Pengikut

Minggu, 05 Juni 2011

referat sinkop

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sinkop merupakan salah satu penyebab penurunan kesadaran yang banyak ditemukan di Unit Gawat Darurat (UGD). Sinkop adalah kehilangan kesadaran sementara dengan awitan akut yang diikuti dengan jatuh, dan dengan pemulihan spontan dan sempurna tanpa intervensi. Sinkop merupakan gejala dari suatu penyakit sehingga harus dicari etiologinya.1

Di Amerika diperkirakan 3% dari kunjungan pasien digawat darurat disebabkan oleh sinkop dan merupakan 6% alasan seseorang datang kerumah sakit. Angka rekurensi dalam 3 tahun diperkirakan 34%. Sinkop sering terjadi pada orang dewasa, insiden sinkop meningkat dengan meningkatnya umur. Hamilton mendapatkan sinkop sering pada umur 15-19 tahun, lebih sering pada wanita dari pada laki-laki, sedangkan pada penelitian Framingham mendapatkan kejadian sinkop 3% pada laki-laki dan 3,5% pada wanita, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita. Penelitian Framingham di Amerika Serikat tentang kejadian sinkop dari tahun 1971 sampai 1998 (selama 17 tahun) pada 7814 individu, bahwa insiden sinkop pertama kali terjadi 6,2/1000 orang/tahun. Sinkop yang paling sering terjadi adalah sinkop vasovagal (21,1%), sinkop cardiac (9,5%) dan 36,6% sinkop yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan evaluasi dan pengobatan pasien dengan sinkop tersebut dapat mencapai 800 juta dolar Amerika. Sedangkan di Eropa dan Jepang kejadian sinkop adalah 1-3,5%. Sinkop vascular merupakan penyebab sinkop yang terbanyak, kemudian diikuti oleh sinkop cardiac.2,3

Penatalaksanaan sinkop tergantung etiologinya. Untuk itulah tinjauan kepustakaan ini ditulis agar dapat mendiagnosis sinkop berdasarkan etiologinya supaya sinkop dapat dicegah ataupun diterapi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi

Sinkop berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata syn dan koptein yang artinya memutuskan. Sehingga definisi sinkop (menurut European Society of Cardiology:ESC), adalah suatu gejala dengan karakteristik klinik kehilangan kesadaran yang tiba-tiba dan bersifat sementara, dan biasanya menyebabkan jatuh. Onsetnya relatif cepat dan terjadi pemulihan spontan. Kehilangan kesadaran tersebut terjadi akibat hipoperfusi serebral. 3,4

II.2 Etiologi

Kegiatan sebelum sinkop dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab gejala. Sinkop dapat terjadi pada saat istirahat, dengan perubahan postur, pada tenaga, setelah latihan, atau dengan situasi tertentu seperti batuk, atau berdiri lama. Sinkop terjadi dalam waktu 2 menit berdiri menunjukkan hipotensi ortostatik.3

Secara garis besar, penyebab sinkop dibagi menjadi dua. Akibat kelainan jantung (cardiac sinkop) dan penyebab bukan kelainan jantung. Pembagian ini sangat penting, karena berhubungan dengan tingkat risiko kematian. Penyebab sinkop dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok yaitu vascular-cardiac, neurologi, sinkop refleks, sinkop metabolik dan sinkop lain-lain.4

A. Jantung dan sirkulasi

1. Sinkop Vasodepressor.

Merupakan penyebab yang paling lazim cenerung bersifat familial. Sinkop vasodepressor terjadi jika individu yang rentan berhadapan dengan situasi yang membuat stress. Gejala prodromal: kegelisahan, pucat, kelemahan, mendesah, menguap, diaphoresis, dan nausea. Gejala-gejala ini mungkin diikuti dengan kepala terasa ringan, penglihatan kabur, kolaps, dan LOC (loss of consciousness). Kadang-kadang tejadi kejang klonik ringan, tetapi tidak diindikasikan penanganan kejang, kecuali terdapat tanda-tanda lain yang menunjuk kea rah ini. Serangan berlangsung singkat dan cepat pulih jika berbaring. Episode ini dapat berulang.

Sinkop Vasodepressor dapat terjadi pada:

ü Seseorang dengan kondisi normal yang dipengaruhi oleh emosi yang tinggi

ü Pada seseorang yang merasakan nyeri hebat setelah luka, khususnya pada daerah abdomen dan genitalia.

