Pengikut

Sabtu, 16 April 2011

Materi Psikiatri



Terimakasih untuk dr.Pram,SpkJ-dr.agus,Spkj-dr.Eunice,SpKj-dr.Rudy,SpKj

RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO
SUBDEP PSIKIATRI

1. DELIRIUM

1. PENGERTIAN
Delirium adalah suatu sindroma yang terdiri dari gangguan kesadaran dan kognitif dengan awitan akut dan fluktuatif (gejala membaik-memburuk silih berganti). Di mana terdapat gangguan kemampuan memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan konsentrasi; serta perubahan kognisi (gg daya ingat, disorientasi, gg berbahasa, judgment) dan persepsi (halusinasi), yang terjadi dalam durasi singkat, beberapa jam - hari - minggu.
a. Kategori : a. Delirium akibat kondisi medik umum (misalnya infeksi)
b. Delirium terinduksi zat (kokain, opioid, dll)
c. Delirium akibat etiologi ganda (trauma kapitis dan ggn ginjal)
d. Delirium tak tergolongkan (deprivasi tidur)
e. Delirium tak terinci

b. Etiologi :
1) Intracranial : epilepsi, trauma, infeksi, tumor, GPDO
2) Extracranial : ggn sistemik ( gg metab, gg ginjal,paru,jantung, hormon, sepsis, defisiensi vit B1,B12,as folatdll) dan intoxikasi atau withdrawal obat & toxin).

c. Kriteria Diagnosis ( durasi sakit bbrp hari – minggu )
a. Gangguan kesadaran (memusatkan, mempertahankan, mengalihkan perhatian) disebut kesadaran “berkabut”, menurun. Fluktuasi kesadaran (siang tenang, malam gelisah)
b. Gangguan fungsi kognitif :
1) disorientasi : waktu, tempat, terakhir terganggu thd orang
2) gangguan daya ingat (t.u. recent memories),gg memori/amnesia temporer
3) gangguan berbahasa
4) gangguan persepsi (ilusi atau halusinasi tersering visual)
c. Gangguan konsentrasi : perhatian mudah teralih
d. Gg pola tidur bangun : siang tenang, malam gelisah
e. Gg psikomotor : gelisah/agitasi, atau sub/stupor
f. Gg perasaan: marah, cemas,atau eforia/gembira berlebihan
g. Bisa sembuh sempurna, coma atau meninggal

2. TUJUAN
Mengembalikan status fisik, mental dan social penderita kepada keadaan sehat.



3. KEBIJAKAN
a. International Classification of Diseases ( ICD-10 ), WHO, New York, 1992.
b. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed., American Psychiatric Association, Washington DC, 2000.
c. Kaplan and Sadock, Synopsis of Psychiatry, 10th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2007

4. PROSEDUR
a. Pemeriksaan penunjang :
1) Laboratorium : DL, UL,LFT,RFT,elektrolit, Astrup, gula darah, Widal, LCS dll
2) Radiologi : Roentgen al. thorax, head; CT Scan, MRI
3) Lain : EKG, EEG, dll

b. Tata laksana
1) Atasi kausa & simptomatis : antibiotika, neurotropika, hormone dll
2) Perbaiki kondisi fisik (ABCD), perbaiki vital sign (infus, simptomatik dll)
3) Ruangan harus tenang, cahaya remang dan dijaga orang yang dikenal.
4) Psikoterapi : Bantu orientasi, bangkitkan insight /kesadaran diri
5) Farmakoterapi : drug of choice Injeksi Haloperidol 2-6 mg IM.
Bila perlu ulangi Inj.Haloperidol 2-6 mg IM, tiap 1 jam. Maximal 3 kali.
Lanjutkan dengan Tab.Haloperidol 5-40mg/hari, liquid /tablet(2-3x/hr)
Tab. Benzodiazepin : tab. Lorazepam 1-3 x 0,5-2mg/hr.
Boleh salah satu dari : risperidone 2 x 1-3 mg, clozapine 2-3 x 25-300mg, olanzapine 1x5-10mg , quetiapine 2x25-300mg, aripriprazole 1-3x5-30mg.
Hindari PHENOTHIAZINE(efek antikolinergik, hipotensi ortostatik )
HATI-HATI : Clozapine menyebabkan agranulositosis. Periksa lekosit darah tiap 1-2 minggu sekali.
Awas : kontraindikasi pemberian Benzodiazepine pada intoksikasi alcohol,
asma bronkial dan kesadaran menurun.

c. Penyulit dan prognosis
Setelah 3-7 hari, mungkin 2 minggu, delirium sembuh sempurna. Ia mungkin mengalami amnesia temporer ( tak ingat saat ia mengalami delirium). Bila factor organic/etiologi berat dan keadaan fisik tak teratasi dengan baik, dapat meninggalkan sequele, bahkan pasien dapat meninggal.

5. UNIT TERKAIT
Sesuai bidang organic/fisik yang menjadi penyebab Delirium : ICU, ICCU, Interna, Pediatri, Bedah, Anestesi, Jantung, Saraf, Gilut, Mata, THT, Kulit, Obstetri-Ginekologi, Radiologi, Laboratorium Patologi Klinik, Patologi anatomi, Hiperbarik, dll.

2. DEMENSIA

1. PENGERTIAN
a. Demensia adalah terganggunya (cukup serius) fungsi kognitif yaitu : daya ingat, judgment/mengambil keputusan, orientasi dan fungsi kognitif lain. Gejalanya : afasia, apraxia, agnosia, gg fs eksekutif, tanpa ggn kesadaran. Antara lain : menurunnya inteligensia, kemampuan belajar dan ingatan, berbahasa, menyelesaikan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, pengambilan keputusan, kemampuan social dan kepribadian.
Enam subkategori :
a. Demensia Alzheimer : usia >65 th, gg intelektual progresif, waham atau depresi
b. Demensia vascular : akibat trombosis atau perdarahan.
c. Demensia akibat kondisi medik umum : HIV, trauma kepala, peny Pick, Creutzfeldt - Jakob.
d. Demensia terinduksi zat : toxin, medikasi misalnya atropine.
e. Demensia etiologi ganda.
f. Demensia tak tergolongkan (tak tahu etiologinya)

b. Etiologi : trauma kapitis, alcohol, Huntington, Parkinsonisme, Pick, Creutzfeldt-Jacob, HIV, neurosifilis. Juga defisiensi B1,B12,niacin, folat, pengaruh obat, gg metabolic, hiperkalsemia. Tumor otak, hidrosefalus dll.

d. Kriteria Diagnosis/Gejala :
Gg/penurunan kontinu dan gradual daya ingat, dan salah satu gg kognitif ( afasia, apraxia, agnosia, atau gg fs eksekutif ). Juga hendaya social atau pekerjaan,. Pada D. vascular : ada gg saraf, meningkatnya deep tendon reflex, gg berjalan, kelemahan ekstremitas dll). Ada infark serebri.

1). Kriteria Diagnosis Demensia Alzheimer
A. Defisit ganda dari fungsi kognitif tdd :
1) Gangguan ingatan ( mempelajari informasi baru atau mengingat kembali info yang pernah dipelajari/didapat sebelumnya)
2) Satu atau lebih dari gg kognitif di bawah ini :
a) afasia
b) apraxia
c) agnosia
d) gg fungsi eksekutif (merencana, mengorganisasi, melakukan berurutan, pikiran abstrak)
B. Gangguan A1 dan A2 mengakibatkan hendaya dalam fungsi social dan pekerjaan, juga menunjukkan menurunnya taraf fungsi tersebut dibandingkan sebelumnya.
C. Onset terjadi secara perlahan dan ada penurunan fungsi kognitif terus menerus.
D. Penurunan kognitif sesuai A1 dan A2 TIDAK DISEBABKAN karena :
1) gg system saraf pusat lain yang menyebabkan deficit progresif dari ingatan dan kognisi (CVD, Parkinsonism, Huntington, subdural hematom, NPH, tumor otak)
2) kondisi sistemik penyebab demensia ( hipotiroid, defisiensi B12, asam folat, niacin ; hiperkalsemia, nerosifilis, HIV).
3) kondisi terinduksi zat.
E. Gangguan TIDAK terjadi pada waktu bersamaan dengan Delirium.
F. Tidak disebabkan karena diagnosis pada Axis I (Depresi mayor, Skizofrenia)
Subtipe : onset >65 th dan <65 tahun. Tanpa gangguan perilaku atau dengan gg perilaku (agitasi).

2). Kriteria diagnosis Demensia Vaskular
A. Defisit ganda fungsi kognitif tdd :
1) gangguan ingatan (gg belajar info baru atau mengingat kembali info yang pernah dipelajari/ingat sebelumnya).
2) Satu atau lebih dari gg kognitif :
a) afasia
b) apraxia
c) agnosia
d) gg fungsi eksekutif (merencana, mengorganisasi, melakukan berurutan, pikiran abstrak)
B. Defisit fungsi kognitif sesuai A1 dan A2 masing-masing mengakibatkan hendaya bermakna dalam fungsi social dan pekerjaan, juga menurunnya fungsi secara bermakna dibandingkan taraf sebelumnya.
C. Tanda dan gejala nerologis (meningkatnya reflex tendon, respons plantar ekstensor, pseudobulbar palsy, gg gaya berjalan, lemahnya extremitas) atau kelainan laboratories yang mengarah pada CVD (infark multiple meliputi kortex dan subs alba).
D. Defisit TIDAK terjadi bersamaan dengan Delirium.
Catatan : Dengan Delirium /dengan Waham / dengan Depresi /tanpa komplikasi

2. TUJUAN
Mengembalikan kesehatan fisik, mental dan social.
3. KEBIJAKAN
a. International Classification of Diseases ( ICD-10 ), WHO, New York, 1992.
b. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed., American Psychiatric Association, Washington DC, 2000.
c. Kaplan and Sadock, Synopsis of Psychiatry, 10th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2007
4. PROSEDUR
a. Pemeriksaan penunjang :
a. Laboratorium : DL, UL,LFT,RFT, elektrolit, Astrup, gula darah, TPHA, HIV dll
b. Radiologi : Roentgen al. thorax, CT Scan, MRI,dll
c. Lain : EKG, EEG, EMG dll
d. Psikotest Mini Mental State, Halsted-Reitan test dll
b. Terapi
a. Perawatan medik umum. Farmakoterapi : antianxietas, antidepresan, antipsikotik, antikonvulsan, hormon, vitamin, antipsikotik dll. Cholinsestrase inhibitor (mengurangi inaktivasi nerurotransmiter kolinergik sehingga memperbaiki memori dan pikiran bertujuan, antara lain : donepezil, /Aricept, rivastigmine/Exelon, galantamine/ Reminyl. Bila gelisah atau ada gejala psikosis, diberikan Haloperidol atau antipsikotik
b. Diet, latihan fisik, rekreasi, terapi aktivitas, atasi gg visus dan pendengaran.
c. Terapi psikososial
1) Terapi kognitif : koreksi gg kognitifnya
2) Terapi stimulasi : rekreasi, seni, dansa, hewan peliharaan dll
3) Terapi ingatan : mengingat masa lalu (perbaiki mood)
c. Penyulit dan prognosis
Awitan khas demensia pada usia 50-60 th, dg deteriorasi gradual dalam 5-10 th, bahkan sampai meninggal. Harapan survival dem Alzheimer 8 th (1-20 th). Bila terD/ demensia, segera periksa lengkap dan terapi, krn 10-15% reversible sebelum ada brain damage.
5. UNIT TERKAIT :
Subdep Interna, Saraf, Laboratorium, Radiologi, Jantung, Obstetri-Ginekologi, Laboratorium Patologi Klinik, Patologi anatomi, Hiperbarik, Apotik dll

3. PENYALAHGUNAAN ZAT

1 . PENGERTIAN
Penyalahgunaan zat adalah suatu efek psikologik (ketergantungan psikologik) atau efek fisiologik (ketergantungan fisik) akibat penggunaan patologis dari suatu zat secara periodic. Ada toleransi dan sindroma putus zat. Intoksikasi adalah keadaan non dependensi/bukan ketergantungan, yang reversible, akibat penggunaan zat yang mengnyebabkan terjadinya hendaya/impairment.
Macam zat : alcohol, amphetamine, ganja, kokain, kafein, halusinogen, inhalansia, nicotine, opioid, phencyclidine, sedatif, hipnotika atau anxiolitik, steroid.
Sedativa : obat yang mengurangi ketegangan subyektif dan menginduksi ketenangan mental dapat disebut juga menyerupai anxiolitik.
Hipnotika : obat tidur.

a. Kriteria Diagnosis
1) KRITERIA DIAGNOSIS INTOKSIKASI ZAT
A. Ada sindrom khas terkait zat yang reversible akibat memakai atau terpajan pada zat. Cat : beberapa zat berbeda dapat memberi gejala mirip.
B. Perilaku maladaptive atau perubahan psikologik secara klinik yang bermakna akibat efek zat pada CNS(emosi labil, gg kognitif, gg mengambil keputusan, gg fungsi social dan kerja). Hal ini terjadi segera/jangka pendek setelah pemakaian zat.
C. Tidak akibat kondisi medik umum atau gangguan mental lain.
1a) Intoksikasi Opioid
A. Baru saja menggunakan opioid
B. Perubahan perilaku atau mental yang bermakna secara klinis (misal eforia diikuti apatis, disforia, agitasi psikomotor atau retardasi, gangguan mengambil keputusan atau hendaya social, pekerjaan) yang terjadi saat penggunaan atau segera setelah memakai zat.
C. Konstriksi pupil (atau dilatasi akibat anoksia karena overdosis) dan satu/lebih dari (saat memakai atau segera setelah pakai) :
1) kesadaran menurun atau coma
2) bicara pelo/slurred
3) gangguan perhatian atau daya ingat
D. Tidak akibat kondisi medik umum atau gangguan mental lain.

