhiri kesuburan (setelah mempunyai 2 anak)
Cara : KonTap, AKDR, Pil, Suntik, Susuk
• Jenis :
1. Kontrasepsi Alamiah
a. Pantang Berkala (Rhythm Methode)
• Tidak melakukan senggama pada masa subur (± 48 jam sebelum dan 24 jam sesudah ovulasi) / pertengahan siklus haid
• Metode yg dipakai :
◦ Metode suhu tubuh basal : suhu tubuh meningkat 0,05 – 0,2°C pada saat ovulasi → pengaruh hormon progesteron)
◦ Metode lendir serviks : setelah ovulasi lendir serviks menjadi lebih kental dan lengket karena pengaruh hormone progesterone → tidak dapat dilewati oleh sperma
b. Senggama Terputus (Coitus Interuptus)
c. Pembilasan Pasca Senggama (Post Coital Douche)
d. Pemanjangan Masa Laktasi (Prolonged Lactation)

2. Kontrasepsi Barier
a. Kondom
b. Diafraghma
c. Cervical Cap
d. Obat-obat Spermicida : supositoria, jeli / krim, tablet busa, intravag

3. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / Intra Uterine Device (IUD)
◘ Jenisnya :
a. Terbuka : Lippes Loop, Copper T
b. Tertutup : Ota Ring, Ragab Ring
◘ Bahannya :
a. Terbuat dari plastik : Lippes Loop
b. Terbuat dari baja antikarat : the Chinesse Ring
c. Mengandung tembaga : Copper T / Nova T
d. Mengandung hormon : Progestasert (Progesterone) / Levonova (Levonorgestrel)
◘ Kerja IUD :
◦ Menimbulkan reaksi peradangan pada endometrium disertai sebukan sel leukosit yg menghancurkan blastokist & sperma
◦ Yg mengandung Cu → menginaktifkan sperma
◦ Yg mengandung progesterone → mengentalkan lendir serviks
◘ Waktu pemasangan IUD :
◦ Saat haid
◦ Beberapa hari setelah haid terakhir
◦ Postpartum (40 hari)
◦ Postabortum (3 bulan)
◘ Kontraindikasi kontrasepsi IUD :
• Mutlak
◦ Kehamilan
◦ Infeksi aktif alat genital
◦ Tumor ganas alat genital
◦ Metroragia yg belum teratasi
• Relatif
◦ Mioma uteri
◦ Insufisiensi serviks
◦ Erotio portionis
◦ Parut pada uterus (bekas SC / miomektomi)
◘ Efek samping IUD :
◦ Perdarahan
◦ Infeksi
◦ Ekspulsi
◦ Perforasi → translokasi (cavum abdomen)
◦ Nyeri perut
◦ Gangguan waktu coitus pada suami

4. Kontrasepsi Hormonal
a. Pil
• Minipil
Mengandung progestin dosis rendah → diminum saat laktasi (hingga ± 9 bulan setelah melahirkan)
• Pil Kombinasi
Mengandung estrogen (etinil estradiol)-progesteron (levonorgestrel) → Microgynon®
◦ Pil yg berjumlah 21-22 → diminum mulai hari ke-5 haid,
◦ Pil yg berjumlah 27-28 (pil 21-22 mengandung hormon, 7 pil terakhir mengandung laktosa) → diminum setiap hari
• Pil Pasca Senggama (After Morning Pil)
Mengandung estrogen dosis tinggi → dipakai pada kasus perkosaan.
b. Suntik
• Waktu pemberian :
Hari ke-3–ke-5 pascapersalinan, postabortum, atau interval 5 hari pertama haid
• Jenisnya :
◦ Mengandung progestin :
- Norgestrel (Noristerat®) → tiap 2 bulan
- MPA (Depo-Provera®) → tiap 3 bulan
◦ Mengandung progestin dan estrogen : Cyclofem® → tiap bulan
c. Susuk
• Norplant®
◦ Metode kontrasepsi berjarak 5 tahun, terdiri dari 6 kapsul silatik silicon, berisi masing-masing 36 mg levonorgestrel dan disusukan di bawah kulit
◦ Dipasang saat haid, 7 hari pasca abortus, atau laktasi (6 minggu pasca persalinan)
• Implanon®
◦ Metode kontrasepsi berjarak 3 tahun, terdiri dari 1 batang putih dengan panjang 40 mm & diameter 2 mm dalam suatu jarum yang terpasang pada inserter khusus berbentuk semprit steril, berisi progestin
◦ Dipasang sebagai suntikan subkutan