ü Selama latihan fisik yang keras pada orang-orang yang sensitive.4

2. Penyebab Hipotensi Orthostatik

Definisi Hipotensi Orthostatik adalah apabila terjadi penurunan tekanan darah sistolik 20mmHg atau tekanan darah diastolik 10 mmHg pada posisi berdiri selama 3 menit. Pada saat seseorang dalam posisi berdiri sejumlah darah 500-800 ml darah akan berpindah ke abdomen dan eksremitas bawah sehingga terjadi penurunan besar volume darah balik vena secara tiba-tiba ke jantung. Penurunan ini mencetuskan peningkatan refleks simpatis. Kondisi ini dapat asimptomatik tetapi dapat pula menimbulkan gejala seperti kepala terasa ringan, pusing, gangguan penglihatan, lemah, berbedebar-debar, hingga sinkop. Sinkop yang terjadi setelah makan terutama pada usia lanjut disebabkan oleh retribusi darah ke usus.

Hipotensi ortostatik merupakan penurunan tekanan darah seseorang sedang dalam posisi tegak. Keadaan ini terjadi berbagai keadaaan:

a. Hipovolemia (perdarahan, muntah, diare,diuretik).

b. Gangguan pada reflex normal (nitrat, vasodilator, penghambat kanal kalium, neuroleptik).

c. Kegagalan autonom. Primer atau sekunder. Diabetes paling sering menyebabkan neuropati otonom sekunder, sedangkan usia lanjut merupakan penyebab lazim kegagalan otonom primer. Paling tidak telah dicerminkan oleh tiga sindroma

ü Disautonomia akut atau subakut

Pada penyakit ini, seorang dewasa atau anak yang tampak sehat mengalami palisis parsial atau total pada system saraf parasimpatis dan simpatis selama beberapa hari atau beberapa minggu. Refleks pupil menghilang sebagaimana halnya dengan fungsi lakrimasi, saliva serta perspirasi, dan terdapat impotensi, paresis otot-otot kandung kemih dan usus serta hipotensi ortostatik. Penyakit tersebut dianggap merupakan suatu varian dari polyneuritis idiopatik akut yang ada hubungannya dengan sindroma Guillain-Bard. Kesembuhan mungkin dapat dipercepat dengan prednisone.

ü Insufisiensi autonom pascanglionik kronis

Keadaan ini merupakan penyakit yang menyerang usia pertengahan dan usia lanjut. Penderita berangsur-angsur mengalami hipotensi ortostatik kronik yang kadang-kadang bersamaan dengan gejala impotensi dan gangguan sfingter. Gejala pucat atau mual. Lakil-laki lebih sering terkena, tampaknya ireversibel.

ü Insufisiensi autonom praganglionik kronis

Pada keadaan ini, gejala hipotensi ortostatik dengan anhidrosis yang bervariasi, impotensi dan gangguan sfingter terjadi bersama dengan kelainan yang mengenal system saraf pusat. Kelainan tersebut mencakup (1) tremor, rigiditas ekstrapiramidal serta akinesia (sindroma Shy-Drager), (2) degenerasi serebelum progressive yang pada sebagian kasus bersifat familial dan (3) kelainan sereberal serta ekstrapiramidal yang lebih bervariasi (degenerasi striatonigra). 4

3. Obstruksi aliran keluar. Stenosis aorta, stenosis mitral, stenosis pulmonal. Pasien dapat dating dengan sinkop akibat latihan fisik. Malfungsi katup secara mekanik juga dapat menyebabkan obstruksi aliran keluar.

4. Infark atau iskemia miokardium

5. Aritmia

a. Bradiaritmia: sindrom sinus sakit (sick sinus syndrome, blok nodus AV, dll)

b. Takiaritmia: PSVT, sindrom Wolf-Parkinson-White, takikardia ventrikel, dll

Ada dua kelainan jantung yang sering menjadi penyebab pingsan. Pertama adanya hambatan pada aliran darah di pompa jantung. Seperti pada pompa air yang katupnya rusak, fungsi pompa jantung pun bisa terganggu dan volume darah yang dihasilkan menurun.

Penurunan jumlah darah yang dikeluarkan oleh jantung ini akan menyebabkan penurunan perfusi otak dan memicu pingsan. Hal ini terjadi pada kondisi penyempitan katup- katup jantung, kelainan otot jantung, penumpukan cairan di selaput jantung, tumor dalam jantung, dan lain-lain. Kedua adalah gangguan irama jantung (aritmia). Bayangkan apabila irama jantung tiba-tiba melambat. Tentu saja terjadi penurunan aliran darah di otak. Begitu pula jika ia memompa terlalu cepat. Pengisian ruang-ruang jantung menjadi tidak maksimal, dan kekuatan pompa menurun drastis. Contoh melambatnya irama adalah sick sinus syndrome (SSS).4,5