1b) Intoksikasi Amfetamin
A. Baru saja menggunakan amfetamin atau sejenis (metilfenidat).
B. Perubahan perilaku atau mental yang maladaptive dan bermakna secara klinis (misal eforia atau afek tumpul, sensitive, tegang, cemas atau marah, perilaku stereotipik, gangguan mengambil keputusan,hendaya fungsi social, pekerjaan) yang terjadi saat penggunaan atau segera setelah memakai zat.
C. Dua/lebih dari (saat memakai atau segera setelah pakai) :
1) takikardi atau bradikardia
2) dilatasi pupil
3) tensi naik atau turun
4) berkeringat atau menggigil
5) mual atau muntah
6) berat badan turun
7) agitasi atau retardasi psikomotor
8) kelelahan otot, depresi pernafasan, nyeri dada atau aritmia cordis
9) bingung, kejang, diskinesia, distonia atau koma
D. Tidak akibat kondisi medik umum atau gangguan mental lain.

1c) Intoksikasi Alkohol
A. Baru saja menggunakan alkohol.
B. Perubahan perilaku atau mental yang maladaptive dan bermakna secara klinis (misal perilaku agresif dan perilaku seksual yang kacau, perasaan yang labil, gangguan mengambil keputusan,hendaya fungsi social, pekerjaan) yang terjadi saat penggunaan atau segera setelah memakai zat.
C. Satu/lebih dari (saat memakai atau segera setelah pakai) :
1) slurred speech/pelo
2) gangguan koordinasi
3) gaya berjalan sempoyongan
4) nistagmus
5) gangguan perhatian atau daya ingat
6) stupor atau koma
D. Tidak akibat kondisi medik umum atau gangguan mental lain.
1d) Intoksikasi Sedatif, Hipnotika dan Anxiolitik
A. Baru saja memakai.
B. Perilaku maladaptif atau perubahan psikologik bermakna (misalnya perilaku aresif atau sexual yang tidak lazim, mood labil, gangguan pengambilan keputusan, fungsi sosial atau pekerjaan yang terganggu ) segera setelah atau saat memakai zat.
C. Salah satu dari tanda di bawah ini saat memakai atau segera setelah memakai :
1) bicara cadel/pelo
2) gangguan koordinasi
3) gaya berjalan labil
4) nistagmus
5) gangguan perhatian atau memori
6) stupor atau koma
D. Tidak disebabkan kondisi medik umum dan tidak akibat gangguan mental lain.
Contoh :
- Benzodiazepin : diazepam, flurazepam, oxazepam, chlordiazepoxide/Libirum.
- Barbiturate : phenobarbital/Luminal, secobarbital, amytal.
- Barbiturate-like ; metaqualone/Mandrax, meprobamate, chloralhydrate.

b. SINDROMA PUTUS ZAT / WITHDRAWAL (SPZ)
A. Ada sindrom khas terkait zat akibat penurunan penggunaan zat yang telah lama dipakai secara berkesinambungan dan berjumlah besar.
B. Sindrom ini mengakibatkan hendaya klinik bermakna dl fungsi social, pekerjaan atau fungsi lain.
C. Tidak akibat kondisi medik umum atau gangguan mental lain.

2a) SPZ : Opiat/Opioid (morfin, heroin, methadone, codeine, fentanyl)
A. Salah satu dari :
1) penurunan dosis opioid setelah penggunaan jangka lama dan dosis besar.
2) pemakaian antogonis opioid setelah suatu periode penggunaan opioid
B. Tiga/lebih dari sbb (dalam beberapa menit sampai beberapa hari) :
1) perasaan disforik/tidak senang/tak nyaman
2) mual atau muntah
3) nyeri otot
4) lakrimasi atau rhinorrhea
5) dilatasi pupil, piloereksi atau berkeringat
6) diare
7) menguap (yawning)
8) demam
9) insomnia
C. Gejala criteria B mengakibatkan gangguan atau hendaya klinis dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
D. Tidak disebabkan oleh kondisi medik umum atau karena gangguan mental lain.

2b) SPZ : Amfetamin (sabu, ecstasy,dextroamfetamin)
A. Penurunan dosis amfetamin setelah penggunaan jangka lama dan dosis besar.
B. Suasana perasaan disforik/tidak senang dan dua/lebih dari sbb(dalam beberap menit sampai beberapa hari setelah kriteria A) :
1) fatigue/kelelahan
2) mimpi buruk
3) insomnia atau hipersomnia
4) meningkatnya nafsu makan
5) retardasi atau agitasi psikomotor
C. Gejala criteria B mengakibatkan gangguan atau hendaya klinis dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
D. Tidak disebabkan oleh kondisi medik umum atau karena gangguan mental lain.

2c) SPZ : Alkohol
A. Penurunan dosis alcohol setelah penggunaan jangka lama dan dosis besar.
B. Dua/lebih dari sbb(dalam beberapa jam sampai beberapa hari setelah kriteria A) 1) hiperaktivitas otonomik (berkeringat, nadi cepat > 100x/menit)
2) tremor tangan
3) insomnia
4) mual atau muntah
5) halusinasi atau ilusi visual, auditorik, taktil (temporer)
6) agitasi psikomotor
7) cemas
8) kejang umum
C. Gejala criteria B mengakibatkan gangguan atau hendaya klinis dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
D. Tidak disebabkan oleh kondisi medik umum atau karena gangguan mental lain.

2d) SPZ Hipnotik, Sedatif dan Anxiolitik
A. Pengurangan sedatif, hipnotik atau anxiolitik setelah pemakaian berat dan lama
B. Dua atau lebih dari di bawah ini dalam beberapa jam – hari setelah kriteria A :
1) hiperaktivitas otonomik (berkeringat, nadi > 100)
2) tremor tangan meningkat
3) insomnia
4) nausea atau muntah
5) halusinasi atau ilusi sementara (visual, taktil atau auditorik)
6) agitasi psikomotor
7) cemas
8) kejang umum/grand mal
C. Gejala kriteria B mengakibatkan distress/gangguan atau hendaya bermakna di bidang sosial, pekerjaan atau fungsi pentinga lainnya.
D. Tidak disebabkan oleh kondisi medik umum dan tidak disebabkan oleh gangguan mental lain.
Sebutkan jika : dengan gangguan perseptual.

c. KRITERIA DIAGNOSIS KETERGANTUNGAN ZAT/ Drug Dependency
Pola maladaptive penggunaan zat menunjukkan hendaya bermakna secara klinis, yang tampak dari 3 atau lebih gejala tsb di bawah ini; yang terjadi setiap saat, dalam kurun waktu 12 bulan :
1) toleransi :
a) kebutuhan yang nyata akan peningkatan dosis zat untuk mencapai efek intoksikasi atau yang diinginkan.
b) efek yang jelas-jelas menurun pada penggunaan zat dalam jumlah yang sama
2) withdrawal/sindroma lepas zat :
a) gejala khas SLZ = criteria Dx SLZ di atas
b) menggunakan zat yang sama untuk meredakan atau mengcegah symptom SLZ
3) zat sering dipakai dalam jumlah besar atau berdurasi lebih lama daripada yg diakui
4) ada keinginan menetap atau gagal menghentikan/kendalikan penggunaannya
5) banyak waktu digunakan untuk aktivitas untuk memperoleh zat (mis sering ke dokter, menggunakan zat (misal merokok beruntun)
6) menurunnya aktivitas social, pekerjaan atau rekreasional
7) pemakaian zat diteruskan walaupun tahu akibat menetap atau kambuhan dari masalah fisik atau psikologis akibat penggunaan zat (mis minum alcohol walau tahu akibatnya ulcus peptic)
Catatan : Jelaskan bila : Dengan/Tanpa ketergantungan fisiologis.

2. TUJUAN
Mengembalikan kesehatan fisik, mental dan social penderita.
3. KEBIJAKAN
a. International Classification of Diseases ( ICD-10 ), WHO, New York, 1992.
b. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed., American Psychiatric Association, Washington DC, 2000.
c. Kaplan and Sadock, Synopsis of Psychiatry, 10th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2007
4. PROSEDUR
a. Pemeriksaan penunjang
1) Darah : DL, UL, LFT, RFT, gula darah, blood gas analysis, elektrolit, urine toksikologik. Hepatitis dll.
2) Roentgen : thorax, USG, dll sesuai indikasi.
3) VCT : untuk dugaan HIV pada intravenous drug users ( IDU ).
4) Test psikologik dan MMPI..

b. Tata laksana (sesuai zat)
4a. Intoksikasi Opioid
1) Atasi, pelihara dan monitor vital sign./VS (ABCD).
2) Anamnesis cepat : riwayat pakai zat, tanda percobaan bunuh diri dll.
3) Periksa tanda bekas suntikan, ada selulitis, hepatitis, sepsis dll.
4) Cek urine toksikologik
5) Tempatkan di ICU bila overdosis (depresi pernafasan, SSP dll).
6) Inj Naloxone/NOKOBA 0,8 mg IV/SC/IM (0,01 mg/kg BB pd neonatus) tiap 15 menit. Bila pupil belum midriasis, beri 1,6 mg, tunggu 15 menit. Bila belum midriasis, beri lagi 3,2 mg. Beri lagi 6,4 mg. Bila belum berhasil (jumlah total 10 mg) artinya ada penyebab lain. Bila berhasil, beri tiap jam 0,4 mg. sambil monitor VS ketat sampai sadar betul (2 jam). Hati-hati depresi pernafasan!!

4b. SPZ Opioid
1) Atasi dan monitor vital sign. (ABCD)
2) Anamnesis cepat : riwayat pakai zat.
3) Periksa tanda bekas suntikan, ada selulitis, hepatitis, sepsis dll.
4) Cek urine toksikologik
5) Periksa tanda SLZ (piloereksi, pupil, hipertensi)
6) Tab. Methadone tiap 4-6 jam bila tanda SLZ masih ada. Dosis total 40mg/24jam. Kurangi 5 mg tiap hari.
7) Bila tensi lebih dari 90/60, beri tab. Clonidine 0,1-0,2mg tiap 3 jam. Maximum 0,8 mg/24 jam. Tapering off dalam 2 minggu.
8) Bila gaduh gelisah, dapat inj.Chlorpromazine 50-100mg IM tiap 45-60 menit atau Inj. Haloperidol 5 mg IM tiap 30-60 menit sampai tenang.
9) IVFD RL : Dextrose 5 + 2:1 fl, drip Diazepam 10mg/500cc cairan. 20 gtt/menit.
10) Bila kesakitan Inj Tramadol 50 mg IM. Tab. Tramadol 3 x 5m mg.

4c. Intoksikasi Amfetamin
1) Atasi, pelihara dan monitor vital sign./VS (ABCD).
2) Anamnesis cepat : riwayat pakai zat.
3) Periksa tanda intoksikasi amfetamin/multidrug use.
4) Cek urine toksikologik
5) Tempatkan di ruang tenang, cahaya remang, dijaga orang yang dikenal.
6) Bila gelisah, beri tab.lorazepam 2-3 1-2mg/hari, estazolam 2-3 x 0,5-1mg/hari.

4d. SPZ Amfetamin
1) Atasi, pelihara dan monitor vital sign./VS (ABCD).
2) Anamnesis cepat : riwayat pakai zat, depresi, evaluasi tanda percobaan bunuh diri.
3) Periksa tanda slz amfetamin/multidrug use
4) Cek urine toksikologik
5) Bila ada cemas, beri lorazepam tab 3 x 1-2 mg/hari. Antidepresan bila perlu Bila perlu beri antipsikotik tab. haloperidol atau trifluoperazine 2 x 2-5 mg/hari; risperidone 2 x 1-3 mg/hari.

4e.Intoksikasi Alkohol
1) Atasi, pelihara dan monitor vital sign./VS (ABCD).
2) Anamnesis cepat : riwayat pakai zat.
3) Periksa tanda intoksikasi alkohol/multidrug use, tanda percobaan bunuh diri.
4) IVFD. Selimuti agar tidak kedinginan. Biarkan. Self limiting.

4f. SPZ Alkohol
1) Atasi, pelihara dan monitor vital sign./VS (ABCD).
2) Anamnesis cepat : riwayat pakai zat.
3) Periksa tanda intoksikasi alkohol/multidrug use.
4) Hidrasi/IVFD. Bila gelisah, tab chlordiazepoxide 2-3 x 25-50 mg/hari atau lorazepam 2-3 x 1-3mg/hari.
5) Inj Thiamine 100mg IM, lalu 3x100mg tab vit B1, vit B12 dan asam folat.