◘ Kerja kontrasepsi hormonal :
• Yg mengandung estrogen :
◦ Menekan FSH → tidak ada pematangan folikel
◦ Menekan LH → tidak ada ovulasi
◦ Merangsang kontraktilitas tuba → mempercepat perjalanan ovum
◦ Endometrium tetap dalam fase proliferasi → tidak cocok untuk nidasi
• Yg mengandung progesteron :
◦ Menekan FSH → tidak ada pematangan folikel
◦ Menekan LH → tidak ada ovulasi
◦ Mengentalkan lendir serviks
◦ Menghambat kontraktilitas tuba → menghambat perjalanan ovum
◘ Kontraindikasi kontrasepsi hormonal :
◦ Kehamilan
◦ Tumor yg dipengaruhi estrogen (Mioma, Ca Mammae, Adeno-Ca Endometrium)
◦ DM
◦ Penyakit hipertensi & kardiovaskuler
◦ Gangguan hepar & ginjal
◘ Efek samping kontrasepsi hormonal :
• Yg mengandung estrogen :
◦ Mual-muntah
◦ Trombo-emboli
◦ Obesitas
◦ Pusing
◦ Hipertensi
◦ Gld. Mammae tegang
◦ Keputihan
• Yg mengandung progesterone :
◦ Akne
◦ Alopesia
◦ Keputihan

5. Kontrasepsi Mantap
a. Wanita : Tubektomi
• Pomeroy
Tuba diangkat, diikat, dan dipotong (reversible)
• Irving
Tuba diangkat, diikat, dipotong di 2 tempat, puntung proksimal ditanam pada miometrium & punting distal pada lig. latum
• Uchida
Tuba dibebaskan dari mesosalpinx pada ampula dan dipotong, mesosalpinx dijahit kembali
• Hadlener
Tuba diangkat pada pertengahan, diikat, tapi tidak dipotong
• Aldridge
Fimbriae & tuba bag. distal ditanam pada lig. latum
• Kroener
Fimbriae diangkat, diikat di 2 tempat dan dipotong (irreversible)
b. Pria : Vasektomi

JENIS-JENIS HISTEREKTOMI
•Sub Total Abdominal Histerektomi (STAH)
Uterus diangkat tanpa disertai SBR
•Total Abdominal Histerektomi (TAH)
Uterus diangkat bersama dengan SBR
•Radikal Histerektomi
TAH + 1/3 Proksimal Vagina + Bilateral Salpingo-Ooforektomi (BSO) + Limfadenektomi Regional (Paraservikal, Hipogastrika, Obturatoria, Parailiaka, Paraaorta)
•Panhisterektomi
TAH + BSO + Appendektomi + Omentektomi

ANATOMI ALAT GENITAL
•Diafraghma Pelvis :
• M. Levator Ani
• M. Koksigeus
•Diafraghma Urogenital :
• M. Transversus Perinei Superfisialis
• M. Transversus Perinei Profundus
• M. Bulbokavernosus
• M. Ischiokavernosus
• M. Sphincter Ani Eksternus
•Ligamentum
• Uterus :
◦ Lig. Kardinale (Mackenrodt)
◦ Lig. Sakrouterinum
◦ Lig. Latum
◦ Lig. Rotundum
• Ovarium
◦ Lig. Ovari Proprium
◦ Lig. Suspensorium Ovari
•Kel. Limfe :
• lnn. Paraservikalis
• lnn. Iliaca Eksterna
• lnn. Hipogastrika
• lnn. Obturatoria
• lnn. Paraaorta

INTERMEZZO
• Tumor Adneks
Pembesaran / masa di sebelah kiri / kanan uterus dan tidak diketahui apakah itu berasal dari tuba / ovarium serta tidak / belum diketahui apakah itu proses peradangan atau neoplasma

• Bedah Beku (Frozen Section)
• Pemeriksaan histopatologis dengan mengambil jaringan yang dilakukan durante operasi.
• Tekhnik : Saat operasi dilakukan pemotongan jaringan dari organ yg dicurigai keganasan → dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA)
• Tujuan : untuk menentukan ada / tidaknya sel ganas / derajat keganasan sebagai pedoman untuk menentukan terapi yg akan diambil selanjutnya

• Syarat Radioterapi :
• KU baik
• Laborat :
◦ Hb > 10 gr%
◦ Trombosis dbn
◦ Leukosit dbn
◦ SGOT / SGPT dbn (fungsi hati baik)
◦ Ureum / Kreatinin dbn (fungsi ginjal baik)

2 komentar:

  1. Makasih yaaa blognya bagus...

    BalasHapus
  2. blognya ngebantu bangeeett buat coass obgyn, thank you yaaa :D

    BalasHapus