6. Hipersensitivitas sinus karotis. Sinkop dapat terjadi saat bercukur atau memakai kerah yang ketat. Hal ini umum terjadi pada pria dengan usia lebih dari 50 tahun. Aktivasi dari baroreseptor sinus karotis meningkatan impuls yang dibawa ke badan Hering menuju medulla oblongata. Impuls afferen ini mengaktivkan saraf simpatik efferen ke jantung dan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan sinus arrest atau Atrioventricular block, vasodilatasi. Pemijatan salah satu atau kedua sinus karotikus, khususnya pada orang usia lanjut, menyebabkan (1) perlambatan jantung yang bersifat refleks (sinus bradikardia, sinus arrest, atau bahkan blok atrioventrikel), yang disebut respons tipe vagal, dan (2) penurunan tekanan arterial tanpa perlambatan jantung yang disebut respons tipe depressor. Kedua tipe respons sinus karotikus tersebut dapat terjadi bersama-sama.5

B. Etiologi Metabolik

Episode biasanya diperkuat jika mengerahkan tenaga tetapi dapat terjadi jika pasien berbaring. Awitan dan pemulihan biasanya lama. Penyebab Sinkop Metabolik Penyebab metabolik pada sinkop sangat jarang, hanya berkisar 5% dari seluruh episode sinkop.

ü Hipoksia, seperti pirau pada penyakit jantung congenital

ü Hiperventilasi, menyebabkan vasokontriksi serebrum dengan gejala kesulitan bernafas, ansietas, parestesia tangan atau kaki, spasme karpopedal, dan kadang-kadang nyeri dada unilateral atau bilateral. Pasien dapat mengalami serangan ulangan jika melakukan hiperventilasi dalam lingkungan yang terkendali.

ü Hipoglikemia, Jika gejala terjadi secara bertahap selama periode beberapa menit, hiperventilasi atau hipoglikemia sebaiknya dipertimbangkan. Keadaan hipoglikemia yang berat biasanya terjadi akibat seuatu penyakit yang serius, seperti tumor pada sel pulau langerhan ataupun penyakit adrenal, hipofise atau hepar yang lanjut, atau akibat pemberian insulin dalam jumlah yang berlebihan. Gambaran klinisnya berupa gejala kebingunan atau bahkan penurunan kesadaran. Kalau keadaaannya ringan, sebagaimana lazim terjadi pada hipoglikemia. Diagnosis keadaan ini bergantung pada hasil anamnesis riwayat medis dan pengukuran gula darah pada waktu serangan.

ü Intoksikasi alcohol

C. Etiologi neurologic 5

Serangan iskemk sementara (TIA; transient ischemic attact) dapat menyebabkan sinkop tetapi jarang terjadi. Agar terjadi hal ini system aktivasi reticular harus terkena. Jika terjadi “selalu” terdapat manifestasi neurologic lainnya, seperti kelainan saraf cranial.

a) Migrain. Penyebab tersering kedua pada remaja. LOC diikuti dengan nyeri kepala.

b) Kejang. Biasanya mudah dibedakan dengan aura, riwayat gerakan tonik klonik dan keadaan pascaiktal

c) Peningkatan tekanan intracranial mendadak yang diperlihatkan dengan perdarahan subarachnoid atau kista koloid obstruktif pada ventrikel ketiga.

Terminologi ini merupakan bentuk dari seluruh sinkop yang berasal dari sinyal saraf SSP yang berefek pada vaskular, khususnya pada Nucleus Tractus Solitarius (NTS). Sejumlah stimulus, yang terbanyak bersala dari viseral, dapat menghilangkan respon yang berakibat pengurangan atau hilang tonus simpatis dan diikuti dengan peningkatan aktivitas vagal. NTS pada medula mengintegrasikan stimulus afferen dan sinyal baroreceptor dengan simpatis efferen yang mempertahankan tonus vaskular. Beberapa studi mengatakan terdapat gangguan pada pengaturan kontrol simpatis dan juga sinyal baroreceptor.

D. Sinkop refleks

Sinkop refleks disebabkan oleh gangguan pengisian jantung sebelah kanan dan hipoperfusi serebral keseluruhan. Pasien biasanya sedang berdiri tegak sebelum suatu episode karena pengumpulan darah akibat gravitasi berperan dalam penyebabnya. Penyebab yang potensial antara lain, emboli atau infark paru, tamponade pericardium, hipertensi paru, uterus hamil karena menekan vena kava inferior dan batuk, yang menurunkan beban awal dengan meningkatkan tekanan intrathoraks.