4g. Intoksikasi Sedatif, Hipnotik dan Anxiolitik
1) Lavage lambung, induksi muntah dan minumkan arang aktif untuk mencegahan absorpsi zat oleh lambung. Monitor ketat vital sign dan aktivitas susunan saraf pusat.
2) Bila pasien datang dalam keadaan sadar, jaga jangan sampai kehilangan kesadaran.
3) Bila pasien coma, pasang infus, monitor vitas sign, pasang tuba endotrakheal dan ventilator di ICU.
4h. SPZ Sedatif, Hipnotik dan Anxiolitik
1) Evaluasi dan terapi lebih dulu kondisi medik dan psikiatrik.
2) Ambil riwayat dan contoh darah dan urine untuk zat dan alkohol
3)Tetapkan dosis benzodiazepin atau barbiturat yang diperlukan untuk stabilisasi dari riwayat pemakaian dan gejala klinis.
4) Detoksifikasi :
a) Rawat inap bila ada indikasi, atau tak ada dukungan sosial atau ketergantungan multi zat.
b) Alih terapi ke BZP long-acting (diazepam, clonazepam) atau tetap pada obat semula atau ganti dengan fenobarbital.
c) Setelah pengurangan 30 % dari dosis semula dan stabil pada hari ke 2 atau 3 evaluasi respons, ingat bahwa gejala setelah penurunan bzp dengan waktu paruh pendek (mis lorazepam)tampak lebih dini dibanding yang waktu paruhnya panjang.
d) Kurangi dosis 10-25 % tiap beberapa hari, bila ia dpt bertoleransi.
e) Bila perlu terapi adjunctive : carbamazepine, antagonis reseptor beta adrenergik, valproate, clonidine dan antidepresan yang sedatif.
5) Detoksifikasi :
a) Mulai kurangi dosis 10-25 %dan evaluasi respons.
b) Terapi adjunctive anxiolitik bila perlu.
c) Kebanyakan pasien tidak menyelesaikan terapi penurunan dosisnya.
6) Intervensi psikologik dapat membantu detoksifikasi benzodiazepine dan intervensi kecemasan

Penyulit dan prognosis
1) Penyulit : Amfetamin : perforasi septum nasi, MCI, paranoid,
Opioid : phlebitis, cellulitis, hepatitis, endocarditis, meningitis, encephalitis, IMS, HIV/AIDS dan infeksi oportunistik, TB paru, candidiasis, dermatitis dll. Alkohol : delirium tremens, sindroma Korsakoff, ensefalopatia Wernicke.
2) Prognosis : tergantung zat. Amfetamin dan Cannabis lebih baik dibandingkan alcohol, opioid.

UNIT TERKAIT ;
Sesuai bidang organic/fisik yang menjadi pusat perhatian terapi : ICU, ICCU, Interna, Pediatri, Bedah, Anestesi, Jantung, Saraf, Gilut, Mata, THT, Kulit, Obstetri-Ginekologi, Radiologi, Laboratorium Patologi Klinik, Patologi anatomi, Hiperbarik, dll.


4. SKIZOFRENIA dan GANGGUAN PSIKOSIS SINGKAT

1. PENGERTIAN
Skizofrenia adalah kumpulan gejala/sindroma klinik yang kacau, dengan psikopatologi meliputi gangguan daya nilai realita, kognisi, emosi, persepsi dan aspek lain dari perilaku. Biasanya mulai sebelum usia 25 tahun, dapat menetap dan mengenai semua strata sosial.

a. Kriteria Diagnosis SKIZOFRENIA
A. Gejala khas :
Dua atau lebih gejala berikut ini, di mana gejala tersebut menetap minimal satu bulan (boleh kurang, bila nyata-nyata sukses diobati) :
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara kacau : inkoheren
4) Perilaku kacau : gaduh-gelisah atau stupor
5) Simptom negative : afek datar, alogia, avolition/hilangnya kemauan
Catatan : Hanya diperlukan SATU criteria A bila ada :
a. Waham aneh yang menonjol
b. Halusinasi yang terus-menerus mengomentari perilaku atau pikirannya; atau halusinasi yang tdd dua atau lebih suara yang saling berbicara.

B. Hendaya fungsi social/pekerjaan, hubungan antar personal : gangguan fungsi kehidupan hampir sepanjang / setiap hari, dimulai sejak munculnya gangguan. Kualitasnya menurun dibandingkan sebelum sakit, atau jika onset gangguannya dimasa kanak-kanak atau remaja, terjadi kegagalan pencapaian ke tingkat yang semestinya di bidang hubungan antar personal, akademik atau pekerjaan.

C. Durasi : gejala berlangsung secara kontinu selama minimal 6 bulan. Dalam kurun 6 bulan tersebut harus mencakup :
- Gejala fase aktif (criteria A) minimal 1 bulan (boleh kurang bila sukses diterapi), ditambah gejala fase prodromal dan residual.
- Fase prodromal atau residual: gejala hanya berupa simptom negative atau 2/lebih gejala criteria A yang tidak menonjol (attenuated form), misalnya pikiran aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim.
D. Bukan karena gangguan Skizoafektif dan gangguan mood/suasana perasaan. Kemungkinan gg Skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik dapat disingkirkan karena salah satu dari berikut ini :
- Tidak ada episode : depresi berat. mania atau episode campuran yang terjadi bersamaan dengan gejala fase aktif, ATAU :
- Jika episode gangguan mood terjadi selama fase aktif, maka durasinya relative LEBIH SINGKAT dari durasi fase aktif dan residual.
E. Bukan karena penggunaan zat / kondisi medik umum :
Tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari penggunaan zat (salah guna atau medikasi) atau suatu kondisi medik umum.
F. Hubungan dengan Gangguan Perkembangan Pervasive : jika ada riwayat gangguan Autistic atau Gangguan Perkembangan Pervasive lainnya, maka diagnosis Skizofrenia ditegakkan hanya jika ada waham atau halusinasi yang menonjol yang berlangsung minimal 1 bulan.

b. Kriteria Diagnosis Gangguan Skizofreniform
A. Memenuhi criteria A, D dan E dari Skizofrenia.
B. Suatu episode gangguan (fase prodromal, aktif dan residual) paling sedikit 1 bulan tapi kurang dari 6 bulan (bila diagnosis dibuat tanpa menunggu kesembuhan/belum sembuh disebut Provisial )
Sebutkan bila :
- Tanpa Gambaran Prognosis Baik
- Dengan Gambaran Prognosis Baik : bila ada 2 atau lebih :
1) Awitan gejala psikotik yang menonjol terjadi dalam waktu 4 minggu sejak pertama kali terlihat perubahan perilaku atau fungsi yang berbeda dari sehari-sehari.
2) Terjadi kebingungan atau perplexity/tak berdaya pada saat puncak episode.
3) Fungsi premorbid social dan pekerjaan yang baik.
4) Tidak ada afek tumpul atau datar.

c. Kriteria Diagnosis Gangguan Psikosis Singkat
A. Terdapat tiga atau lebih dari :
1) waham
2) halusinasi
3) bicara kacau
4) perilaku kacau atau katatonik
Catatan : Tidak terkait budaya.
B. Durasi paling sedikit satu hari tapi tidak lebih dari satu bulan, kembali sepenuhnya ke fungsi premorbid.
C. Tidak akibat gangguan suasana perasaan dengan ciri psikotik, gangguan skizoafektif atau skizofrenia dan bukan akibat efek fisiologis langsung dari zat atau kondisi medik umum.

2. TUJUAN
Mengembalikan kesehatan fisik, mental dan social penderita.
3. KEBIJAKAN
a. International Classification of Diseases ( ICD-10 ), WHO, New York, 1992.
b. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed., American Psychiatric Association, Washington DC, 2000.
c. Kaplan and Sadock, Synopsis of Psychiatry, 10th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2007
4. PROSEDUR
a. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium : DL, UL,LFT,RFT, elektrolit, Astrup, gula darah, TPHA, HIV
b. Radiologi : Roentgen al. thorax, CT Scan, MRI
c. Lain : EKG, EEG, dll
d. Test psikologik dan test kepribadian Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI-2).
b. Terapi
a. Ciptakan suasana rumah sakit. Pada pasien gaduh gelisah : ganti fixasi pasien dengan fixasi rumah sakit. Katakan pada pasien bahwa ia di sini untuk diobati. Terapis mengambil posisi di sisi kanan atas pasien, supaya tidak kena pukul/diludahi pasien.
b. Bila gaduh gelisah : injeksi Chlorpromazine 50-100mg IM atau injeksi Haloperidol 5 mg IM atau injeksi Olanzapine 5 mg IM dapat diulang tiap 1 jam sampai tenang (maksimum 3 kali). Dilanjutkan peros : tab Chlorpromazine 2-3 x 50-200mg atau Haloperidol 2-3 x 5-15 mg/hari atau Trifluoperazine 2-3 x 2,5-15mg/hari, Risperidone 2 x 1-3 mg/hari. Quatiepine/Seroquel 2 x 25-300mg, Olanzapine/Zyprexa 1x5-10mg, Aripriprazole/Abilify 1x5-15mg, Zotepine/Lodopin 3x25-100mg, Paliperidone/Invega 1x3-9mg/hari. Dapat tambahkan Lorazepam , Alprazolam atau benzodiazepine tablet.
c. Psikoterapi suportif
d. Terapi keluarga
e. Terapi kelompok, terapi perilaku-kognisi, rekreasional/olahraga, seni dll.
f. Terapi kejang listrik (ECT)
c. Penyulit
- Komorbiditas : kelainan nerologis (tics, stereotipi, gerakan abnormal), obesitas, diabetes mellitus, CVD, HIV, COPD, rematik.
- Efek samping obat antipsikotika/neroleptik :
a. Neuroleptic-induced Parkinsonisme/Extra Pyramidal Sydrome ( kaku otot, cog-wheel rigidity, shuffling gait, stooped posture, tremor dan hipersalivasi. Terapi : tab Trihexyphenidil 2-3x2mg/hr
b. Distonia akut terinduksi neuroleptic : kontraksi otot, gerakan abnormal, oculogyric crises, protrusi lidah, trismus, torticollis, distonia larigeal-faringeal, distonia tubuh dan anggota gerak. Nyeri hebat karena distonia.
Terapi : Tab Trihexyphenidil 2-3x1-2mg atau Inj Diphenhydramine 50mg IM.
Dilanjutkan dengan kapsul Diphenhydramine2-3x1 cap.
c. Akatisia : restlessness. Terapi ; benzodiazepine. Dosis antipsikotik diturunkan.
d. Diskinesia tarda : jarang. Terjadi setelah pemakaian 6 bulan,dosis besar. Terapi : stop antipsikotik.
e. Neuroleptic Malignant Syndrome : dapat mengancam nyawa! Gejala: Distonia, akinesia, rigiditas, mutism, agitasi, demam tinggi, berkeringat, nadi dan tensi naik. Darah : leukosit, CPK, enzim hati, mioglobin plasma tinggi, mioglobinuria (RF).
Terapi : Dantrolene 1mg/kg/hari selama 8 hari IM, diteruskan tablet 7 hari lagi. Atau Bromocriptine (Parlodel) 2,5mg 2-3x/hari, dosis maximal 45mg/hari.
Efek lanjutan/adverse effect antipsikotik : Clozapine menyebabkan agranulositosis.
UNIT TERKAIT ;
Sesuai bidang organic/fisik yang menjadi pusat perhatian terapi : Interna, Pediatri, Bedah, Anestesi, Jantung, Saraf, Gilut, Mata, THT, Kulit, Obstetri-Ginekologi, Radiologi, Laboratorium Patologi Klinik, dll.

5. GANGGUAN SUASANA PERASAAN ( MOOD DISORDERS )

1. PENGERTIAN
Gangguan Mood/perasaan/emosi adalah gangguan perasaan yang pervasive (menyerap) dan sustained (terus menerus) yang mewarnai suasana hati seseorang.
Mood : perasaan/emosi yang pervasive (menyerap) dan sustained (terus menerus) yang mewarnai suasana hati seseorang.
Affect : emosi/perasaan/suasana hati yang secara subyektif dialami dan diekspresikan oleh seseorang, serta dapat diobservasi oleh orang lain.
Depresi (DSM -IV-TR) Suatu episode depresi mayor tanpa riwayat episode manik, campuran atau hipomanik. Minimal 2 minggudan minimal 4 gejala termasuk perubahan nafsu makan dan berat badan, ggn tidur dan aktivitas,berkurangnya energi, merasa bersalah, ggn berpikir dan mengambil keputusan, pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri.
Mania : Episode mood/perasaan yang meningkat, ekspansif atau irritable. Menetap minimal 1 minggu. Hipomanik minimal 4 hari, tidak mengganggu fungsi sosial/pekerjaan dan tanpa gejala psikotik. Self-esteem meningkat, berkurangnya kebutuhan tidur, mudah terlahihnya perhatian, aktivitas mental dan fisik berlebihan dan meningkat berlebihan kegiatan yang menyenangkan.
Episode Manik : pada suatu periode yang berbeda terdapat mood yang meningkat dan abnormal, berlebihan, atau irritable. Periode ini berlangsung paling sedikit 1 minggu. Tampak sebagai euforik, baik hati, ceria, gembira berlebihan.
Perjalanan : Onset pada awal 20an. Mulai tiba-tiba, gejala meningkat dengan cepat ddalam beberapa hari. Sering terjadi setelah suatu stressor psikososial. Gejala berakhir dalam beberapa minggu-bulan.
Episode Hipomanik : Sama dengan Manic Epi, kecuali durasi paling sedikit 4 hari. Gangguan mood terlihat oleh orang lain. Epi ini tidak cukup parah, tidak menyebabkan hencaya social, pekerjaan atau alasan rawat inap, tak ada gejala psikotik. Bukan akibat pengaruh fisiologik zat atau kondisi medik umum.
c. Episode Campuran : Memenuhi criteria Manik dan Depresi Mayor, kecuali durasi hampir setiap hari paling sedikit 1 minggu. Gagguan mood cukup parah sehingga mengakibatkan hendaya dalam fungsi pekerjaan, atau aktivitas social, atau hubungan dengan orang lain, atau alas an dirawat inap guna mencegah melukai diri atau orang lain, atau ada gambaran psikotik. Gejala tidak disebabkan oleh pengaruh langsung zat (drug abuse, pengobatan) atay kondisi medik umum (eg hipotiroid).
Campuran/mixed : Episode minimal 1 minggu, episode manik dan episode depresi mayor terjadi hampir tiap hari.
Gg Siklotimik : gejala depresi berat dengan hipomania, terpisah atau tercampur, terus-menerus, atau hilang-timbul, berlangsung paling sedikit 2 tahun.
Gg Distimik sama dg Gg Depresi Mayor, tapi tidak seberat depresi mayor. Sekitar > 20% pasien depresi mayor tidak sembuh sempurna dan secara kronik menderita gejala sisa berupa Gg Distimik ( bisa bertahun-tahun)
Gg Siklotimik : gejala depresi mayor (yang tidak memenuhi criteria A Depresi Mayor) dan hipomania, terpisah atau tercampur, terus-menerus atau hilang-timbul, berlangsung paling sedikit 2 tahun. Mulai usia 20-an (laki : wanita = 1:1) dengan riwayat keluarga dg gg afektif mayor dan ggn kronik yg mengganggu hubungan interpersonal, pekerjaan tak stabil, kadang ada usaha bunuh diri, dirawat sebentar di RS, peningkatan risiko penyalahgunaan zat.

a. Kriteria Diagnosis Episode Depresi Mayor (DSM-IV-TR)
A. Terdapat lima atau lebih dari gejala di bawah ini selama minimal 2 minggu. Paling sedikit salah satu dari (1) mood depresi atau (2) hilangnya minat atau rasa senang.
Catatan : Tidak termasuk gejala yang jelas akibat kondisi medik umum atau wahan terkait mood atau halusinasi
(1) mood depresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari baik dilaporkan pasien (merasa sedih atau “kosong”) atau terobservasi orang lain. Catatan : pada anak dan remaja berupa moor iritabel
(2) jelas hilangnya sama sekali minat atau rasa senang pada aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari
(3) berat badan berkurang atau bertambah secara bermakna walau tidak diet.
(4) insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
(5) agitasi atau retardasi psikomotor
(6) kelelahan hampir setiap hari
(7) merasa tidak berguna atau bersalah hampir setiap hari
(8) hilangnya kemampuan berpikir, konsentrasi atau tidak dapat mengambil keputusan
(9) pikiran berulang tentang kematian, ide bunuh diri berulang tanpa rencana khusus atau mencoba bunuh diri atau ada rencana
B. Tidak memenuhi criteria episode campuran.
C. Mengakibatkan hendaya bermakna dalam bidang sosial, pekerjaaan dan fungsi lain
D. Tidak diakibatkan efek langsung fisiologis penggunaan zat atau kondisi medik umum.
E. Bukan berduka misalnya setelah kehilangan orang yang dicintai, lama menetap lebih dari 2 bulan.

Gejala klinis Depresi (DSM-IV-TR):
1. Tampak sedih, putus asa, kecewa atau tak berdaya. Kadang seperti tidak punya perasaan, atau cemas. Kadang ada keluhan somatic spt nyeri. Ada yang meningkat iritabilitasnya (marah terus menerus, mudah marah atau cenderung menyalahkan orang lain atau membesar-besarkan masalah.
2. Sering tampak kehilangan minat atau kesenangan. Kurang suka melakukan hobi yang biasa disukai. Menghindari aktivitas social.
3. Berkurangnya nafsu makan. Kadang meningkatnya nafsu makan (manis, KH). Berat badan naik atau turun secara bermakna atau pada anak berat badannya tidak sesuai.
4. Gangguan tidur yang paling sering pada Episode Depresi Mayor adalah insomnia. Khususnya middle insomnia (terbangun tengah malam dan sulit tidur lagi) atau terminal insomnia (terbangun dini hari, sulit tidur lagi). Kadang juga initial insomnia. Dapat juga tidur terus menerus.
5. Perubahan psikomotor seperti agitasi (bergerak terus, mender-mandir, gosok/tarik tangan, usap kulit. Pembicaraan dan proses pikir melambat (volume suara dan isi, variasi bicara turun, irama melambat, gerakan tubuh melambat)
6. Berkurangnya energi, rasa capek dan kelelahan yang sangat dan berkepanjangan, bahkan tanpa kegiatan fisik sekalipun. Efisiensi pekerjaan menurun.
7. Preokupasi rasa tidak berguna atau bersalah, menyalahkan diri sendiri karena sakitnya atau gagalnya suatu pekerjaan.
8. Hendaya proses pikir, konsentrasi atau mengambil keputusan. Perhatian mudah teralih atay mengeluh adanya gangguan daya ingat (“pseudo-dementia”)
9. Ingatan berulang akan kematian, ide bunuh diri atay percobaan bunuh diri.

Gambaran dan gangguan terkait
MDE sering tampak berlinang air mata, terus menerus memikirkan, pikiran obsesif berulang, cemas, fobia, kuatir berlebihan akan kesehatan fisik dan mengeluh nyeri (sakit kepala, sendi, perut dll). Kadang seperti gejalaPanic Attack. Sulit membina hubungan akrab, interaksi social kurang memuaskan atau kesulitan dalam fungsi sexual (anorgasmia pada wanita, disfungsi erektil pria). Problem perkawinan(cerai), pekerjaan (PHK), akademik (bolos, gagal di sekolah), alcohol, narkoba, sering berobat. Yang paling serius adalah percobaan atau melakukan bunuh diri. Risiko BD tinggi pada psikosis, riwayat BD, keluarga pernah BD, drug abuse.
Perjalanan
Berlangsung beberapa hari-minggu. Prodromal : cemas dan gejala depresi ringan beberapa minggu-bulan sebelum onset MDE.Tanpa terapi episode berakhir 4 minggu/lebih. Sebagian besar remisi penuh dan kembali ke fungsi pramorbid. 20-30% kasus tidak memenuhi kirteria lengkap MDE selama beberapa bulan/tahun

Gejala Major Depressive Episode (MDE) :
Terdapat mood depresif atau hilangnya minat atau kesenangan akan semua aktivitas yang berlangsung minimal 2 minggu. Pada anak atau remaja dapat berupa irritable. Ditambah minimal 4 gejala dari : perubahan nafsu makan atau berat badan, tidur dan aktivitas psikomotor, berkurangnya energi, merasa tidak berguna atau bersalah, sulit berpikir atau konsentrasi atau mengambil keputusan, berulang kali memikirkan kematian atau ide bunuh diri, rencana atau percobaan bunuh diri.

Pasien merasa kehilangan harapan, tak berdaya. Merasa sedih yang menyakitkan, tidak bisa menangis.
Dua pertiga dari mereka berpikir untuk bunuh diri, 10-15% mencoba bunuh diri. Beberapa pasien tidak menyadari dirinya depresi, walaupun ia mengucilkan diri dari keluarga, teman aktivitas yang sebelumnya disukai. 97% mengeluh : tidak bertenaga, sulit menyelesaikan masalah, terganggu dalam bekerja/sekolah, tidak punya motivasi mengerjakan hal yang baru. Sekitar 80% mengatakan : sulit tidur, khususnya early morning awakening/ terminal insomnia, sering bangun di malam hari dan memikirkan problem-problemnya. Ada juga naik/turunnya nafsu makan dan BB.
90% pasien mengalami anxietas, yaitu gejala lazim dari depresi.

1. Gejala-gejala Depresi
Gambaran emosi
Mood depresi, sedih atau murung,
Iritabilitas, anxietas
Ikatan emosi berkurang
Menarik diri dari hubungan interpersonal
Preokupasi dengan kematian
Gangguan kognitif
Mengkritik diri-sendiri, perasaan tak berharga, rasa bersalah
Pesimis, tak ada harapan, putus asa
Bingung, konsentrasi buruk
Tak pasti, ragu-ragu
Beragam obsesi
Gangguan memori
Waham dan halusinasi
Gambaran vegetatif
Lesu, tak bertenaga
Tak bias tidur atau banyak tidur
Tak mau makan atau banyak makan
Penurunan berat badan atau penambahan berat badan
Retardasi psikomotor
Libido terganggu
Terdapat variasi diurnal
Agitasi psikomotor
Keluhan somatic (terutama pada orang tua)
Tanda-tanda depresi
Tidak atau lambat bergerak
Wajah sedih dan selalu berlinang air mata
Kulit dan mulut kering
Konstipasi

Perjalanan
Berlangsung beberapa hari-minggu. Prodromal : cemas dan gejala depresi ringan beberapa minggu-bulan sebelum onset MDE.Tanpa terapi episode berakhir 4 minggu/lebih. Sebagian besar remisi penuh dan kembali ke fungsi pramorbid. 20-30% kasus tidak memenuhi kirteria lengkap MDE selama beberapa bulan/tahun

2b. Kriteria Diagnosis Episode Manik (DSM-IV-TR)
A. Suatu periode gangguan mood/suasana perasaan yang abnormal yang jelas dan meningkat secara persisten , ekspansif atau irritable, berakhir paling lama satu minggu (atau kapanpun bila perawatan inap diperlukan)
B. Dalam periode gangguan suasana perasaan, ada tiga atau lebih dari gejala yang menetap (empat, bila mood cuma irritable) dan telah mencapai taraf bermakna :
1) rasa percaya diri meningkat atau grandiositas
2) berkurangnya kebutuhan tidur (merasa cukup tidur 3 jam saja)
3) lebih banyak bicara dari biasanya/dorongan untuk terus berbicara
4) flight or ideas atau merasa pikirannya “berlomba”
5) perhatiannya mudah teralihkan walau oleh stimuli external sepele
6) meningkatnya aktivitas bertujuan (social, kerja, sekolah, seksual) atau agitasi psikomotor
7) eterlibat secara berlebihan dalam aktivitas yang berpotensi tinggi untuk terjadi konsekuensi menyakitkan (belanja berlebihan, hubungan seks sembarangan, investasi bisnis yang ceroboh)
C. Tidak memenuhi criteria gangguan campuran.
D. Gangguan mood cukup parah sehingga mengyebabkan hendaya dalam fungsi pekerjaan atau social, atau hubungan dengan orang lain, atau harus dirawat inap guna mencegah ia mencelakai dirinya atau orang lain, atau ada gejala psikotik.
E. Gejala tidak akibat fisiologis langsung dari penggunaan zat, atau kondisi medik umum (missal hipertiroidi)

Gejala-gejala Mania
(Bila tidak ada tanda-tanda psikotik dan gejala mania tidak cukup berat sehingga mengganggu fungsi pekerjaan dan social, disebut hipomania)
Gambaran Emosi
Mood meningkat, eforia
Emosi labil
Mudah berpindah depresi akut
Iritabilitas, toleransi terhadap frustasirendah
Menuntut dan egosentrik
Gambaran Kognitif
Kepercayaan diri meningkat, grandiositas
Gangguan pembicaraan
Banyak kata-kata (clang association=bunyi bersajak pd akhir bait)
Desakan pembicaraan
Loncatan gagasan (flight of ideas)
Daya nilai buruk, disorganisasi
Erotomania
Waham dan/atau halusinasi
Gambaran Fisiologik
Tenaga meningkat
Insomnia, kebutuhan tidur berkurang
Nafsu makan turun
Agitasi psikomotor

2c. Kriteria Episode Hipomanik (DSM IV-TR)
A. Suatu periode jelas dimana mood meningkat, ekspansif atau irritable, lamanya paling sedikit 4 hari, yang jelas berbeda dari mood tanpa depresi yang lazim.
B. Selama periode gangguan, ada 3 atau 4 (bila hanya mood irritable) dari gejala yang bermakna :
1. harga diri meningkat atau grandiositas
2. berkurangnya kebutuhan tidur (merasa cukup istirahat setelah tidur 3 jam saja)
3. berbicara lebih banyak dari biasa
4. flight of ideas atau pikiran berpacu
5. perhatian mudah dialihkan, bahkan oleh stimuli ringan
6. meningkatnya aktivitas bertujuan(kerja, sekolah, sosial) atau agitasi psikomotorik
7. secara berlebihan terlibat aktivitas menyenangkan yang berisiko ( misal : belanja berlebihan, hub sex sembarangan, investasi bisnis sembrono)
C. Ada perubahan fungsi yang jelas, yang tidak terjadi saat tidak kumat
D. Orang lain dapat mengobservasi gangguan mood dan perubahan fungsi pada pasien
E. Gangguan ini tidak cukup parah sehingga tidak mengakibatkan hendaya fungsi sosial, pekerjaan atau perlu rawat inap dan tidak ada gambaran psikotik.
F. Tidak disebabkan oleh efek fisiolgis dari zat (drug abuse, medikasi) atau kondisi medik umum (mis hipertensi)
Catatan : episode mirip hipomanik dapat disebabkan oleh terapi antidepresan (misal ECT ). Jadi tidak dimasukkan sebagai diagnosis gangguan bipolar II.