E. Lain-lain

1. Sinkop batuk

Keadaan ini merupakan keadaan langka yang terjadi akibat serangan batuk yang mendadak dan biasanya dijumpai pada laki-laki yang menderita bronchitis kronis. Setelah batuk-batuk kuat, pasien tiba-tiba lemah dan kehilangan kesadarannya untuk sementara. Tekanan intrathorakal meninggi dan mennganggu vena balik ke jantung sebagaimana halnya pada maneuver valsava (ekshalasi dengan glottis tertutup).

2. Sinkop pascamiksi

Suatu keadaan yang biasanya terlihat pada lansia selama atau sesudah urinasi. Khususnya setelah bangkitan dari posisi berbaring, barangkali merupakan tipe khusus sinkop vasodepressor. Diperkirakan bahwa pelepasan tekanan intravesikuler menyebabkan vasodilatasi mendadak yang diperberat lagi dengan berdiri, dan bahwa bradikardia yang terjadi lewat mediator vagal merupakan factor yang turut menyebabkan sinkop tersebut.5

3. Psikogenik

Serangan ansietas atau kecemasan acapkali diinterpretasikan sebagai perasaan mau pingsan tanpa kehilangan kesadaran yang sesungguhnya. Gejala tersebut tidak disertai dengan wajah yang pucat dan juga tidak menghilang setelah pasien dibaringkan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala lain yang menyertai, dan bagian dari serangan tersebut dapat ditimbulkan kembali dengan hiperventilasi. Dua mekanisme yang diketahui terlibat dalam proses terjadinya serangan tersebut adalah penurunan kadar karbon dioksida sebagai akibat hiperventilasi dan pelepasan hormone epineprin. Hiperventilasi akan mengakibatkan hipokapnia, alkalosis, peningkatan resistensi serebrovaskuler dan penurunan aliran darah serebral. 5

4. Nyeri ligamentosa atau visceral berat

5. Dapat juga terjadi sebagai kelanjutan vertigo berat.

II.3 Patofisiologi 5,6

Pingsan (sinkop) adalah kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, biasanya hanya beberapa detik atau menit, karena otak tidak mendapatkan cukup oksigen pada bagian-bagian otak yang merupakan bagian kesadaran. Terdapat penurunan kesadaran aliran darah, pengisian oksigenasi cerebral, resistensi serebrovaskuler yang dapat ditunjukkan. Jika iskemia hanya berakhir beberapa menit, tidak terdapat efek pada otak. Iskemia yang lama mengakibatkan nekrosis jaringan otak pada daerah perbatasan dari perfusi antara daerah vaskuler dari arteri serebralis mayor.

Patofisiologi dari sinkop terdiri dari tiga tipe:

1. Penurunan output jantung sekunder pada penyakit jantung intrinsic atau terjadi penurunan klinis volume darah yang signifikan.

2. Penurunan resistensi pembuluh darah perifer dan atau venous return.

3. Penyakit serebrovaskular klinis signifikan yang mengarahkan pada penurunan perfusi serebral. Terlepas dari penyebabnya, semua kategori ini ada beberapa factor umum, yaitu gangguan oksigenasi otak yang memadai mengakibatkan perubahan kesadaran sementara.

II.4 Manifestasi klinis 5

Sebelum pingsan, pusing, atau kepala ringan terjadi pada 70% pasien mengalami sinkop. Gejala lain, seperti vertigo, kelemahan, diaforesis, ketidaknyamanan epigastrium, mual, penglihatan kabur atau pudar, pucat, atau parestesia, mungkin juga terjadi pada periode presinkop

Suatu serangan sinkop ( pingsan ) mempunyai ciri- ciri sebagai berikut :

1. Teriakan waktu serangan tidak ada.

2. Lama serangan berlangsung beberapa detik.

3. Tidak ada ngompol.

4. Setelah serangan biasanya penderita sadar penuh, meskipun ada perasaan lemas dan lemah.

5. Gigitan lidah tidak terjadi.

6. Muka pucat.

7. Sinkop jarang timbul pada saat pasien berbaring.

Sebelum sinkop biasanya ada rasa lapar, capek atau stress.

Posisi saat awitan serangan. Epilepsi dan serangan sinkop disebabkan hipoglikemia, hiperventilasi, atau blok jantung mungkin tidak tergantung pada sikap tubuh. Kelemahan yang disertai dengan penurunan tekanan darah (termasuk serangan karotis) dan dengan takikardia ektopik hanya terjadi pada posisi duduk atau berdiri, sedangkan kelemahan yang disebabkan oleh hipotensi ortostatik cenderung terjadi segera setelah perubahan posisi dari berbaring menjadi berdiri.

Gejala penyerta. Gejala seperti palpitasi mungkin terjadi jika serangan disebabkan oleh kecemasa atau hiperventilasi, takikardia ektopik, atau hipoglikemia. Keadaan mati rasa atau perasaan perih pada tangan dan wajah akibat sering timbul karena hiperventilasi. Kejang yang asli selama serangan kadang-kadang terjadi dengan blok jantung, asistol, atau takikardia ventrikuler. Jika durasi serangan singkat, misalnya beberapa detik sampai beberapa menit, sinkop sinus karotis atau salah satu dari beberapa bentuk hipotensi postual adalah mungkin. Durasi lebih dari beberapa menit tetapi kurang dari satu jam menunjukkan hipoglikemia atau hiperventilasi.5

Anamnesis merupakan bagian evaluasi yang paling penting. Pasien dan saksi harus ditanyakan tentang keadaan pencetus, gejala prodromal, perjalanan waktu awitan dan pemulihan, serta riwayat pemberian obat-obatan. Dapat membantu membedakan sinkop kardiogenik atau nonkardiogenik.

Tabel 1. Pertanyaan pada anamnesis pasien dengan sinkop.

Description: syncope.png

II.4 Pemeriksaan Fisik 6

Pemeriksaan fisik lengkap adalah syarat bagi semua pasien yang datang di UGD. Perhatian khusus harus diberikan pada aspek-aspek tertentu dari pemeriksaan fisik pada pasien yang datang dengan sinkop.

ü Selalu menganalisis tanda-tanda vital (Tekanan darah dan nadi pada posisi berbaring dan berdiri)

ü Auskultasi arteri subklavia dan arteri karotis

ü Pemeriksaan jantung yang menyeluruh dan lengkap dapat memberikan gambaran mengenai etiologi sinkop.

ü Pemeriksaan neurologis yang cermat sebagai barometer perbaikan ataupun perburukan gejala. Status mental biasanya normal.

ü Identifikasi trauma

Pemeriksaan Neurologi 7

· Disfungsi otonom

Pada disfungsi otonom, system saraf otonom tidak mampu menyesuaikan pada perubahan posisi sehingga menyebabkan hipotensi ortostatik dan sinkop. Derajat sinkop didasarkan pada lamanya pasien dapat berdiri sebelum akhirnya duduk. Impotensi dan gangguan miksi merupakan jenis disfungsi otonom lainnya.

· Test mengangkat kepala

Test dengan mengangkat kepala pasien sementara dalam posisi berbaring merupakan tekhnik provokatif untuk mendiagnosis sinkop vasodepressor. Pengangkatan kepala hingga mencapai sudut maksimum 60 sampai 700 biasanya akan mencetuskan hipotensi simtomati atau sinkop dalam waktu 10 hingga 30menit pada pasien sindroma ini.

· Gangguan Serebrovaskular

ü Steal Syndrome

ü TIA

· NonSyncopal Attack

ü Epilepsi

ü Katapleksi

ü Drop attack

· Evaluasi Psikiatri

II.5 Laboratorium Studi 8

Saat ini, tidak ada pengujian khusus memiliki kekuatan yang cukup untuk benar-benar ditunjukkan untuk evaluasi sinkop. rekomendasi pedoman berbasis penelitian dan konsensus tercantum di bawah ini. Pemeriksaan laboratorium harus diarahkan oleh anamnesa dan pemeriksaan fisik, tetapi tidak semuanya.

Pemeriksaan darah rutin seperti elektrolit, enzim jantung, kadar gula darah dan hematokrit memiliki nilai diagnostik yang rendah, sehingga pemeriksaan tersebut tidak direkomendasikan pada pasien dengan sinkop kecuali terdapat indikasi tertentu dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis, misalnya pemeriksaan gula darah untuk menyingkirkan kemungkinan hipoglikemia dan kadar hematokrit untuk mengetahui kemungkinan adanya perdarahan dan lain-lain. Pada keadaan sindrom QT memanjang keadaan hipokalemia dan hipomagnesemia harus disingkirkan terlebih dahulu. Tes kehamilan harus dilakukan pada wanita usia reproduksi, terutama yang akan menjalani head-up tilt testing atau uji elektrofisiologi. 8

Sinkop akibat hipoglikemi adalah hilangnya kesadaran yang berhubungan dengan kadar gula darah dibawah 40mg/dL dan disertai gelaja tremor, bingung, hipersalivasi, keadaan hiperadrenergik dan rasa lapar.8

II.6 Studi Imaging 9

Head CT scan (noncontrast)

Head CT scan tidak diindikasikan pada pasien nonfocal setelah peristiwa syncopal. Tes ini memiliki hasil diagnostik rendah sinkop. Dari 134 pasien prospektif dievaluasi untuk sinkop menggunakan CT scan, 39 pasien temuan abnormal pada scan. Hanya 1 CT scan kepala adalah diagnostik pada pasien tidak diharapkan memiliki patologi intrakranial. Dari scan yang tersisa, 5 menunjukkan hematoma subdural dianggap sekunder untuk sinkop. Head CT scan mungkin secara klinis diindikasikan pada pasien dengan defisit neurologis baru atau pada pasien dengan trauma kepala sekunder sinkop.