3. Kriteria diagnosis Episode Campuran (DSM-IV-TR)
A. Ada episode manik dan depresi mayor hampir setiap hari, minimal satu minggu.
B. Gangguan mood bermakna, sehingga mengganggu fungsi sosial, pekerjaan atau
hubungan antar personal; atau membutuhkan rawat inap karena membahayakan dirinya atau orang lain; atau ada gejala psikotik.
C. Tidak akibat langsung efek fisiologis zat (misalnya salah guna zat, minum obat tertentu atau kondisi medik umum spt hipertiroid)

4.a Kriteria diagnosis Gangguan Bipolar I, Episode Manik Tunggal
I. Hanya ada satu episode manik dan tidak ada episode depresi mayor.
Catatan : Kekambuhan/berulang, bila ada perubahan dari depresi atau ada interval paling sedikit 2 bulan tanpa gejala manik.
II. Episode manik tidak disebabkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang-tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gg waham atau psikosis NOS.
Sebutkan bila :
Campuran.
Bila criteria terpenuhi utk manik, campuran atau epis depresi, sebut abg :
Ringan, sedang,berat tanpa/ atau dengan gejala psikotik.
Dg gej katatonik
Dg gej onset postpartum
Bila criteria tidak terpenuhi, sebut sbg :
Dalam taraf remisi parsial atau penuh
Dg gej katatonik
Dg gej onset postpartum

4b. Kriteria diagnosis Gangguan Bipolar I, Episode Sekarang Manik ( Most recent Manic Episode)
A. Baru saja(currently) ada episode manik.
B. Pernah ada paling sedikit satu episode depresi mayor, manik atau campuran
III. Episode mood pada criteria A dan B di atas tidak disebabkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang-tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gg waham atau psikosis NOS.
* Sebutkan bila :
Campuran.
Bila criteria terpenuhi utk manik, campuran atau epis depresi, sebut abg :
Ringan, sedang,berat tanpa/ atau dengan gejala psikotik. Atau dg gej katatonik
atau dg gej onset postpartum
Bila criteria tidak terpenuhi, sebut sbg :
Dalam taraf remisi parsial atau penuh. Atau dg gej katatonik. Atau dg gej onset postpartum

4c. Kriteria Diagnosis Gg. Bipolar I, episode sekarang Hipomanik
A. Baru saja ada episode hipomanik.
B. Pernah ada paling sedikit satu episode manik atau campuran
C. Gg mood mengakibatkan hendaya atay gangguan dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi penting lain.
D. Episode mood pada criteria A dan B di atas tidak disebabkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang-tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gg waham atau psikosis NOS.

4d. Kriteria Diagnosis Gg Bipolar I, episode sekarang Depresi
1. Baru saja ada episode depresi mayor.
B. Pernah ada paling sedikit satu episode manik atau campuran
C. Episode mood pada criteria A dan B di atas tidak disebabkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang-tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gg waham atau psikosis NOS.
*Sebutkan bila memenuhi criteria depresi mayor, disertai oleh sbb :
Ringan, sedang, berat, dengan/ atau tanpa gejala psikotik berat. Atau Kronik.
Atau dengan gambaran katatonik/ melankolik/ atipik atau onset postpartum
*Sebutkan bila tidak memenuhi criteria depris mayor, disertai gambaran :
Remisi penuh atau parsial. Atau Kronik.
Atau dengan gambaran katatonik, melankolik, atipik atau onset postpartum.

4e. Kriteria Diagnosis Gg Bipolar I, episode sekarang Campuran
A. Baru saja ada episode campuran.
B. Pernah ada paling sedikit satu episode depresi mayor, manik atau campuran
C. Episode mood pada criteria A dan B di atas tidak disebabkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang-tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gg waham atau psikosis NOS.
*Sebutkan bila memenuhi criteria campuran, disertai oleh gambaran sbb :
Ringan, sedang, berat, dengan/ atau tanpa gejala psikotik berat. Atau Kronik.
Atau dengan gambaran katatonik atau onset postpartum
*Sebutkan bila tidak memenuhi criteria depresi mayor, disertai gambaran :
Remisi penuh atau parsial. Atau Kronik.
Atau dengan gambaran katatonik atau onset postpartum.

5 Kriteria Diagnosis Gg Bipolar lI
A. Pernah atau riwayat satu/lebih episode depresi mayor.
B. Pernah atau riwayat satu episode hipomanik.
C. TIDAK PERNAH ada episode manik atau episode campuran.
IV. Episode manik tidak disebabkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang-tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gg waham atau psikosis NOS.
V. Gangguannya mengakibatkan hendaya atau gangguan dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi penting lain
*Sebutkan bila episode mutakhirnya : Hipomanik atau Depresi.
*Bila criteria terpenuhi utk epis depresi mayor, sebut abg :
- Ringan, sedang,berat tanpa/ atau dengan gejala psikotik. Atau Kronik.
Atau dg gej katatonik, atau melankolik, atau atipikal ataudg onset postpartum
*Bila criteria tidak terpenuhi, sebut sbg :
Dalam taraf remisi parsial atau penuh. Atau Kronik. Atau dg gej katatonik, atau melankolik, atau atipikal atau dg onset postpartum

6. Kriteria diagnosis Gangguan DISTIMIK
1. Mood depresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, dirasakan oleh pasein (subyektif) atau tampak oleh orang lain (obyektif), paling sedikit selama 2 tahun. Cat : pada anak dan remaja mood iritabel dan minimal 1 tahun).
2. Pada saat depresi ada minimal 2/lebih dari :
1. nafsu makan kurang atau berlebihan
2. insomnia atau hipersomnia
3. low energy atau fatigue
4. kurang percaya diri
5. sulit konsentrasi atau sulit mengambil keputusan
6. merasa tak punya harapan
3. Dalam waktu 2 tahun dari gangguannya (1 thn pada anak/remaja), pada satu saat, tidak pernah tanpa gejala criteria A dan B, maximal 2 bulan.
4. TIDAK ada episode Depresi Mayor selama kurun waktu 2 tahun pertama dari gangguan (1 thn pada anak/remaja).
5. TIDAK pernah ada Episode Manik, Episode Campuran atau Episode Hipomanik, atau Gg Siklotimik.
6. Gangguan Distimik tidak terjadi selama adanya Gg Psikotik kronik, seperti Skizofrenia atau Gg Waham.
G. Tidak akibat efek langsung zat atau kondisi medik umum.
H. Mengakibatkan hendaya bermakna dan bidang social, pekerjaan atau fungsi penting lain.

7. Kriteria Diagnosis Gangguan SIKLOTIMIK
A. Paling sedikit 2 tahun ada sejumlah periode dengan gejala hipomanik dan depresi yang tidak memenuhi criteria episode depresi mayor. (Anak/remaja min 1 th)
B. Dalam periode 2 th (anak/remaja 1 th), tidak pernah tanpa gejala criteria A lebih dari 2 bulan.
C. Tidak ada episode depresi, manik atau campuran pada 2 tahun pertama dari gangguan.
Catatan : Setelah 2 th (anak/remaja 1th) dari gejala siklotimik, ada episode manik atau campuran yang tumpang tindih(mungkin terdiagnosis sbg bipolar l dan siklotimik) atau episode depresi mayor (terdiagnosis sbg bipolar ll dan siklotimik)
D. Episode manik tidak disebabkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang-tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gg waham atau psikosis NOS/not otherwise specified.
E. Tidak akibat efek langsung zat atau kondisi medik umum.
F. Mengakibatkan hendaya bermakna dan bidang social, pekerjaan atau fungsi penting lain.

2. TUJUAN
Mengembalikan kesehatan fisik, mental dan social.
3. KEBIJAKAN
a. International Classification of Diseases ( ICD-10 ), WHO, New York, 1992.
b. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed., American Psychiatric Association, Washington DC, 2000.
c. Kaplan and Sadock, Synopsis of Psychiatry, 10th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2007
4. PROSEDUR
a. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium : DL, UL,LFT,RFT, elektrolit, Astrup, gula darah, TPHA, HIV
b. Radiologi : Roentgen al. thorax, CT Scan, MRI
c. Lain : EKG, EEG, dll
d. Test psikologik/kepribadian : Minnesota Multiphasic Personality Inventory(MMPI-2)
Hamilton Depression Rating Scale, Hamilton Anxiety Rating Scale dll

b. Tata laksana
a. Jaga keselamatan dan keamanan pasien
b. Evaluasi diagnostic lengkap termasuk test psikologik, test MMPI dll.
c. Terapi symptom dan rencana bagi aspek kehidupan pasien secara menyeluruh
d. Psikoterapi
e. Farmakoterapi :
1) ANTIDEPRESAN : Sertraline/Zoloft/Fridep 1x50mg, Fluoxetine/Prozac/Kalxetin 1x20mg, Fluvoxamine/Luvox 1x20mg, DuloxetineCymbalta 1x60mg, Citalopram/Cipralex 1x10 mg, Clomipramine/Anafranil 2-3x10-50mg, Venlafaxine/Effexor 1x75mg, MAOI/Moclobemide 2-3x150 mg, Amitryptyline 2x10-50mg, Tofranil 2-3x10-25mg; Maprotiline/Ludiomil 1-3x25-50mg dll
2) ANTIMANIA : Lithium carbonat/Eskalith 3x150-300mg/hari. Pada gangguan fungsi ginjal, lanjut usia : 1-2x150-300mg. Haloperidol 2-3x5-15mg, Quetiapine 2x100-400mg;
HATI-HATI : Moclobemide tidak boleh dimakan bersama makanan mengandung tyramine (keju, alcohol, sarden/jeroan kalengan, asinan kol, daging/ikan asap)
5. UNIT TERKAIT :
Sesuai bidang organic/fisik yang menjadi pusat perhatian terapi : ICU, ICCU, Interna, Pediatri, Bedah, Anestesi, Jantung, Saraf, Gilut, Mata, THT, Kulit, Obstetri-Ginekologi, Radiologi, Laboratorium Patologi Klinik, Patologi anatomi, Hiperbarik, dll.


6. GANGGUAN CEMAS

1. PENGERTIAN :
Cemas/Ansietas adalah perasaan tidak enak, disertai gejala otonom, dimana orang menjadi gelisah. Ansietas/cemas adalah tanda waspada akan adanya bahaya dan mempersiapkan orang untuk menghadapi ancaman internal yang tidak diketahui, samar atau konfliktual. Cemas mempunyai maksud lifesaving, mencegah kegagalan seseorang dengan cara mewaspadai/mengantisipasi dan mengambil tindakan yang tepat. Mis. Belajar baik-baik agar lulus; berlari mengejar kereta terakhir. Bedanya, takut, juga tanda waspada, terhadap ancaman eksternal yang diketahui, nyata atau tidak konfliktual.
Cemas yang singkat dan sembuh dengan menghilangnya stress disebut Gangguan Penyesuaian dengan Ansietas (DSM-IV).

a. GANGGUAN PANIK
Gejala takut atau tak nyaman yang khas, akut & dramatic (DSM IV). Tdd min 4 dr 13 gejala, yang terjadi dlm beberapa sampai 10 menit. Bisa terjadi pd px dengan/tanpa cemas kronis. Gejala otonom : berdebar-debar, nyeri dada, gemetar, rasa tercekik, nyeri abdomen, keringat, pusing, disorganisiasi, bingung, takut mati. Timbul tiba-tiba atau bersifat “cemas antisipatorik”. Beberapa kali/hr/mgg/bln, atau hilang berbulan2.Lebih banyak pd wanita 2 : 1.