Dada CT / scan perut

Studi imaging ditunjukkan hanya dalam kasus-kasus pilih, seperti kasus di mana diseksi aorta, ruptur aneurisma aorta abdominal, atau embolus paru diduga.

Brain MRI / arteriografi resonansi magnetik (MRA)

Tes-tes ini mungkin diperlukan dalam kasus-kasus pilih untuk mengevaluasi pembuluh vertebrobasilar dan yang lebih tepat dilakukan secara rawat inap dengan konsultasi dengan ahli saraf atau seorang ahli bedah saraf.

Ventilasi-perfusi (V / Q) scanning

Tes ini cocok untuk pasien yang diduga pulmonary embolus.

Echocardiography

Pada pasien dengan penyakit jantung diketahui, fungsi ventrikel kiri dan fraksi ejeksi telah ditunjukkan untuk mempunyai hubungan prediksi yang akurat dengan kematian. Echocardiography merupakan ujian pilihan untuk mengevaluasi penyebab yang dicurigai jantung mekanik sinkop.

Tes Lainnya

Elektrokardiografi

Mendapatkan EKG 12-lead standar di sinkop. Ini adalah tingkat A rekomendasi konsensus 2007 pedoman Acep untuk sinkop. EKG digunakan di sebagian besar setiap aturan pengambilan keputusan klinis 9

Tabel 2. Gambaran EKG yang menunjukan sinkop akibat aritmia.9

Pada pasien dengan kelemahan atau sinkop yang ditandai dengan bradikardia, seseorang harus membedakan yang disebabkan oleh kegagalan refleks neurogenik atau kardiogenik (Stokes-Adam). Ekg harus bersifat menentukkan, tetapi meskipun tanpa EKG, serangan Stokes-Adam dapat diketahui secara klinis dapat diketahui durasinya lebih lama, dan sifat denyut jantung lambat yang menetap, adanya bunyi yang sinkron yang dapat didengarkan dengan kontraksi atrial, dengan gelombang kontraksi atrial pada pulsasi vena jugularis, dan dengan berbagai intensitas bunyi jantung pertama yang nyata walaupun ritme teratur.

Holter monitor / loop recorder acara

Ini adalah tes rawat jalan. Di masa lalu, semua pasien dengan sinkop dimonitor selama 24 jam di rumah sakit. Kemudian, loop recorder dan sinyal-rata-rata perekam acara diperbolehkan untuk pemantauan selama periode waktu lebih lama, yang meningkatkan hasil mendeteksi aritmia.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa umur-cocok populasi asimptomatik memiliki jumlah setara dengan peristiwa arrhythmic dicatat oleh pemantauan berjalan. perekam Loop memiliki hasil diagnostik yang lebih tinggi dari evaluasi monitor Holter dengan penghematan biaya marjinal.10

Elektroensefalografi

Elektroensefalografi (EEG) dapat dilakukan pada kebijaksanaan ahli saraf jika kejang dianggap sebagai diagnosis alternatif yang mungkin. 10

Stress test

Stress test studi elektrofisiologik / (EPS) memiliki hasil diagnostik yang lebih tinggi dibandingkan dengan monitor Holter dan harus diperoleh untuk semua pasien dengan aritmia yang diduga sebagai penyebab sinkop. Sebuah tes stres jantung sesuai untuk pasien yang diduga sinkop jantung dan yang memiliki faktor risiko untuk aterosklerosis koroner. Tes ini dapat membantu dengan stratifikasi risiko jantung dan dapat membimbing terapi masa depan. 9,10

II.9 PENGOBATAN 11,12

Pada sebagian besar kasus, keadaan mau pingsan atau fainting relative bersifat benigna. Dalam menghadapi pasien yang pernah mengalami serangan ini, pertama-tama dokter harus memikirkan sebab-sebab pinsan yang memerlukan emergensi. Diantara pelbagai keadaan yang bisa memerlukan emergenci terdapat perdarahan internal yang bersifat massif serta infark miokard yang dapat terjadi tanpa nyeri dan aritmia jantung. Pada usia lanjut tanpa penyebab yang jelas curiga kemungkinan blok jantung total atau takiaritmia.