2a. Kriteria Serangan Panik :
Periode yang nyata akan suatu ketakutan yang sangat atau perasaan tak nyaman, paling sedikit 4 (atau lebih) dari gejala di bawah ini, yang terjadi secara tiba-tiba dan mencapai puncak dalam 10 menit :
1. palpitasi, berdebar,atau meningkatnya denyut jantung
2. berkeringat
3. gemetar
4. merasa sesak nafas, nafas jadi pendek
5. merasa tercekik
6. nyeri atau tak enak di dada
mual atau rasa tak enak di perut.
7. merasa pusing, tak seimbang, kepala terasa ringan atau pingsan
8. derealisasi (merasa sekitranya tidak nyata) atau depersonalisasi (merasa dirinya bukan dirinya)
9. takut kehilangan kendali atau menjadi gila
10. takut mati
11. parestesia (kesemutan)
12. menggigil atau hot flushes

2b dan c. Kriteria diagnosis Gangguan Panik Dengan atau Tanpa Agorafobia
A. Terdapat keduanya :
1) serangan panik tidak terduga dan berulang
2) paling sedikit selama satu bulan atau lebih,terdapat satu atau lebih dari dibawah:
a) perhatian menetap tentang adanya serangan ulang
b) cemas akan pengaruh serangan atau akibatnya (misal hilang kendali, mendapat serangan jantung, “menjadi gila”)
c) perubahan bermakna dalam perilaku yang terkait pada serangan
B. Ada atau tidak ada Agorafobia
C. Tidak akibat factor fisiologis langsuang dari zat (penyalahgunaan zat, pengobatan) atau kondisi medik umum (hipertiroidism)
D. Bukan akibat gangguan mental lain seperti fobia social, fobia khusus, obsesif-kompulsif, Posttraumatic Stress Disorder atau Seperation Anxiety Disorder.

2d. Kriteria Diagnosis Agorafobia :
A. Ansietas saat berada di tempat atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (atau malu), atau di mana pertolongan tidak mungkin didapat pada situasi yang tidak diharapkan atau bila terjadi serangan panik. Misalnya berada di luar rumah sendirian, di antara kerumunan, atau berdiri dalam antrian, di atas jembatan dan bepergian dengan bis, kereta api atau mobil.
B. Situasi yang dihindari (terbatasnya bepergian) atau penderitaan yang nyata atau cemas akan terjadi serangan panic atau membutuhkan teman.
C. Tidak disebabkan oleh gangguan mental lain, seperti fobia social, fobia spesifik, Gg Obsesi Kompulsi, Post Traumatic Stress Disorder atau gg ansietas perpisahan.
Catatan : Gangguan Panik dengan Agorafobia (sda, kecuali no 3 : dengan agorafobi)
Cemas bila berada di tempat/situasi di mana sulit/mustahil melarikan diri atau sulit mendapat pertolongan bila terjadi serangan panic/serangan mirip panic (tiba2 diare,pusing). Ia menghindari : berada sendirian di luar/dlm rumah, di kerumunan orang, naik mobil, bis, pesawat terbang, di dalam lift.

Catatan : Agorafobia tanpa riwayat Panik
Ada agoraphobia yang berkaitan dengan ketakutan timbulnya serangan mirip panic. Gejalanya sama dengan gangguan panik dengan agoraphobia, kecuali adanya rasa “ketidak-mampuan”(misalnya tidak dapat menahan kencing, muntah di muka umum); ketakutan akan terjadinya serangan panik yang sangat memalukan (beberapa dari 13 gejala panik atau beberapa gejala panik). Tidak memenuhi psersyaratan G.Panik. Bukan akibat penggunaan zat atau akibat kondisi medik umum.
2. TUJUAN
Mengembalikan kesehatan fisik, mental dan social.
3. KEBIJAKAN
a. International Classification of Diseases ( ICD-10 ), WHO, New York, 1992.
b. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed., American Psychiatric Association, Washington DC, 2000.
c. Kaplan and Sadock, Synopsis of Psychiatry, 10th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2007
4. PROSEDUR
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan fisik : singkirikan hipertensi…………

2e. FOBIA Spesifik
Ketakutan yang menyolok dan persisten, serta antisipasi thd obyek/situasi spesifik (hewan, ketinggian, gelap, darah dll). Ia menyadari bahwa ketakutannya berlebihan dan tak masuk akal. Fobi mengganggu aktivitas rutin, kerja, sekolah, fungsi social.

Fobia sosial (Social Anxiety Disorder)
Ketakutan yang menyolok dan persisten akan situasi social atau berada di antara orang-orang yang tak dikenal, bahwa ia diperhatikan dg seksama oleh orang lain atau takut ia dapat melakukan hal yang memalukan.

2g. Terapi Fobia (insight oriented psychotherapy)
1. Terapi perilaku kognitif : dihadapkan pd obyek yg ditakuti dg pembalikan dr ketakutannya.
2. Desensitisasi : bertahap dihadapkan pd obyek.
3. Flooding : pembanjiran/menghadapi langsung obyek
4. Hipnosis
5. Terapi keluarga
6. Farmakoterapi : alprazolam 2-3x0,25-1mh/hari dan/atau
antidepresan : SSRI (sertraline), paroxetine, clomipramine.

3. Gangguan Obsesif-Kompulsif
Obsesi : ide, pikiran, impuls atau citra yang intrusive/memaksa mengganggu dan tidak benar, yang menyebabkan cemas atau penderitaan. Misal : paling sering takut terkontaminasi saat berjabat tangan dg orang, takut melukai orang dl kecelakan lalin, atau lupa mengunci pintu.
Kompulsi : perilaku berulang mis cuci tangan, menata, memeriksa atau doa, menghitung, mengulang kata-kata dalam hati. Misal berulang kali memeriksa kompor, mencuci, atau perilaku berulang. Tujuannya ialah untuk menghilangkan cemas atau penderitaan.

a. Kriteria Diagnosis GOK
A. Salah satu dari obsesi atau kompulsi :
Obsesi adalah no 1,2,3 dan 4 :
1) pikiran, impuls atau gambaran berulang yang menimbulkan kecemasan atau ketegangan
2) pikiran impuls atau gambaran tidak sekedar cemas berlebihan, tapi benar-benar mengganggu kehidupan
3) pasien mencoba mengabaikan atau melupakan pikiran, impuls atau gambaran tsb atau menetralisii dengan berpikir tentang hal lain atau berbuat sesuatu
4) pasien menyadari bahwa pikiran obsesif, impuls atau gambaran itu berasal dari pikirannya sendiri.
Kompulsi adalah : 1 dan 2 :
1) perilaku berulang (mis cuci tangan, memeriksa) atau tingka laku mental (berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) di mana ia merasa bahwa ia diarahakan melakukannya sebagai akibat dari obsesinya
2) perilaku atau tingkah laku mental yang bertujuan mencehag atau mengurangi ketegangan atau mencegah suatu peristiwa/situasi yang buruk, walaupun perilaku itu tidak terkait secara realistic dengan apa yang mereka lakukan untuk mencegah sesuatu
B. Suatu saat ia menyadari bahwa obsesi atau kompulsinya adalah berlebihan dan tidak beralasan. (catatan : tidak berlaku pada anak)
C. Obsesi atau kompulsinya mengakibatkan ketegangan yang nyata, memakan waktu (butuh lebih dari 1 jam/hari) atau mengganggu secara bermakna pekerjaan/sekolah rutin yang normal dari seseorang atau hubungan atau aktivitas socialnya
D. Bila ada diagnosis lain pada Axis I, maka obsesi/kompulsinya tidak hanya terbatas pada satu aspek gangguan saja (missal menariki rambuh dan trichotillomania)
E. Tidak akibat efek fisiologis langsung suatu zat atau kondisi medik umum

Etiologi : Nerobiologik :mungkin setelah suatu cedera kepala atau encephalitis. Kelainan di lobus frontalis, cingulum dan basal ganglia. Nerotransmiter : serotonin meningkat.
DD/ : gangguan kepribadian Obsesif-Kompulsif
Fobia
Depresi
Skizofrenia
Terapi :
Psikoterapi : (pilihan utama) psikoterapi psikodinamik (menghentikan “ritual”). Psikoterapi insight oriented dan suportif. Atau terapi perilaku.
Farmakoterapi : standart dimulai dengan SSRI (sertraline, fluoxetine, fluvoxamine, paroxetine) atau clomipramine.
Terapi keluarga. Terapi kelompok. Untuk kasus berat diECT.

GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA (Post Traumatic Stress Disorder)
PTSD : Gejala gangguan mental, akibat suatu stress sangat berat yang dialami individu; berupa ketakutan dan tidak berdaya, secara persisten hidup kembali dalam keadaan traumatik dan mencoba melupakannya. Berlangsung lebih dari satu bulan dan mengakibatkan gangguan bermakna pada fungsi keluarga dan pekerjaan.

Etiologi : mengalami atau terancam dalam perang, siksaan, bencana alam, penyerangan, perkosaan atau kecelakaan serius.
Saat mengalaminya, bisa terjadi alexithymia (tidak mampu mengenali/mengatakan perasaannya).
Gambaran klinis : emosi tumpul, perilaku menghindar, sering sangat tegang. Selama beberapa bulan atau tahun. Merasa bersalah, menyangkal dan terhina. Mungkin ada disosiasi dan serangan panic, ilusi atau halusinasi. Gangguan daya ingat dan perhatian.
Kadang ada agresivitas, kekerasan, gangguan kendali impuls, depresi dan penyalahgunaan zat.

2. Kriteria Diagnosis Gangguan Stres Pasca Trauma
A. Pernah terpajan pada peristiwa traumatic yang meliputi keduanya :
1) mengalami, menyaksikan atau dihadapkan pada peristiwa yang melibatkan ancaman atau benar-benar mendekati kematian atau cedera serius atau diancam integritas fisiknya pada diri atau orang lain
2) responsnya berupa ketakutan yang sangat, putus asa atau ketakutan luar biasa.. Catatan : pada anak tampak sebagai perilaku kacau atau agitasi.
B. Peristiwa traumatic secara menetap dialami kembali dengan cara sebagai berikut satu (atau lebih) dari :
1) ingatan yang menegangkan yang berulang dan mengganggu tentang peristiwa , gambaran, pimiran atau persepsi. Catatan : pada anak tampak sebagai permainan berulang dengan tema trauma
2) mimpi yang menegangkan dan berulang. Pada anak : mimpi buruk tanpa tema yang jelas.
3) berlaku atau merasa seolah peristiwa traumatic sedang berlangsung I(termasuk merasa pengalaman yang hidup kembali, ilusi, halusinasi, atau kilas balik yang disosiatif). Pada anak : terjadi perilaku khas seperti saat trauma
4) ketegangau psikokogis yang sangat saat terpajan symbol internal atau eksternal yang terkait peristiwa traumatik
5) reaksi fisiologik terhadap pajanan pada symbol peristiwa traumatik
C. Penghindaran terus menerus terhadap stimuli yang terkait trauma dan penumpulan respons secara umum (tidak muncul sebelum trauma), berupa tiga (atau lebih) dari :
1) usaha untuk menghindari ingatan, perasaan atau percakapan terkait trauma
2) usaha menghindari aktivitas, tempat atau orang yang membangkitkan ingatan akan trauma
3) tidak mampu mengingat aspek yang penting dari trauma
4) jelas-jelas hilangnya minat atau partisipasi dalam aktivitas
5) merasa terasing dari orang lain
6) afek/perasaan jadi “terbatas”(tak mampu mencintai)
7) merasa masa depannya tak berarti (tak mengharap karir, menikah, atau punya masa kehidupan yang normal)
D. Gejala yang menetap akan meningkatnya ketegangan (tidak ada sebelum trauma) yang tampak sebagai dua (atau lebih) dari :
1) sulit memulai atau mempertahankan tidur
2) aramah mudah meledak atau irritable
3) sulit konsentrasi
4) mudah terkejut atau terjaga (hypervigilance)
5) respons terjaga yang berlebihan
E. Durasi (criteria B,C,D) lebih dari satu bulan
F. Mengakibatkan ketegangan atau hendaya bermakna secara klinisdalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain.

DD/ : Organik (epilepsy, alkohisme, penyalahgunaan zat). Gangguan mental : gangguan nyeri, penyalahgunaan zat, cemas dan gangguan afek, gg disosiasi, gangguan kepribadian ambang, gg buatan, malingering.

Terapi :
Farmakoterapi : imipramin dan amitriptyline. Durasi 1 tahun sebelum dihentikan. SSRI, MAOI, trazodone, antikonvulsan (carbamazepine, asam valproate), clonidin, propanolol. Alprazolam.
Psikoterapi psikodinamik, rekonstruksi kejadian traumatik dengan abreaksi asosiasi dan katarsis. Terapi perilaku, t. kognitif, hypnosis.
Penyulit PTSD : bisa terjadi antara 1 minggu sampai 30 tahun setelah trauma.

Gangguan Stres Akut (Acute Stress Disorder)
Gangguan stress akut : gejalanya = PTSD, kecuali timbul dalam kurun waktu kurang dari 4 minggu dan berlangsung selama 2 hari - 4 minggu.