Pasien stadium awal diletakkan dalam posisi biasanya berbaring mendatar merupakan satu-satunya cara untuk mengembalikan kesadaran penderita. Mengangkat kaki (tinggikan tungkainya kurang lebih 20 cm) dapat mempercepat pemulihan karena bisa meningkatkan aliran darah ke jantung dan otak. Longgarkan pakaian yang ketat agar aliran darahnya tak terganggu. Jangan memberikan apa pun lewat mulut apabila penderita belum sadar. Pastikan bahwa jalan napasnya terbuka, napasnya lancar, dan denyut nadinya teraba kuat dan teratur. Jika penderita terlalu cepat duduk atau disangga/digendong dalam posisi duduk, dapat terjadi episode pingsan lain. Namun, pada kasus-kasus yang terus berulang dapat dibantu dengan bantuan obat-obatan. Dokter mungkin meresepkan obat tekanan darah, antidepresan, pembuluh darah dan penggunaan terapi tertentu.11

Pencegahan tergantung pada mekanisme yang terlibat. Pada keadaan sinkop vasovagal yang biasanya ditemukan diantara para remaja dan cenderung terjadi pada saat mengalami guncangab emosional, keletihan, perasaan lapar, dll. Tindakan yang menganjurkan pasien untuk menghindari semua keadaan ini sudah memadai. Pada pasien hipotensi postural, pasien harus diingatkan agar tidak bangkit secara mendadak dari tempat tidur. Sebaiknya pasien tidur dengan ranjang yang ditinggikan sampai 8 hingga 12 inci bagian kepala oleh ganjal kayu dan mengenakan sabuk perut elastic serta stocking elastis. Obat golongan dari efedrin dapat bermanfaat jika pemakaiannya tidak menimbulkan insomnia.

Pada sindroma hipotensi postural yang kronis, preparat mineralkortikoid yang khusus (tablet fludrohidrokortison asetat 0,1 hingga 0,2 mg/hari dalam dosis terbagi).12

Penanganan sinkop sinus karotikus meliputi pasien harus memakai pakaian kerah baju yang longgar dan belajar berpaling dengan memutar seluruh badan serta bukan dengan memutar kepala saja. Obat golongan atropine dan efedrin harus digunakan masing-masing pada pasien bradikardia, pemasangan pacemaker dapat dilakukan pada ventrikel kanan 12

Lebih lanjut Rawat Inap

Evaluasi Sinkop di Bagian Gawat Darurat Studi (Seeds) Data menunjukkan bahwa unit sinkop khusus dengan pendekatan protokol untuk mengesampingkan penyebab jantung dari sinkop mengurangi biaya rumah sakit dan lama tinggal tanpa mengorbankan kualitas pelayanan.13

Pertimbangan merawat pasien sinkop dirumah sakit didasarkan pada 2 tujuan, yaitu 1.tujuan diagnosis, dan 2.terapi. Kasus sinkop yang pada evaluasi awal belum diketahui penyebabnya dapat dirawat dirumah sakit. Untuk pasien yang telah didiagnosis pada evaluasi klinis awal, keputusan merawat pasien dirawat dirumah sakit bergantung pada prognosis dari etiologinya yang mendasari sinkop dan/atau perawatan yang dibutuhkan.13

II.10 Prognosis

Sinkop dari setiap etiologi pada pasien dengan kondisi jantung (untuk dibedakan dari sinkop jantung) juga telah ditunjukkan untuk menyiratkan prognosis buruk. Pasien dengan kelas fungsional NYHA III atau IV yang memiliki jenis sinkop memiliki tingkat kematian setinggi 25% dalam waktu 1 tahun. Namun, beberapa pasien melakukannya dengan baik setelah perawatan bedah definitif atau penempatan alat pacu jantung. 14

Sinkop noncardiac tampaknya tidak berpengaruh pada tingkat kematian keseluruhan dan termasuk sinkop karena respon vasovagal, insufisiensi otonom, situasi, dan posisi ortostatik. 14

Sinkop Vasovagal memiliki prognosis seragam yang sangat baik. Kondisi ini tidak meningkatkan angka kematian, dan jarang kambuh. Situasional dan sinkop ortostatik juga memiliki prognosis yang sangat baik. Mereka tidak meningkatkan risiko kematian, namun kambuh memang terjadi dan kadang-kadang menjadi sumber morbiditas yang signifikan dalam hal kualitas hidup dan cedera sekunder. 14

Sinkop etiologi tidak diketahui umumnya memiliki prognosis menguntungkan, dalam 1 tahun menunjukkan kejadian kematian mendadak rendah (2%), kemungkinan 20% dari sinkope berulang, dan tingkat remisi 78%. 14

BAB III

KESIMPULAN

Terminologi sinkop berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kata “syn” dan “koptein” yang berarti memutuskan. Secara medis, definisi dari sinkop adalah kehilangan kesadaran dan kekuatan postural tubuh serta kemampuan untuk berdiri karena pengurangan aliran darah ke otak bersifat sementara. Berkurangnya aliran darah ini terjadi bila tubuh tidak dapat segera mengkompensasi suatu penurunan tekanan darah. Pingsan bisa didahului oleh pusing atau perasaan melayang, terutama pada saat seseorang sedang dalam keadaan berdiri.

Secara garis besar, penyebab pingsan dibagi menjadi dua. Akibat kelainan jantung (cardiac sinkop) dan penyebab bukan kelainan jantung. Pembagian ini sangat penting, karena berhubungan dengan tingkat risiko kematian.

Pertolongan pertama sinkop, baringkan penderita di lantai atau tempat tidur dengan posisi kepala miring. Apabila terjadi di lapangan upacara, carilah tempat yang teduh. Tinggikan tungkainya kurang lebih 20 cm. Longgarkan pakaian yang ketat agar aliran darahnya tak terganggu. Jangan memberikan apa pun lewat mulut apabila penderita belum sadar. Pastikan bahwa jalan napasnya terbuka, napasnya lancar, dan denyut nadinya teraba kuat dan teratur. Setelah ia membaik, sarankan untuk menemui dokter keluarga atau ke ruang gawat darurat rumah sakit terdekat. Tetapi bila dalam waktu 10 menit penderita belum mulai sadar, segeralah panggil ambulan atau dokter.

Pasien yang mengalami sinkop akan mengalami penurunan kualitas hidup.

Prognosis dari sinkop sangat bervariasi tergantung dari diagnosis etiologinya. Individu yang mengalami sinkop termasuk sinkop yang tidak diketahui penyebabnya mempunyai tingkat mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak pernah mengalami episode sinkop. Mortalitas tertinggi disebabkan oleh sinkop cardiac, sedangkan sinkop yang berhubungan dengan persyarafan termasuk hipotensi ortostatik dan sinkop yang berhubungan dengan obat-obatan tidak menunjukan peningkatan angka kematian.

Daftar Pustaka

  1. Hauser, S.L. 2006. Harrison’s Neurology in Clinical Medicine. 2006. San Fransisco : Mcgraw Hill.
  2. Plum and Posner’s. Diagnosis of stupor and coma. Fourth Edition. 2007

3. Anonim, sinkop neurologis. From http://medicastore.com/penyakit/633/Pingsan_sinkop.html.diakses tanggal 21 Mei 2011

4. Anonym, Epidemiologi Sinkop. From: http://www.mentorhealthcare.com/news.php?nID=197&action=detail. Diakses tanggal 19 Mei 2011

  1. Lindsay, K.W., Bone, Ian, & Callander, Robin. 2004. Neurology and Neurosurgey Illustrated 4th edition. Toronto : Churchill Livingstone.
  2. Sidharta, Priguna (2008). Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Jakarta : Dian Rakyat.
  3. Sidharta, Priguna & Mardjono, Mahar. 2006. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat.

8. Anonym, gejala sinkop. From: http://www.seputarkesehataninstitute.com/2010/07/sinkop-pingsan.html. diakses tanggal 23 Mei 2011

9. Anonym, semua tentang sinkop. From: http://afristianismadraga.wordpress.com/2009/12/22/ganguan-kesadaran/. Diakses tanggal 24 Mei 2011

10. Anonym, penyebab pingsan. From: http://majalahkesehatan.com/7-penyebab-pingsan/. Diakses tanggal 21 Mei 2011

  1. Ginsberg, Lionel (2008). Kedaruratan Neurologis. Jakarta : Erlangga.

12. Anonym, penatalaksanaan sinkop. From: http://www.blueclassy.com/kesehatan-pingsan-sinkop.html. diakses tanggal 22 Mei 2011

13. Anonym, Perawatan pingsan. From: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9483298. diakses tanggal 20 Mei 2011

14. Peck, Peggy (2002). Prognosis sinkop. From : http://www.midwestheart.com/resourceseducation/patienteducation/sinkop/neurogenic-and-nonneurogenic-sinkop. diakses 20 Mei 2011

2 komentar:

Powered By Blogger