2d.Kriteria diagnosis Gangguan stress akut :
A. Seseorang pernah terpajan pada peristiwa traumatik dimana terdapat keduanya :
1) seseorang mengalami, menyaksikan atau dikonfrontasikan pada peristiwa atau kejadian-kejadian yang mengancam nyawa atau cedera serius, atau terancam integritas fisik dirinya atau orang lain.
2) responsnya berupa ketakutan yang dahsyat, rasa ketidakberdayaan, horror.
B. Saat mengalami atau sesudah mengalami peristiwa traumatik atau distressing itu,ia mengalami tiga atau lebih gejala disosiatif di bawah ini :
1) perasaan subyektif penumpulan, terlepas/detachment atau tidak ada respons emosional.
7. berkurangnya kewaspadaan akan sekelilingnya (seperti terpana. Terkesima)
3) derealisasi
4) depersonalisasi
5) amnesia disosiatif ( tak mampu mengingat aspek penting dari trauma)
VI. Peristiwa traumatik ini dialami terus menerus/persisten paling sedikit dengan cara : bayangan berulang, ingatan, mimpi, ilusi, episode kilas balik atau pengalaman mengalami kembali atau terpajan pada hal-hal yang mengingatkan akan peristiwa traumatik itu.
D. Jelas-jelas menghindari stimuli yang membangkitkan ingatan-ingatan akan trauma ( ingatan, perasaan, pembicaraan, aktivitas, tempat, orang ).

Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)
GAD adalah ansietas yang berlebihan dan kuatir (apprehensive expectation), yang terjadi hampir sepanjang hari selama paling sedikit 6 bulan, berupa gejala criteria

2 d. Kriteria Diagnosis GANGGUAN CEMAS MENYELURUH :
A. Excessive anxiety and worry (apprehensive expectations, occurring more days than not for at least 6 months, about a number of events or activities (such as work or school performance).(cemas berlebihan)
B. The person finds it difficult to control the worry (sulit mengendalikan kecemasan)
C. The anxiety and worry are associated with 3 (or more) of the following 6 symptoms (with at least some symptoms present for more days than not for the past 6 months) Note : only one item is required in children.
1. restlessness or feeling keyed up or on edge (gelisah)
2. being easily fatigued (mudah lelah)
3. difficulty concentrating or mind going blank
4. irritability
5. muscle tension
6. sleep disturbance (difficultly falling or staying asleep, or restless unsatisfying sleep)
D. The focus of the anxiety and worry is not confined to features of an Axis I disorder, e.g., the anxiety or worry is not about having a Panic Attack (as in Panic Disorder), being embarrassed in public (as in Social Phobia), being contaminated (as in Obesssive-Compulsive Disorder), being away from home or close relatives (as in Seperation Anxiety Disorder), gaining weight (as in Anorexia Nervosa), having multiple physical complaints (as in Somatization Disorder) , or having a serious illness ( as in Hypochondriasis), and the anxiety and worry do not occur exclusively during Posttraumatic Stress Disorder.
E. The anxiety, worry, or physical symptoms cause clinically significant distress or impairment in social, occupational, or other important areas of functioning.
F. The disturbance is not due to the direct physiological effects of a substance (e.g., a drug of abuse, a medication) or a general medical condition(e.g., hyperthyroidism) and does not occur exclusively during a Mood Disorder, a Psychotic Disorder, or a Pervasive Developmental Disorder.

4. DDx :
Anxiety D. due to a General Medical Condition, Substance-Induced Anx.D., Panic D. PTSD., Mood D., and unpathological anxiety.

5. Terapi
a. Cognitive behaviour therapy tdd : terapi kognitif, relaxasi, latihan pernafasan, pajanan “hidup”.
b. Antianxietas al : Alprazolam, buspirone. Antidepresan : SSRI (sertraline) & paroxetine, clomipramine, venlafaxine, fluovoxamine, citalopram, fluoxetine.
c. Family & group therapy.

6. Penyulit
Generalized Anxiety Disorder : Cuma sepertiga pasien GAD datang ke psikiater, sebagian besar berobat ke lnternis, kardiolog, dokter umum, pulmonolog. GAD bisa diderita seumur hidup.
2g. Terapi Fobia (insight oriented psychotherapy)
1. Terapi perilaku kognitif : dihadapkan pd obyek yg ditakuti dg pembalikan dr ketakutannya.
2. Desensitisasi : bertahap dihadapkan pd obyek.
3. Flooding : pembanjiran/menghadapi langsung obyek
4. Hipnosis
5. Terapi keluarga
6. Farmakoterapi : alprazolam 2-3x0,25-1mh/hari dan/atau
antidepresan : SSRI (sertraline), paroxetine, clomipramine.


7. GANGGUAN SOMATOFORM DAN PSIKOSOMATIK

1. Definisi Gangguan Somatoform
Suatu kumpulan gangguan yang terdiri dari sekelompok peyakit yang menunjukkan tanda dan gejala fisik sebagai komponen utamanya.
Terdiri dari :

2. Kriteria Diagnosis Gangguan Somatisasi:
a. Riwayat banyak keluhan fisik yang bermula pada usia sebelum 30 tahun yang berlangsung selama beberapa tahun dan menyebabkannya mencari pengobatan atau jadi hendaya bermakna dalam fungsi social, pekerjaaan atau fungsi penting lain.
B. Harus memenuhi criteria dengan gejala individual yang terjadi kapan saja selama perjalanan gangguan :
1) empat gejala nyeri : riwayat nyeri berkaitan paling sedikit empat tempat atau fungsi (misal kepala, abdomen, punggung, sendi, ekstremitas, dada, rectum, selama haid, saat hubungan sex, atau saat mictie).
2) dua gejala GIT : riwayat paling sedikit dua gejala GIT selain nyeri (missal mual, kembung, muntah yang bukan hamil, diare atau intoleransi aneka makanan).
3) satu gejala sexual : riwayat paling sedikit satu gejala sexual atau reproduksi selain nyeri (kehlangan minat, disfungsi ereksi atau ejakulasi, darah haid berlebihan)
4) satu gejala pseudoneurologik : riwayat paling sedikit satu gejala atau deficit ke arah kondisi neurologik yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan kordinasi atau keseimbangan, paralysis atau kelemahan local, sulit menelan atau merasa ada benjolan di kerongkongan, retensi urine, aphonia, halusinasi, kehilangan rasa sentuh atau nyeri. penglihatan ganda, kebutaan, tuli, kejang, gejala disosiatif seperti amnesia, atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
C. Salah satu dari :
1) setelah diteliti, gejala pada criteria B tidak dapat dijelaskan penyebab kondisi medik umum atau efek langsung dari suatu zat ( medikasi, drug abuse).
2) bila ada kaitan dengan kondisi medik umum, keluhan fisik atau hendaya social/pekerjaan yang diakibatkannya berlebihan sekali dibandingkan dengan riwayat, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium.
D. Gejala-gejala tidak sengaja ditumbulkan atau dibuat-buat (spt Gangguan Buatan/ Factitious Disorder atau Malingering/ Berpura-pura).

3. DD/ : Kondisi medik umum ( hipertiroid, porphyria, multiple sclerosis, SLE dll)
Gg mood dan anc\xietas, Skizofrenia, gg waham
4. Pem penunjang : rutin. Singkirkan kelainan fisik.
5.Tata laksana
Pemeriksaan fisik singkat saja. Pemeriksaan penunjang tambahan dihindarkan. Dengarkan keluhan somatiknya lebih dari keluhan mediknya. Perlu membantu pasien menyadari bahwa gejalanya terkait factor psikologik. Psikoterapi. Medikasi bila perlu saja.

b. Kriteria Diagnosis Gangguan Konversi
A. Satu atau lebih gejala atau deficit pada fungsi motorik volunteer atau fungsi sensoreik yang mengarah pada unsure saraf atau kondisi medik umum.
B. Faktor psikologik dikatakan terkait dengan gejala atau deficitnys, karena dimulai atau kambuhannya gejala atau deficit didahului oleh konflik atau stresor lain.
C. Gejala atau deficit tidak disebabkan oleh kesengajaan atau dibuat-buat ( seperti pada factitious disorder dan malingering).
D. Gejala atu deficit setelah diteliti betul, tidak disebabkan oleh kondisi medik umum, atau efek langusng dari zat, atau perilaku atau pengalaman terkait kultur.
E. Gejala atau deficit mengakibatkan hendaya bermakna dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi lain .
F. gejala atau deficit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi sexual, yang tak terjadi semata selama gangguan berlangsung, dan tidak disebabkan gangguan mental lain.
Jelas : Dengan gejala/defisit motor/sensorik/dg kejang/dg gejala campuran.
3. DD/ gangguan saraf atau penyakit sistemik.

4. Pem penunjang : rutin

5. Terapi : insight-oriented supportive atau terapi perilaku. Hipnosis.

c. Kriteria Diagnosis Hipokondriasis
A. Preokupasi akan ketakutan, atau memiliki ide bahwa ia mempunyai suatu penyakit serius yang berdasarkan interpretasi yang keliru tentang gejala fisiknya.
B. Preokupasi menetap walaupun evaluasi medik dan reassurance telah diberikan.
C. Keyakinan criteria A bukan waham (seperti gg waham tipe somatic) dan tidak terbatas pada kepedulian terhadap penampilannya (spt pd body dismorphic)
D. Preokupasi menyebabkan hendaya bermakna dalam bidang social, pekerjaan atau fungsi penting lain
E. Durasi minimal 6 bulan
F. Tidak akibat GAD, GOK,, gg panic, episode depresi mayor, cemas perpisahan
DD/ : AIDS, endokrinopati, myasthernia gravis, MS, degeneratif saraf, SLE dan neoplastik. GG somatisasi, gg konversi. Factitious Dis atau Malingering
Tata laksana : psikoterapi kelompok, insight-oriented supportive atau terapi perilaku, terapi kognitif.Hipnosis.

d. Kriteria Gangguan Nyeri
A. Nyeri pada satu atau lebih lokasi anatomi sebagai fokus predominan dan cukup parah untuk menjadi perhatian klinis
B. Nyeri menybabkan hendaya bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain.
C. Faktor psikologik diduga mempunyai peran pada awitan, keparaha, kekambuhan atau menetapnya nyeri.
D. Gejala atau deficit tidak sengaja dibuat.
E. Tidak akibat gangguan mooe, anxietas, psikotik dan bukan dyspareunia.
3. DD/ Sulit dibedakan dari nyeri fisik. Bedakan dari gangguan somatoform lain. Konversi, hipokondriasis, Malingering.
4. Pem penunjang : singkirkan gangguan neurologis.
5. Terapi : Farmakoterapi ( antidepresan : SSRI, amitryptiline, amfetamin). Psikoterapi

1. Definisi PSIKOSOMATIK
Disebut juga gangguan psikofisiologik. Terdapat satu kesatuan antara mental dan fisik, serta disebabkan oleh faktor-faktor psikologik.

2. Kriteria Diagnosis Psikosomatik
A. Ada kondisi medik umum.
B. Faktor psikologik mempengaruhi kondisi medik umum secara sbb :
1) adanya hubungan/asosiasi erat atau sementara antara factor psikologik dan perkembangan atau kekambuhan atau lambatnya pemulihan suatu kondisi medik umum
2) factor psikologik mengganggu pengobatan kondisi medik umum
3) factor psikologik dapat menambah risiko kesehatan bagi individu
4) respons fisiologik yang terkait stress dapat mencetuskan atau mengakibatkan kambuhnya gejala dari kondisi medik umum
Sebutkan berdasarkan asal factor psikologiknya :
c. Gangguan mental yang mempengaruhi ….. (sebut : kondisi medik umum). (mis. depresi mayor lambat pulih akibat MCI)
d. Simptom psikologik yang mempengaruhi …..(sebut : kondisi medik umum). (mis depresi lambat sembuh dari pasca operasi)
e. Ciri kepribadian atau cara coping yang mempengaruhi …. (sebut kondisi medik umum) (mis penyangkalan patologis akan kebutuhan untuk operasi pada pasien kanker)
f. Perilaku sehat yang maladaptive yang mempengaruhi …(sebut kondisi medik umum) (mis makan berlebihan, kurang OR, hub sex tak aman)
g. Respons fisiologik yang terkait stress …(sebut kondisi medik umum) (mis kambuhnya stress terkait hipertensi, aritmia, ulcus peptic )

GEJALA : GIT (ulcus pepticum, ulcerative colitis, Chron’s disease), CVS (aritmia, hipertensi, sinkop), RESP (asthma, sindrom hiperventilasi, COPD), Endokirin (hipertiroidism, hipotiroidism, DM, sin Cushing, hiperprolactinemia), Kulit (dermatitis atopik, psoriasis, exkoriasi psikogenik, pruritus, hiperhidrosis, urticaria), Muskuloskeletal (rheumatoid arthritis, SLE, LBP, fibromialgia), Nyeri kepala (migraine, cluster headaches, tension headaches) dll.
3. DDx : gangguan fisik nyata.
4. Penunjang : sesuai gangguan.
5. Terapi :
1) Psikoterapi
2) Terapi relaksasi dan manajemen stress
3) Problem solving
4) Farmakoterapi : antidepresan, anti anxietas dll
6. Penyulit : factor psikologis yang melandasi.

8. GANGGUAN DISOSIATIF DAN GANGGUAN PENYESUAIAN

1. Definisi : Gangguan disosiatif adalah gangguan pada fungsi yang biasanya terintegrasi antara kesadaran, daya ingat, identitas atau persepsi tentang lingkungan. Bisa terjadi tiba-tiba, bertahap atau kronik. Tdd gangguan Depersonalisasi, Amnesia Disosiatif, Fugue disosiatif (berkelana tanpa ingatan tentang masa lalunya) Gangguan Identitas Disosiatif (kepribadian ganda) dan disosiasi tak tergolongkan.

2. Kriteria Diagnosis Gangguan Amnesia Disosiatif
A. Gangguan predominan berupa satu atau lebih episode dari ketidakmampuan mengingat informasi pribadi yang penting, biasanya tentang suatu kejadian traumatic.
B. Gangguan tidak terjadi melulu selama gangguan disosiasi identitas, fugue, PTSD, gg stress akut, atau gg somatisasi dan bukan akibat fisiologis langsung dari zat ( salah guna zat, pengobatan) atau gg saraf atau kondisi medik umum (trauma kepala)
C. Gejala mengakibatkan ketidak berdayaan dan hendaya bermakna dalam fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

3. DD/
a. Lupa alamiah dan amnesia nonpatologik
b. Demensia, delirium, gg amnestik organic
c. Amnesia pasca trauma
d. Gangguan kejang
e. Amnesia akibat zat
f. Amnesia global sementara
g. PTSD, gg stress akut, gg somatoform
h. Berpura-pura dan Gangguan Buatan

4. Pemeriksaan
a. Cari tanda dan gejala organic/fisik.
b. Psikotest

5. Terapi
a. Terapi kognitif, hypnosis, terapi psikoterapi kelompok.
b. Farmakoterapi : thiopental, sodium amobarbital, tab benzodiazepine, amfetamin.
6. Penyulit : menjadi kronik dan tak mampu merawat diri.

GANGGUAN PENYESUAIAN
1. Definisi : suatu reaksi emosional terhadap satu atau lebih stressor/penyebab.
2. Kriteria Diagnosis
A. Perkembangan gejala emosi atau perilaku sebagai respons terhadap stressor yang diketahui yang terjadi dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak terjadinya stress.
B. Gejala atau perilaku ini bermakna secara klinis seperti terlihat sbb :
1) ketegangan yang tampak jelas, yang sesuai dengan yang diharapkan terjadi pada pajanan terhadap stressor itu
2) hendaya bermakna dalam fungsi social atau pekerjaan/sekolah
C. Gangguan yang terkait stress tidak memenuhi criteria Axis I/Diagnosis psikiatrik dan bukan eksaserbasi dari Axis I atau II (ggn kepribadian).
D. Bukan reaksi berduka
E. Bila stressor (atau akibnya) berakhir, gejala tidak tampak lagi untuk durasi 6 bulan selanjutnya.
Catatan : Akut : bila gangguan berakhir kurang dari 6 bulan.
Kronik : bila gangguan berakhir lebih dari, sama dengan 6 bulan.
Sebutkan : Dengan depresi, dg anxietas, dg campuran anxietas dan depresi, dengan gg tingkah laku, dg ggn campuran emosi dan tingkah laku, atau tak tergolongkan.
3. DD/ Gg stress aktu dan PTSD.
4. Pem penunjang : sesuai gejala fisik dan psikotes
5. Tata laksana
a. Psikoterapi : krisis intervensi
b. Farmakoterapi
6. Penyulit : umumnya kembali ke fungsi semula dalam waktu kurang dari 3 bulan. Rrmaja pulih lebih lambat dari orang dewasa.

9. KEDARURATAN PSIKIATRIK

PERCOBAAN BUNUH DIRI
1. Definisi : suatu tindakan fatal yang merupakan harapan/niat untuk mati.
Epidemiologi : Angka bunuh diri di Amerika 30.000 tiap tahun.Uia terbanyak 15-24 th..

Etiologi : factor psikososial, factor biologic, factor genetic. Perilaku parasuicidal : self- mutilation mencederai diri sendiri, melukai tangan, pergelangan tangan, paha; biasanya pada mereka yang imatur, neurotic, introvert.


4. RISIKO TINGGI TERJADI PBD :
a. Umur diatas 45 tahun, laki-laki, bercerai/duda, tidak bekerja, konflik dalam hubungan interpersonal, latar belakang keluarga kacau.
b. Kesehatan : sakit kronik, hipokondriakal, memakai zat berlebihan, depresi berat, psikosis, gg kepribadian , penyalahguna zat, putus asa.
c. Aktivitas bunuh diri : sering, intensif, berkepanjangan, percobaan berulang, terencana, tidak ingin ditolong, ingin mati,menyalahkan diri sendiri, cara letal dan memungkinkan dilakukan.
d. Sumber : usaha/keberhasilan yang rendah, tilikan/kesadaran diri (insight) buruk, sulit mengendalikan afek/perasaan, terisolasi secara social, keluarga yang tidak responsive.
e. Gender : pria melakukan tindakan bunuh diri 4 kali lebih sering dari wanita (menembak, ganging, loncat dari ketinggian). Wanita mencoba bunuh diri 4 kali lebih sering dari pria (racun,obat).
f. Menikah dan bekerja : menikah secara bermakna mengurangi risiko BD. Bekerja mengurangi risiko BD. Semakin tinggi status social, semakin tinggi risiko BD.

5. DD/ atasi etiologi : Delirium, Dementia, Intoksikasi zat, Depresi berat, Skizofrenia, Gangguan waham, ketergangtungan alcohol atau zat, gangguan kepribadian, gangguan cemas, Retardasi mental dll

6. Pemeriksaan penunjang :
a. Tanda vital / ABCD
b. Intervensi krisis
c. Antidepresan, antic emas atau antipsikotik

PEDOMAN ANAMNESIS PX PERCOBAAN BUNUH DIRI
Anamnesis
1) Mulailah pertanyaan yang mengarah kepada perasaan pasein terhadap arti hidup.
- “apakah pernah anda merasa hidup ini tidak ada gunanya untuk dijalani ?”
- Apa pernah ingin tidur dan tidak pernah bangun lagi ?
2) Lanjutkan dengan pertanyaan spesifik tentang pendapat tentang kematian
melukai diri, BD.
- Apakah anda berpikir tentang kematian akhir-akhir ini ?
- Apakah terpikir untuk melukai diri anda ?
3) Kepada orang yang berpikir untuk melukai diri atau BD.
. – Kapan pertama kali berpikir demikian ?
- Apa sebab berpikir begitu ?
- Apakah sering berpikir begitu (frekwensi, obsesional, terkontrol) ?
- Seberapa jauh anda berpikir untuk melakukannya ?
- Apakah anda berpikir bahwa anda akan melakukannya suatu hari ?
- Apa anda pernah mencoba melukai/BD, tapi menghentikannya, sebelum berbuat sesuatu ( meletakkan pisau, pistol pada tubuh anda, hamper loncat ) ?
- Apa yg terpikir saat itu bila anda benar-benar membunuh diri anda? (eg melarikan diri, reuni dg orang yang sudah mati, lahir kembali, mengharap reaksi org lain)
- Apa pernah membuat rencana khusus untuk melukai/BD? (+ rencananya)?
- Apa anda punya senjata ?
- Apa anda mempersiapkan diri (menulis catatan/keinginan, merancang financial, mencegah jangan sampai ketahuan dll)
- Pernah mengatakan pada orang lain tentang rencana anda ?
- Apa pendapat anda tentang masa depan ?
- Hal apa yang membantu anda merasa lebih/kurang menaruh harapan (terapi, rekonsiliasi, resolusi masalah )?
- Hal apa saja dalam hidup yang menyebabkan anda ingin/kurang ingin BD ?
- Hal apa saja dalam hipudr yang menyebabkan anda ingin melarikan diri dari kehidupan atau memilih mati saja ?
- Apa saja dalam hidup anda yang membuat anda ingin tetap hidup ?
- Apa tindakan anda bila pikiran BD muncul lagi?
d) Bagi orang yang telah mencoba BD atau melakukan tindakan melukai diri, pertanyaan yang sama seperti di atas. Tambahan :
- Ceritakan bagaimana terjadinya (situasi, pandangan masa depan, pakai alcohol/zat, cara, niat, keseriusan cederanya)
- Apa yang dipikirkan saat menjelang tindakan ?
- Apa yang anda pikirkan bakal terjadi ( tidur vs cedera vs mati, reaksi org lain)
- Apa orang lain ada di sana saat itu ?
- Apa anda mencari pertolongan seteralh itu, atau org datang menolong ?
- Apa anda berencana ditemukan org atau ditemukan secara tidak sengaja ?
- Anda mendapat penanganan setelahnya?(medis vs psikiatrik,ugd vs poliklinik
- Setelah percobaan, apakah ada perubahan pada cara pikir anda ?
- Apa dulu pernah mencoba melukai diri/BD ?
e) Bagi orang yang memiliki pikiran/percobaan BD berulang.
- Apa sering mencoba Lukai Diri/BD ?
- Kapan terakhir kali ?
- Ceritakan pikiran anda saat anda berpikir paling serius ttg BD.
- Kapan hal di atas terjadi ?
- Apa sebabnya dan bgma sesudah itu ?
f) Bagi mereka yang PSIKOSIS, Tanya halusinasi dan waham.
-
c. Laboratoris : DL, UL, LFT, RFT, GDA, elektrolit, analisa gas darah, intoksikasi dll

d. Radiologis : cari tanda trauma

5. Terapi
a. Rawat inap !!! Dijaga sangat ketat oleh orang yang dikenal. Jauhkan benda yang mengundang bahaya. Waspadai ruangan, pintu, celah untuk melarikan diri atau mengulang PBD.
b. Evaluasi : gg kepribadian yang sangat impulsive.
Anamnesis riwayat psikiatrik lengkap. Buat status mental lengkap, cari tanda depresi, pikiran,niat, rencana dan percobaan BD. Juga tak punya rencana masa depan, membagikan barang pribadinya.
b. Psikoterapi
c. Antidepresan, antianxietas, hipnotik-sedatif, antipsikotik, ECT


4. Pemeriksaan penunjang :
a. Tanda vital / ABCD
b. Anamnesis
1) Mulailah pertanyaan yang mengarah kepada perasaan pasien terhadap arti hidup.Mis “apakah pernah anda merasa hidup ini tidak ada gunanya untuk dijalani?
2) Lanjutkan dengan pertanyaan spesifik tentang pendapat tentang kematian, (lihat lampiran)
c. Laboratoris : DL, UL, LFT, RFT, GDA, elektrolit, analisa gas darah, intoksikasi dll
d. Radiologis : cari tanda trauma

5. Terapi
a. Rawat inap. Dijaga sangat ketat oleh orang yang dikenal. Jauhkan benda yang mengundang bahaya. Waspadai ruangan, pintu, celah untuk melarikan diri atau mengulang PBD.
b. Psikoterapi
c. Antidepresan, antianxietas, hipnotik-sedatif, antipsikotik, ECT

10. KEDARURATAN PSIKIATRI ANAK

Faktor risiko dalam keluarga : pencederaan fisik dan seksual pada anak. Krisis keluarga : kehilangan orang tua, perceraian, kehilangan pekerjaaan, keluarga pindah. Kekacauan keluarga : gangguan jiwa pada orang tua anak.
Tata laksana : rawat inap. psikoterapi, jauhkan benda berbahaya, dijaga orang yang dikenal. Antidepresan, antipsikotik dll.

KEDARURATAN YANG MENGANCAM NYAWA (dan rencana tindak) :
a. Perilaku percobaan bunuh diri terutama pada remaja.
Waspadai : ide atau perilaku BD letalitasnya, keinginan menetap/tidak. Evaluasi kepekaan, dukungan dan kompetensi keluarga. Buat riwayat psikiatrik, status mental, fungsi keluarga.
b. Perilaku kasar/kejam dan amarah : hati-hati, cegah pasien dan staf dari cedera. Beri ia waktu untuk menenangkan diri. Boleh difiksasi bila membahayakan.
Bila tanpa gangguan jiwa, hampir tidak perlu medikasi.

PENYIKSAAN FISIK DAN SEKSUAL PADA ANAK
Gejala : anak merasa takut, cemas, bersalah, depresi dan ambivalen saat dianamnesis. Bila pernah mengalami sebelumnya, ia jadi berperilaku lebih dari yang seharusnya tampak sesuai usia perkembangannya. Seringkali mereka jadi sadistic dan agresif. Mereka diancam akan dicederai berat bila mengungkap cerita tentang si pelaku. Sulit mengungkap bila pelaku adalah anggota keluarga korban. Anak takut keluarganya dihabisi atau ia dibuang oleh keluarga.
Anamnesis terpisah antara anak dan keluarga. Hadapkan dan observasi sikap anak terhadap tiap orang tua yang dihadirkan secara terpisah.

Pemeriksaan penunjang : ANAMNESIS TELITI ! Bicara terus terang dan jelas agar anak tidak bingung dan takut menceritakan apa yang terjadi padanya. Contoh : Perhatikan saat duduk, berjalan, mungkin PMS (gonore : nyeri, iritasi dan gatal pada genital)..
Pergunakan boneka yang memiliki anatomi yang jelas, sehingga anak dapat terbantu menyebut organ mana dan bagaimana cara terkena.

Jakarta, 2011



Dr. Eunice P. Najoan, SpKJ
Kolonel Laut (K/W)Nrp 9691/P

1 komentar:

Powered By Blogger